Tiga Kritik Keras Sidney Jones ke Jokowi soal Ba’asyir

PT.Bestprofit – Pengamat terorisme, Sidney Jones, melontarkan tiga kritik keras atas rencana Presiden Joko Widodo untuk membebaskan narapidana kasus terorisme, Abu Bakar Ba’asyir.

Di awal tulisan kritiknya yang dilansir di laman Lowy Institute pada Selasa (22/1), Jones mengatakan bahwa, “Keputusan Joko Widodo untuk membebaskan Abu Bakar Ba’asyir tidak tepat, patut dipertanyakan, dan tidak layak secara politis.”

Jones kemudian menjabarkan poin pertamanya dengan mengatakan bahwa rencana Jokowi itu memang mungkin tidak langsung meningkatkan risiko serangan teror, tapi bisa memberikan kesempatan bagi Ba’asyir untuk menyebarkan keyakinan jihad dan mempromosikan tindak kekerasan.

“Meski jika ia hanya diam di rumah (yang minim kemungkinannya), Ba’asyir akan tetap memiliki banyak pendukung–yang dapat mencapai hingga tiga generasi kaum ekstremis–dan ini akan memberikan Ba’asyir kesempatan untuk merangsang militansi mereka,” tulis Jones.

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Jones kemudian mempertanyakan alasan Ba’asyir tidak dijadikan tahanan rumah sehingga ia tetap dapat penjagaan ketat dengan larangan untuk memberikan ceramah dan bepergian.

“Ba’asyir memiliki sejarah berbohong untuk mencapai tujuan yang lebih besar dan sudah beberapa kali menyangkal pernyataannya sehingga mustahil untuk mengetahui apa yang sebenarnya ia pikirkan,” katanya.

Kritik kedua Jones dalam tulisan itu adalah menurutnya, rencana Jokowi ini tidak didasari dengan landasan hukum yang jelas.

“Yang pasti bukan grasi, karena Ba’asyir tidak pernah mengajukan grasi. Juga bukan amnesti, karena menyalahi Peraturan Pemerintah No. 99 Tahun 2012 dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, yang menegaskan bahwa pemberian remisi bagi narapidana kejahatan tertentu, termasuk narapidana teroris, harus menyatakan ikrar kesetiaan secara tertulis kepada pemerintah Indonesia,” tulis Jones.

Pengacara Ba’asyir berdalih bahwa syarat tersebut merupakan bagian dari Peraturan Pemerintah, bukan undang-undang, sehingga dapat ditiadakan jika presiden mengintervensi dengan alasan kemanusiaan.

“Tapi mengapa kewajiban untuk mengikrarkan kesetiaan kepada NKRI dikesampingkan hanya karena alasan kemanusiaan? Ini tidak masuk akal,” tulis Jones.

Ketiga, Jones menganggap pemilihan waktu Jokowi untuk mengumumkan rencana ini aneh karena sangat dekat dengan penyelenggaraan pemilihan umum presiden 2019.

“Jika Jokowi dan para penasihatnya tidak ingin membangkitkan spekulasi bahwa semua ini dilakukan hanya untuk agenda-agenda politik, dan untuk menarik kaum konservatif Islam sebelum Pilpres yang akan diadakan April 2019, mengapa mengambil keputusan sekarang? Kondisi kesehatan Ba’asyir tahun lalu, ketika permohonan-permohonan pembebasannya diabaikan Jokowi, sama saja dengan sekarang,” kata Jones.

Jones lantas menyebut bahwa jika ini memang strategi, Jokowi salah besar karena para pendukung Islam

tetap menganggap itu sebagai strategi politik, meski mereka senang dengan rencana tersebut.

“Simpulannya adalah Jokowi terlihat lemah, kalah, dan tidak bijak. Bukan citra yang baik selagi kampanye pemilihan presiden memanas,” tulis Jones.

Dua Kapal Karam di Mediterania, 170 Imigran Diduga Tewas

PT.Bestprofit – Setidaknya 170 orang dikhawatirkan tewas setelah dua kapal imigran dari Libya dan Maroko karam di Laut Mediterania pada pekan lalu, sebagaimana dilaporkan badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR).

“UNHCR sangat terpukul atas laporan yang mengatakan bahwa nasib sekitar 170 orang belum dapat dipastikan apakah meninggal atau hilang dari dua kapal karam di Laut Mediterania,” demikian pernyataan UNHCR dalam situs resminya.

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

UNHCR kemudian menjabarkan bahwa berdasarkan informasi terbaru dari sumber-sumber lembaga swadaya masyarakat, sekitar 53 orang tewas di Laut Albaron, Mediterania barat.

Mereka menyatakan bahwa kapal-kapal penyelamat Maroko dan Spanyol berupaya mencari kapal dan juga orang-orang yang selamat “selama beberapa hari, tapi tidak membuahkan hasil.”

“Satu orang diketahui berhasil diselamatkan oleh kapal nelayan yang lewat setelah terdampar lebih dari 24 jam di laut dan menerima perawatan medis di Maroko,” tulis UNHCR.

Sementara itu, organisasi non-pemerintah Sea Watch menyatakan bahwa hanya tiga orang yang selamat dari kecelakaan dua kapal itu.

“Mereka mengaku meninggalkan Libya dengan menggunakan perahu karet yang berpenumpang 120 orang. Terdapat 117 orang yang diduga tewas atau hilang,” kata kepala Misi Sea Watch, Kim Heaton-Heather.

“Tiga orang pengungsi melaporkan kepada Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) bahwa mereka telah berada di laut tanpa bantuan selama lebih dari tiga jam sebelum pesawat Angkatan Laut Italia datang.”

UNHCR menyatakan “kesedihan mendalam” atas laporan dan menambahkan bahwa mereka belum dapat memastikan secara langsung jumlah korban jiwa.

“Tragedi di Mediterania tidak bisa dibiarkan berlanjut,” kata Filippo Grandi dari UNHCR.

“Kita tidak bisa menutup mata terhadap banyaknya orang yang sekarat di ambang pintu Eropa. Kita harus melakukan segala upaya untuk menyelamatkan nyawa yang terancam di laut.”

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini, menutup pelabuhan negaranya untuk kapal-kapal imigran pada Juni lalu. Pemerintahan negara populis itu juga mengesahkan undang-undang anti-imigran baru.

Pada hari Minggu (20/01), Salvini menulis di Facebook-nya, “Saya tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi kaki tangan bagi penyelundup manusia.”

Dia menambahkan bahwa wali kota dan gubernur “daripada mengecam dugaan pelanggaran terhadap hak imigran ilegal, lebih baik mengurus pekerjaan dan kesejahteraan warga mereka, mengingat bahwa orang Italia lah yang membayar gaji mereka.”

IOM menyatakan jumlah imigran dan pengungsi yang tiba di Eropa tahun lalu mendekati angka 142.000, yang sebagian besar melakukan penyeberangan berbahaya di Laut Mediterania. Badan PBB melaporkan lebih dari 2.200 imigran hilang ataupun meninggal di Mediterania pada 2018.

“UNHCR prihatin tindakan yang dilakukan oleh negara semakin menghalangi LSM untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, dan menyerukan agar kebijakan ini segera dihapuskan,” demikian bunyi pernyataan IOM, Sabtu (19/01).

Mantan Agen CIA Inspirasi Film ‘Argo’ Meninggal Dunia

PT.Bestprofit – Tony Mendez, mantan agen Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) yang kisahnya diabadikan dalam film terbaik Oscar, Argo, meninggal dunia di usia 78 tahun setelah berjuang melawan penyakit Parkinson.

Agen Mendez, Christy Fletcher, mengonfirmasi bahwa kliennya mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (19/1) dan akan dikebumikan di Nevada.

“Hal terakhir yang ia lakukan bersama istrinya, Jonna Mendez, adalah membawa buku terbarunya ke penerbit dan ia meninggal dengan perasaan puas sudah selesai menulis kisah yang ia ingin sampaikan,” demikian pernyataan keluarga Mendez.

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Mendez dikenal sebagai orang yang suka menuangkan gagasan dan ceritanya dalam bentuk tulisan.

Gagasan paling terkenalnya adalah ketika ia menyusun rencana untuk membebaskan enam diplomat yang terperangkap di Iran pada 1979.

Ketika para pejuang revolusi Iran mengambil alih Kedutaan Besar AS di Teheran, para diplomat itu berhasil kabur melalui pintu belakang dan bersembunyi di kantor kedubes Kanada.

Sementara itu, 52 diplomat AS lainnya yang tertangkap di dalam kedubes dibunuh dengan cara keji. Nyawa para diplomat yang berhasil kabur pun terancam jika milisi Iran mengetahui keberadaan mereka.

Di tengah kepanikan ini, Mendez muncul dengan satu gagasan unik yang sempat ditolak mentah-mentah oleh CIA.

Ia mengusulkan pembuatan film palsu bertajuk Argo. Mendez menyamar sebagai kru film asal Kanada yang mengecek lokasi bersama enam rekannya. Keenam rekan itu sebenarnya adalah para diplomat.

Mereka akhirnya berhasil keluar dari Iran menggunakan paspor Kanada palsu pada 27 Januari 1980.

Menteri Luar Negeri AS yang juga mantan bos CIA, Mike Pompeo, menggambarkan Mendez sebagai “seorang petugas intelijen yang bertalenta” dan “pahlawan Amerika yang sejati.”

Aktor yang memerankan Mendez dalam film Argo, Ben Affleck, menyebut agen CIA itu sebagai “pria dengan kebaikan, rahmat, kesopanan, dan kerendahan hati yang luar biasa.”

“Saya sangat bangga dapat bekerja untuknya dan dapat mengisahkan salah satu ceritanya,” tulis Affleck melalui akun Twitter pribadinya.

1 2 3 842