November 2016 archive

Sentimen The Fed tenggelamkan rupiah

Gambar valuta asing menghiasi salah satu sudut tempat penukaran valas PT. Diva Jaya Mandiri Sukses di Jakarta, Sabtu (7/9). Kompas/Priyombodo (PRI) 07-09-2013

PT BestProfit | Sentimen The Fed tenggelamkan rupiah

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – JAKARTA. Akhirnya kurs rupiah kembali menembus angka 13.500. Kemarin, kurs spot rupiah merosot 0,50% menjadi Rp 13.558 per dollar AS. Kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) juga turun 0,50% jadi Rp 13.540 per dollar AS. Analis Riset Treasury Bank Negara Indonesia Nurdiyanto menuturkan, tekanan faktor global, terutama dari Amerika Serikat, masih dominan.

Tekanan menguat karena risalah pertemuan FOMC November 2016 memperkuat indikasi kenaikan suku bunga The Fed di Desember. Hal ini mendukung penguatan posisi dollar AS di hadapan mata uang dunia lainnya termasuk rupiah,” jelas Nurdiyanto. Tambah lagi, menurut Research and Analyst Garuda Berjangka Sri Wahyudi, dari dalam negeri tidak ada data ekonomi terbaru yang bisa jadi kekuatan bagi rupiah untuk bertahan.

Malah spekulasi adanya demonstrasi terus menghantui pasar dalam negeri. Tekanan pada rupiah semakin besar mengingat kebutuhan dollar AS di dalam negeri semakin tinggi jelang akhir bulan. Nurdiyanto pun memprediksi kurs rupiah berpotensi terus melemah. Meski tekanannya akan mengecil, mengingat biasanya di akhir pekan pasca libur nasional, penguatan dollar AS akan sedikit tertahan,” tutur dia.

Sekadar mengingatkan, pada Kamis pasar AS libur merayakan hari Thanksgiving. Celah ini bisa dimanfaatkan rupiah untuk memperbaiki posisi, walau peluang untuk membalikkan keadaan masih sangat kecil. Tapi paling tidak ada sedikit harapan rupiah bisa menguat ke atas level Rp 13.500 per dollar AS.

Nurdiyanto memprediksi hari ini rupiah akan konsolidasi dengan kecenderungan melemah dan bergerak di rentang Rp 13.500-Rp 13.600 per dollar AS. Sementara Wahyudi menganalisis rupiah akan bergerak di antara Rp 13.400-Rp 13.650 per dollar AS.

PT BestProfit

Wall Street mixed pasca rilis notulensi the Fed

Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) shortly after the opening bell in New York City, NY, U.S. November 15, 2016. REUTERS/Lucas Jackson

 

Bestprofit | Wall Street mixed pasca rilis notulensi the Fed

 

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – NEW YORK. Bursa AS ditutup dengan wajah beragam pada transaksi Rabu kemarin. Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,31% menjadi 19.083,18. Saham Caterpillar menjadi saham dengan kenaikan tertinggi dan saham Microsoft merupakan saham dengan penurunan terdalam.

Adapun indeks S&P 500 naik 0,08% menjadi 2.204,72. Sektor industri menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi di antara tujuh sektor lainnya. Sedangkan sektor utiliti menjadi sektor dengan penurunan terendah. Sementara, indeks Nasdaq turun 0,11% dan berakhir di level 5.380,68.

Jumlah saham yang naik dan jumlah saham yang turun hampir seimbang di New York Stock Exchange. Volume transaksi perdagangan tadi malam melibatkan 813 juta saham dan volume transaksi gabungan mencapai 3,345 miliar saham pada penutupan market. Pasar saham ditutup mixed seiring aksi investor menyelami data ekonomi AS, termasuk hasil notulensi pertemuan The Federal Reserve bulan November.

Hasil rangkuman pertemuan tersebut dirilis pada Rabu kemarin sesuai dengan pandangan konsensus terhadap Wall Street di mana the Fed akan segera mendongkrak suku bunga acuannya pada Desember. Bank sentral AS menahan suku bunga acuannya pada awal bulan ini, hanya selang beberapa hari sebelum kandidat Partai Republik Donald Trump memenangkan pemilihan presiden.

Dow Jones Industrial Average melayang di dekat level 19.000, tingkat itu menyentuh level puncak pada hari Selasa untuk pertama kalinya. Russell 2000 Index untuk perusahaan kecil tampak siap untuk menghentikan kemenangan beruntun terpanjang dalam 20 tahun. Tidak ada yang menjadi pijakan saat ini.

Hal ini hanya menegaskan fakta bahwa kelompok minoritas mendorong untuk dilakukannya kenaikan suku bunga. Hal ini cukup mempersiapkan kita menjelang pertemuan kunci dalam beberapa pekan ke depan,” jelas Lundsey Piegza, chief economist Stifel Fixed Income.

PT Bestprofit Futures

Tiga indeks acuan AS toreh rekor baru lagi

Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York City, U.S. November 16, 2016. REUTERS/Brendan McDermid

 

Best Profit | Tiga indeks acuan AS toreh rekor baru lagi

 

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – NEW YORK. Pasar saham AS masih mencetak rekor baru, melanjutkan kenaikan sehari sebelumnya pada transaksi penutupan Selasa. Mengutip data CNBC, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,35% menjadi 19.023,85. Saham Verizon mencatatkan kenaikan terbesar dan saham Visa menjadi saham dengan penurunan terbesar.

Sementara itu, indeks S&P 500 ditutup naik 0,22% menjadi 2202,94. Sektor telekomunikasi memimpin kenaikan sembilan sektor lainnya. Sedangkan dua sektor yang mencatatkan penurunan adalah sektor energi dan kesehatan. Adapun indeks Nasdaq naik 0,33% sehingga berakhir di posisi 5.386,35. Ketiga indeks mencetak posisi tertingginya sepanjang sejarah.

Dalam setiap dua saham yang naik, terdapat satu saham yang tertekan di New York Stock Exchange. Volume transaksi perdagangan melibatkan 899,92 juta saham dan volume transaksi gabungan mencapai 3,878 miliar pada penutupan market. Bursa AS kembali melaju seiring langkah investor mengamati data perumahan dan menanti agenda kebijakan presiden terpilih Donald Trump.

Apa yang kita lihat saat ini adalah perpindahan di sektor-sektor yang berpartisipasi. Sejumlah sektor tidak mengalami parabolik,” jelas Quincy Krosby, market strategist Prudential Financial. Katie Stockton, chief technical strategist BTIG menambahkan, pasar saham bereaksi positif atas rekor S&P 500. “Momentum terbukti cukup kuat untuk menjalani kondisi overbought, sehingga kami rasa cukup baik untuk membeli saat ini,” jelasnya.

Di sisi lain, the Federal Reserve sudah beberapa kali mengindikasikan keinginannya untuk menerapkan normalisasi kebijakan moneter. Dan sepertinya The sudah pasti akan mengerek bunganya pada bulan depan. Berdasarkan data CME Group’s FedWatch tool, ekspektasi market atas kenaikan suku bunga acuan pada Desember melebihi 90%.

PT Bestprofit Futures

1 2 3 4 8