November 2016 archive

Inilah Aktivitas 132 Juta Pengguna Internet Indonesia saat Berselancar di Dunia Maya

inilah

Best Profit | Inilah Aktivitas 132 Juta Pengguna Internet Indonesia saat Berselancar di Dunia Maya

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – Kondisi internet di Indonesia saat ini terus mengalami perbaikan. Mulai dari meningkatnya layanan internet 4G, hingga akses internet yang semakin meluas. Tidak heran kalau saat ini angka pengguna internet di tanah air mengalami peningkatan drastis.

Pada tahun 2014, seperti dikutip dari Detik, pengguna internet Indonesia berada di angka 88 juta orang. Dan, menurut data terbaru yang kini telah dirilis oleh Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII), angka itu mengalami peningkatan ke 132,7 juta pengguna per April 2016.

Lalu, apa saja aktivitas para pengguna internet di Indonesia saat berselancar di dunia maya? Menurut data dari International Data Corporation (IDC), mayoritas pengguna internet Indonesia menggunakan akses internet untuk membuka email, dengan prosentase mencapai 17,8 persen. Berada di tempat kedua adalah akses terhadap berbagai jenis hiburan.

Selanjutnya, para pengguna internet Indonesia juga tercatat getol mengakses jejaring sosial, menelusuri berita, jaringan profesional, serta bermain game online. Sementara itu, sebanyak 13,3 persen pengguna internet Indonesia memiliki kebiasaan untuk berbelanja secara online. Angka ini terbilang cukup minim. Berbagai alasan menjadi penyebab kenapa masyarakat Indonesia enggan berbelanja secara online.

Alasan tersebut beragam. Mulai dari karena foto dan deskripsi barang kurang jelas, tidak bisa melihat barang secara langsung, hingga kekhawatiran menjadi korban penipuan. Di sisi lain, mereka yang berbelanja online mengaku cukup nyaman. Terutama karena bisa belanja secara efektif dan efisien.

Selanjutnya, para pengguna internet Indonesia juga tercatat getol mengakses jejaring sosial, menelusuri berita, jaringan profesional, serta bermain game online. Sementara itu, sebanyak 13,3 persen pengguna internet Indonesia memiliki kebiasaan untuk berbelanja secara online. Angka ini terbilang cukup minim. Berbagai alasan menjadi penyebab kenapa masyarakat Indonesia enggan berbelanja secara online.

PT Bestprofit Futures

Surat utang Rp 4,9 triliun siap masuk pasar

surat

Best Profit | Surat utang Rp 4,9 triliun siap masuk pasar

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – JAKARTA. Di tengah volatilitas pasar, obligasi korporasi baru terus berdatangan. Yang terbaru, ada tiga emiten yang siap menerbitkan obligasi senilai Rp 4,9 triliun. Pertama, PT Bank UOB Indonesia akan menerbitkan obligasi Rp 1,1 triliun. Rinciannya, Obligasi Berkelanjutan I Bank UOB Indonesia Tahap I Tahun 2016 sebesar Rp 1 triliun.

Serta Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Bank UOB Indonesia Tahap I Tahun 2016 senilai Rp 100 miliar. Obligasi Berkelanjutan I ditawarkan dalam tiga seri. Seri A, B dan C masing-masing memberikan kupon 7,2%, 8% dan 8,25% per tahun. Sementara Obligasi Subordinasi Berkelanjutan I Bank UOB Indonesia Tahap I Tahun 2016 ditawarkan dengan kupon tetap 9,4% per tahun.

Kedua, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia alias Protelindo menerbitkan obligasi sebanyak Rp 800 miliar. Obligasi ini dijajakan dalam tiga seri, dengan kupon masing-masing 7,9%, 8,25% dan 8,75% per tahun. Ketiga, PT Angkasa Pura I meluncurkan surat utang total Rp 3 triliun. Rinciannya, Obligasi I Angkasa Pura I Tahun 2016 sebesar Rp 2,5 triliun serta Sukuk Ijarah I angkasa Pura I Tahun 2016 sebanyak Rp 500 miliar.

Obligasi I diterbitkan dalam tiga seri, dengan kupon masing-masing 8,1%, 8,4% dan 8,55%. Sementara sukuk diterbitkan dalam tiga seri dengan kupon 8,1%, 8,4% dan 8,55%. Senior Analyst Pasar Dana Beben Feri Wibowo menilai, obligasi yang ditawarkan Angkasa Pura I bakal laris di pasar sekunder. Sebab, kuponnya cukup menarik, yakni di atas rata-rata yield surat utang negara (SUN) bertenor sama. Apalagi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyematkan rating idAAA bagi obligasi tersebut.

Memperhatikan kondisi fundamental perseroan, surat utang ini menarik,” ujar Beben. Beben memprediksi, bisnis Angkasa Pura I juga berpotensi melonjak. Apalagi bandara yang dikelola perusahaan ini merupakan tujuan wisata, yakni Bandara Internasional Lombok dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.

Wawan Hendrayana, Senior Research & Investment Analyst Infovesta Utama, berpendapat, besaran kupon yang ditawarkan obligasi Protelindo sebenarnya cukup rendah dibandingkan rata-rata surat utang emiten sejenis, meski masih di atas yield SUN bertempo serupa. Ini sebagai kompensasi rating idAAA dari Fitch Ratings yang disematkan pada obligasi Protelindo. “Secara keamanan sudah sangat baik,” terang Wawan.

Investor institusi yang mengutamakan keamanan, seperti manajer investasi, bakal memburu obligasi ini. Beberapa pekan terakhir, yield surat utang dalam negeri terkerek. Tapi yield masih lebih rendah dari tahun lalu,” kata Wawan. Sebagian korporasi diprediksi mempercepat penerbitan obligasi sebelum The Fed menaikkan suku bunga. Tahun ini, penerbitan obligasi korporasi diprediksi mencapai Rp 100 triliun. Akhir tahun ini, Wawan memperkirakan, kupon obligasi korporasi bertenor tiga tahun dengan rating idAAA sebesar 7,5%–8%.

PT Bestprofit Futures

Jelang Natal, bank berpotensi kurangi kepemilikan

jelang

PT BestProfit | Jelang Natal, bank berpotensi kurangi kepemilikan

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – JAKARTA. Kepemilikan bank di surat berharga negara (SBN) terus membengkak. Namun jelang Natal dan Tahun Baru, perbankan diprediksi akan mengurangi kepemilikan SBN karena membutuhkan dana besar. Mengacu data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, per 16 November 2016, SBN yang diakumulasi oleh bank mencapai Rp 449,40 triliun, atau naik 6,98% bila dibandingkan akhir Oktober yang senilai Rp 420,09 triliun.

Sedangkan secara year to date (ytd), angka tersebut sudah naik 27,76%. Sedangkan total SBN yang dapat diperdagangkan mencapai Rp 1.770,95 triliun. Artinya, porsi kepemilikan perbankan di SBN mencapai 25,38% dari total SBN yang dapat diperdagangkan. Analis Indonesia Bond Pricing Agency Nicodimus Anggi Kristiantoro mengatakan, menggemuknya kepemilikan bank di SBN disebabkan oleh membaiknya fundamental ekonomi domestik sejak awal tahun.

Wajar jika bank yang memiliki kelebihan likuiditas menempatkan dananya ke salah satu instrumen yang minim risiko seperti SBN. “Dengan berinvestasi di SBN, bank akan mendapatkan gain tambahan dengan risiko rendah,” terang Nicodimus. Selain itu, Nicodimus juga melihat peningkatan porsi bank juga terdorong oleh meningkatnya transaksi repo antarbank dengan Bank Indonesia (BI). “Lihat saja kepemilikan BI di SBN yang berkurang seiring kenaikan porsi kepemilikan perbankan,” ujar Nicodimus.

Penerapan program pengampunan pajak tahun ini juga membuat likuiditas bank semakin besar, khususnya pada bank-bank persepsi. Beben Feri Wibowo, analis Pasar Dana melihat, dalam jangka panjang, potensi peningkatan kepemilikan bank di SBN masih terbuka lebar, didorong oleh melambatnya pertumbuhan kredit, yang menyebabkan dana menganggur semakin besar.

Tidak mungkin perbankan mengalokasikan uang berlebih tersebut ke instrumen yang risikonya besar, seperti saham,” kata Beben. Tapi beben melihat, kepemilikan SBN oleh perbankan sudah mendekati batas atas. Maka ia memprediksi, kepemilikan perbankan di SBN bisa menyusut sekitar 2%–3% di akhir tahun ini.

Memang, jelang Natal dan Tahun Baru, biasanya perbankan membutuhkan dana besar untuk mengantisipasi permintaan atau penarikan dana nasabah. “Meskipun memang tantangan utamanya datang dari The Fed, terkait dengan kebijakan suku bunga acuan,” kata Beben.

Menurut Beben, faktor fundamental dari dalam negeri yang baik dan kebijakan pemerintah seperti suku bunga rendah dapat meredam sentimen luar negeri yang saat ini kurang mendukung. Prediksinya, yield surat uang negara (SUN) FR0056 di kisaran 5,65%–9,08% akhir tahun ini. Kamis, yield FR0056 senilai 7,71%.

PT Bestprofit Futures

1 2 3 4 5 8