March 2017 archive

Rupiah menanti data inflasi

Warga menunjukkan mata uang rupiah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun emisi 2016 di lokasi penukaran uang di Blok M Square, Jakarta, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia resmi meluncurkan uang NKRI tahun emisi 2016 dengan menampilkan 12 pahlawan nasional yakni 7 uang rupiah kertas dan dan 4 uang rupiah logam. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

 

Bestprofit | Rupiah menanti data inflasi

 

Bestprofit – JAKARTA. Pergerakan rupiah hari ini, Kamis tidak terlalu melebar. Mengutip Bloomberg, mata uang Garuda di pasar spot ditutup melemah tipis 0,02% ke level Rp 13.316 per dollar AS. Vidi Yuliansyah, Analis Monex Investindo Futures menilai, sentimen global cukup mendominasi pergerakan rupiah. Terlebih, Inggris pun sudah mulai menyatakan keluar dari Uni Eropa.

Jadi rupiah relatif bergerak terbatas dengan range yang sempit sehingga ditutup flat pada hari ini,” ujarnya. Di lain sisi, para pelaku pasar masih wait and see terhadap kebijakan Trump yang justru memicu kekhawatiran. Pasalnya, pelaku pasar pesimistis Trump bisa merealisasikan apa yang dikampanyekannya.

Maklum, kebijakan Trump terkait reformasi kesehatan ditolak oleh Kongres. Hal itu sempat menekan dollar dan membuat rupiah menguat. “Tapi pejabat FOMC baru saja mengeluarkan komentar yang mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga acuan. Itu sedikit bisa mengimbangi kekhawatiran pasar,” imbuhnya.

Pasalnya, pelaku pasar pesimistis Trump bisa merealisasikan apa yang dikampanyekannya. Tapi pejabat FOMC baru saja mengeluarkan komentar yang mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga acuan. Itu sedikit bisa mengimbangi kekhawatiran pasar,” imbuhnya.

Vidi memprediksi, besok Jumat, rupiah akan bergerak terbatas di level Rp 13.295 – Rp 13.350. Rilis data inflasi pada pekan depan menentukan arah pergerakan rupiah. “Kalau data inflasi membaik atau di atas ekspektasi pasar, rupiah berpeluang menguat,” katanya.

Bestprofit

Bursa AS mulai bersandar pada earning Q1

Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) shortly after the opening bell in New York, U.S., February 6, 2017. REUTERS/Lucas Jackson

 

Best Profit | Bursa AS mulai bersandar pada earning Q1

 

Best Profit – NEW YORK. Indeks bursa Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu. Indeks Standard & Poor’s 500 menguat ditopang saham-saham sektor energi dan konsumer, sembari investor mulai mencari petunjuk atas kinerja keuangan perusahaan selama kuartal I-2017.

Dow Jones melandai tipis, turun 9 kali dalam 10 hari perdagangan. Nasdaq, meneruskan reli untuk hari keempat. The Dow Jones Industrial Average turun 42, 18 poin, atau 0,2% menjadi 20.659,32. Indeks S&P 500 bertambah 2,56 poin atau 0,11% menjadi 2.361,13. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 22,41 poin atau 0,38% menjadi 5.897,55.

Analis melihat, investor masih menimbang penyebab Presiden Donald Trump gagal mendapatkan suara di parlemen terkait revisi UU Kesehatan. Kegagalan ini diharapkan tidak merembet pada rencana kebijakan Trump lainnya seperti pemangkasan pajak dan paket belanja infrastruktur.

Di sisi lain, pelaku pasar juga tengah mencermati langkah perceraian Inggris dengan Uni Eropa. Menyusul Perdana Menteri Inggris Theresa May menyampaikan surat keluarnya negeri Ratu Elizabeth ke Presiden Dewan Uni Eropa Donald Tusk.

Risiko terkait kebijakan pemerintah naik. Tapi, data ekonomi masih solid, sehingga kinerja keuangan masih akan bagus. Ketidakpastian di bagian kebijakan pemerintah, dan kemungkinan menjadi katalis kita berikutnya, yaitu saat kita mulai melihat kinerja perusahaan,” kata Walter Todd, Chief Investment Officer Greenwood Capital di Greenwood, Carolina Selatan.

Indeks S&P 500 bertambah 2,56 poin atau 0,11% menjadi 2.361,13. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 22,41 poin atau 0,38% menjadi 5.897,55. Sembari investor mulai mencari petunjuk atas kinerja keuangan perusahaan selama kuartal I-2017. Kegagalan ini diharapkan tidak merembet pada rencana kebijakan Trump lainnya seperti pemangkasan pajak dan paket belanja infrastruktur.

Best Profit

Dollar melemah atas yen karena Obama Care eksis

A TV monitor showing U.S. President Donald Trump is seen through national flags of the U.S. and Japan at a foreign exchange trading company in Tokyo, Japan February 1, 2017. Picture taken February 1, 2017. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

 

PT Bestprofit | Dollar melemah atas yen karena Obama Care eksis

 

PT Bestprofit – JAKARTA. Kegagalan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam mengajukan revisi UU Kesehatan untuk mengganti program Obama Care ternyata semakin menyudutkan posisi greenback. Situasi ketidakpastian mendorong yen lebih unggul dibanding dollar AS. Mengutip Bloomberg, Selasa pukul 20.10 WIB pasangan USD/JPY terlihat melemah 0,38% ke level 110,24.

Alwi Assegaff, analis PT Global Kapital Investama Berjangka melihat pelemahan pasangan USD/JPY memang cukup dipengaruhi dari kegagalan pengajuan revisi UU kesehatan. Hal itu membuat investor semakin khawatir akan nasib program-program Obama lainnya. Pasar khawatir rencana reformasi pajak juga akan bernasib serupa,” terangnya kepada KONTAN.

Di tengah kekhawatiran tersebut investor kemudian melirik yen sebagai mata uang lindung nilai. Tanpa sokongan data positif dari Jepang, yen tetap berhasil mengguli greenback. Namun sekitar pukul 17.00 wib, pasangan USD/JPY sempat berbalik arah menguat 0,03% ke level 110,69. Menurut Alwi penguatan sesaat ini terjadi karena aksi profit taking. Investor banyak mengambil untung karena penguatan yen yang sudah terlalu tinggi.

Sekarang ini nasib pasangan USD/JPY bergantung pada hasil indek kepercayaan konsumen AS yang akan rilis Selasa malam. Kalau hasilnya membaik bisa jadi greenback akan kembali unggul. Sejauh ini indeks kepercayaan konsumen AS bulan Maret akan terkoreksi dari 114,8 ke level 113,9.

PT Bestprofit

1 2 3 7