July 2017 archive

Daya beli susut, bagaimana saham ritel

Pemasangan lampu phillips di mall pluit village, gambar dari communication manager phillips lea kartika Phillips Lighting Indonesia Kerjasama dengan Lippo Mall. Foto: KONTAN/Jane Aprilyani

 

PT Bestprofit | Daya beli susut, bagaimana saham ritel

 

PT Bestprofit – JAKARTA. Kinerja emiten sektor ritel tahun ini cenderung melemah. Penyerapan tenaga kerja yang melempem membuat daya beli masyarakat melemah lalu menekan penjualan industri ritel. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, hanya 345.243 orang yang diserap sebagai tenaga kerja pada kuartal II 2017.

Jumlah ini menurun dari periode yang sama di 2016 dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 354.739 orang. Padahal, realisasi penanaman modal pada kuartal kedua lalu naik 12,7% dibandingkan dengan masa yang sama tahun lalu.Secara umum, menurut Arnold Sampeliling, Analis NH Korindo, kinerja emiten sektor ritel agak melemah lantaran penyerapan tenaga kerja menurun.

Jumlah penduduk yang sudah lulus sekolah tapi tidak terserap sebagai tenaga kerja semakin banyak. Mereka pun tidak memiliki penghasilan sehingga tak bisa menunjang daya beli. Emiten sektor ritel sebenarnya berharap mendapat tambahan penjualan saat momentum Lebaran lalu. Tapi, lonjakan penjualan yang terjadi tidak sesuai ekspektasi. Masa Lebaran tahun ini beriringan dekat masa tahun ajaran baru.

Meningkatnya kebutuhan konsumsi yang bersamaan ini menahan belanja masyarakat,” ungkap Arnold. Selain itu, Arnold menyebutkan, penyebab penurunan kinerja sektor ritel adalah cara belanja masyarakat yang kini bergeser, dari belanja bulanan dalam partai besar ke belanja ketika memang butuh atau seperlunya saja. “Pola gaya hidup bergeser, hipermarket tergerus dengan minimarket,” kata Arnold.

Belum lagi, kini pasar makin terbuka. Christine Natasya, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan, sekarang ritel besar tidak hanya bersaing dengan ritel kecil, juga berkompetisi dengan pengecer online yang kini banyak bermunculan. Keterbukaan pasar perdagangan terhadap pesaing pun akhirnya akan semakin mengganggu pemain ritel,” ujar Christine dalam risetnya yang terbit Kamis lalu.

Apalagi, gerai ritel besar belum banyak masuk ke daerah-daerah. Alhasil, Christine melihat, prospek ekonomi digital akan cerah. “Di daerah pedesaan, kehadiran mal masih kurang. Ini menyajikan peluang untuk e-commerce masuk sebagai solusi belanja yang lebih nyaman, tanpa harus jauh-jauh mencari ke mal,” kata Christine. Meski porsi belanja online di Indonesia masih kecil, kini dengan berkembangnya teknologi, Christine percaya, situs belanja punya kesempatan dalam meraih pasar secara luas yang tidak bisa dijangkau ritel konvensional.

Penyebabnya, pertama, konsumen mulai merasa lebih nyaman bertransaksi online, tidak seperti beberapa tahun sebelumnya yang masih banyak kecemasan. Kedua, penetrasi penggunaan smartphone meningkat berkat harga yang lebih murah. Ketiga, aktivitas belanja online didukung dengan peningkatan konektivitas internet yang semakin terjangkau.

Namun, Arnold menyatakan, penggunaan ponsel pintar untuk kemudahan mengakses informasi dan belanja online lebih banyak dilakukan masyarakat di kota besar dibandingkan dengan masyarakat di daerah-daerah. Selain itu, kehadiran e-commerce juga menyebabkan persaingan makin ketat dan berimbas pada harga jual yang makin murah. Dalam situasi ini, tentu akan lebih menguntungkan e-commerce ketimbang pemilik gerai ritel besar.

Untuk menyiasati situasi itu, Christine bilang, banyak perusahaan ritel offline besar juga meluncurkan situs khusus belanja online. Senada dengan Christine, Arnold menuturkan, antisipasi terhadap kehadiran e-commerce membuat banyak peritel membuka kanal belanja online. Ambil contoh, PT Ace Hardware Tbk (ACES) yang memiliki platform online bernama http://www.ruparupa.com, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) tak mau kalah, dengan memiliki toko online http://www.mataharimall.com dan http://www.mataharistore.com. Sementara PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) punya lapak http://www.mapemall.com.

PT Bestprofit

Best Profit

Emas tergerus penguatan dollar AS

Gold bullions are displayed at Degussa shop in Singapore June 16, 2017. Picture taken June 16, 2017. REUTERS/Edgar Su

 

Bestprofit | Emas tergerus penguatan dollar AS

 

Bestprofit – NEW YORK. Harga komoditas emas sempat menyentuh level tertinggi enam pekan, sebelum tergelincir pada akhir perdagangan di Amerika, Kamis. Emas spot mencapai US$ 1.264,99 per ons troi, level tertinggi sejak 15 Juni, sebelum ditutup turun 0,15% ke posisi US$ 1.258,66 di New York.

Sementara, emas untuk pengiriman Agustus di Comex ditutup naik 0,84% menjadi US$ 1.260 per ons troi. Sesi sebelumnya, harga emas berjangka ini terkoreksi sebelum rilis kebijakan The Fed. Di pasar Asia, Jumat pagi, harga emas bergulir tipis ke level US$ 1.259,70 per ons troi.

Koreksi emas pada Kamis malam terjadi seiring rebound dollar AS. The greenback menguat didukung data ekonomi Paman Sam yang solid. Ekspor barang modal utama buatan AS meningkat pada Juni. Ini peningkatan lima bulan berturut-turut.

Penguatan dollar menekan emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut. Sebab, investor yang membeli dalam mata uang lainnya akan mendapatkan harga yang lebih mahal.

Pelaku pasar juga mencerna pernyataan The Fed yang berencana segera mengurangi stimulus. Bank sentral AS tampak kurang percaya diri soal inflasi, namun memberi sinyal akan segera mengurangi kepemilikan obligasi yang besar seiring kepercayaan pada pulihnya ekonomi AS.

Rebound dollar menempatkan sedikit tekanan pada emas hari ini. Kebijakan pembelian kembali obligasi The Fed kemungkinan besar akan berefek, dan kita akan melihat suku bunga mulai naik dan itu bisa memberi sedikit tekanan pada emas dan sedikit dorongan pada indeks dolar,” kata Phillip Streible, Broker komoditas senior di RJO Futures seperti dilansir CNBC, Kamis.

FedWatch CME Group menyebutkan, Kamis, para pedagang melihat 49% kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. “Menimbang bahwa The Fed melihat risiko ekonomi jangka pendek bersifat netral, saya rasa pasar akan memperkirakan kenaikan suku bunga yang ketiga setidaknya di kuartal ini,” kata Mark To, Kepala riset Hong Kong’s Wing Fung Financial Group.

Bestprofit

PT Bestprofit

Wall Street solid, Dow Jones mencetak rekor

Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., July 19, 2017. REUTERS/Brendan McDermid

 

Best Profit | Wall Street solid, Dow Jones mencetak rekor

 

Best Profit – NEW YORK. Bursa Wall Street di Amerika Serikat kompak ditutup menghijau pada perdagangan Rabu. Bahkan, Dow Jones Industrial Average (DJIA) mencetak rekor tertinggi baru menyusul keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan dan rilis kinerja perusahaan menggembirakan.

DJIA ditutup naik 97,58 poin atau 0,45% ke posisi 21.711,01. Ini merupakan level  tertinggi sepanjang masa. Laju indeks Dow Jones terutama disokong penguatan saham Boeing yang sebesar 9,88%. Lalu, S&P 500 ditutup naik 0,70 poin atau 0,03% menjadi 2.477,82, setelah sempat menyentuh level tertinggi di tengah-tengah sesi perdagangan. Adapun, Nasdaq menguat10,57 poin atau 0,16% ke level 6.422,75.

Pasar saham AS merespons hasil pertemuan dua hari Federal Open Market Comittee (FOMC). Ketua The Fed Janet Yellen mengumumkan bahwa bank sentral mempertahankan tingkat suku bunga acuan. The Fed akan menjaga kebijakan moneter tetap stabil. Meski demikian, bank sentral memberi sinyal akan mulai mengurangi program stimulus yang besar “relatif segera” mengingat perekonomian secara luas berkembang seperti yang diantisipasi.

The Fed diperkirakan memulai pengurangan neraca secepatnya pada September. Dengan mengurangi neraca, The Fed secara efektif meruncingkan kurva imbal hasil,” kata David Schiegoleit, Managing director investasi di US Bank Private Client Reserve seperti dilansir CNBC.

Investor pun kembali fokus pada hasil kinerja kuartal perusahaan. Saham Boeing melesat setelah melaporkan laba bersih per saham sebesar US$ 2,55, melampaui perkiraan Wall Street. Coca-Cola dan Ford juga mencatat hasil kuartalan yang lebih baik dari perkiraan.

Sejauh ini, laporan kinerja perusahaan cukup solid. Kim Forrest, analis saham senior di Fort Pitt Capital berharap, perusahaan terus melaporkan hasil kuartalan yang kuat pada musim ini. “Hasilnya menunjukkan ekonomi terus membaik, jadi saya harapkan hasil ini terus berlanjut,” katanya.

Best Profit

Bestprofit

1 2 3 7