January 2018 archive

Rupiah terimbas sentimen positif program Bank of Japan

A bank employee walks near Indonesian rupiah bank notes wrapped in plastic and ready for delivery to the bank's branches at Bank Mandiri's headquarters in Jakarta, Indonesia November 14, 2017. REUTERS/Darren Whiteside

PT Best Profit Futures Pekanbaru Kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih bergerak sideways. Tapi, kali ini mata uang Garuda menunjukkan kecenderungan kenaikan. Kemarin, kurs spot rupiah naik 0,10% menjadi Rp 13.425 per dollar AS. Tetapi kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) masih melemah 0,16% ke level Rp 13.449 per dollar AS.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, rupiah bergerak dengan kecenderungan menguat lantaran dollar AS sedang tertekan. The greenback terkena sentimen negatif setelah Bank of Japan (BoJ) memutuskan mengurangi stimulus. Best Profit Pekanbaru

Jepang menggelar pengetatan moneter dengan mengurangi pembelian obligasi bertenor 10 tahun-25 tahun dan obligasi 25 tahun-40 tahun. Nilai pengurangan masing-masing mencapai ¥ 10 miliar.

Indeks dollar AS kemarin juga melemah. Per pukul 17.30 WIB, indeks dollar AS melemah 0,18% ke level 92,37. “Ini membuat dollar AS mengalami pelemahan,” kata Lukman Leong, Analis Valbury Asia, Tapi ia menilai pelemahan tersebut hanya bersifat teknikal. PT Bestprofit Pekanbaru

Oleh karena itu, para analis melihat kecenderungan rupiah menguat cuma sementara. Lukman memprediksi, jika data inflasi Negeri Paman Sam yang dirilis Jumat masih sesuai perkiraan pasar, maka dollar AS akan kembali naik. Pelaku pasar memprediksi, inflasi AS Desember mencapai 0,1%. Angka ini lebih rendah dari inflasi November yang mencapai 0,4%.

Sedang dari dalam negeri belum ada katalis positif yang cukup kuat menopang pergerakan rupiah. Karena itu, Lukman memperkirakan rupiah hari ini masih turun dan bergerak di kisaran Rp 13.425–Rp 13.450 per dollar AS. Sedangkan menurut hitungan Josua, kurs rupiah ada di kisaran Rp  13.400–Rp 13.470 per dollar AS. Bpf Pekanbaru

Chandra Asri sediakan belanja modal US$ 300 juta

pabrik petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk TPIA anak dari PT Barito Pacific Tbk BRPT

PT Best Profit Futures Pekanbaru PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) akan mempercepat penyelesaian agenda ekspansi. Sejumlah proyek yang sedianya tuntas tahun 2019 akan dipercepat menjadi tahun ini. Itu sebabnya, perusahaan ini menambah belanja modal atau capital expenditure (capex) menjadi US$ 300 juta.

Head of Investor Relations TPIA Harry Tamin menyebutkan, semula TPIA mengalokasikan belanja modal 2018 senilai US$ 240 juta. Dengan demikian, capex tahun ini naik 25% dari estimasi awal. TPIA akan menggunakan belanja modal untuk menuntaskan ekspansi. Misalnya, pembangunan pabrik polietilena dan perluasan pabrik polipropilena. Best Profit Pekanbaru

Proyek lainnya adalah pembangunan pabrik karet sintetis bekerjasama dengan Michelin dan penambahan kapasitas produksi pabrik butadiena. Pabrik tersebut diprediksi beroperasi tahun ini. “Rencananya April tahun ini akan selesai,” ujar Harry kepada Kontan.co.id.

Namun, pabrik karet sintetis itu belum bisa berkontribusi signifikan bagi kinerja TPIA. Selain minimnya porsi TPIA di perusahaan joint venture, pabrik karet tersebut butuh waktu untuk menghasilkan laba maksimal bagi kinerja TPIA. “Meski begitu, setidaknya dengan kehadiran pabrik ini TPIA sudah memiliki captive market untuk produk butadiena kami yang menjadi bahan baku untuk karet sintetis tersebut,” papar Harry. PT Bestprofit Pekanbaru

Selain melanjutkan proyek sebelumnya, TPIA menyiapkan pembangunan kompleks petrokimia kedua. Saat ini, TPIA berada di fase pre-feasibility study di proyek itu. Persiapan ini pun diperkirakan bisa mengerek nilai capex TPIA sepanjang 2018. Namun Harry belum mau merinci dana capex yang dibutuhkan untuk kompleks baru itu.

Sepanjang 2018, Harry memprediksi pertumbuhan kinerja TPIA cenderung flat. Adanya potensi koreksi harga jual produk petrokimia menjadi alasan mengapa pertumbuhan TPIA cenderung mendatar di 2018. “Tetapi kami berusaha meningkatkan volume produksi dengan memastikan operasional pabrik berjalan optimal sehingga tetap bisa meningkatkan penjualan,” ujar dia. Bpf Pekanbaru

Rupiah stabil, emiten farmasi lebih sehat

Sales promotion memilih salah satu produk suplemen herbal saat Pameran niaga industri farmasi dan obat-obatan di Jakarta, Rabu (6/4). Pameran ini menampilkan berbagai pelaku industri farmasi, penyedia bahan baku obat di seluruh Asia dan Asia Tenggara,/pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/06/04/2016.

PT Best Profit Futures Pekanbaru Sejumlah emiten farmasi menyiapkan agenda ekspansi di sepanjang tahun ini. Meski rencana itu dinilai belum bisa mendongkrak kinerja secara signifikan, emiten farmasi masih bisa diuntungkan oleh stabilnya nilai tukar rupiah pada tahun ini.

Emiten farmasi seperti Kimia Farma (KAEF), Kalbe Farma (KLBF), dan Indofarma (INAF) sudah menyiapkan serangkaian agenda di 2018. Rencana tersebut bervariasi antara ekspansi organik maupun ekspansi anorganik. Best Profit Pekanbaru

INAF, misalnya, siap membangun pabrik infus di Makassar senilai Rp 250 miliar. Mereka mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 165 miliar. Sebagian dana capex ini akan digunakan untuk membiayai pembangunan pabrik infus tersebut.

KLBF juga menyiapkan rencana ekspansi untuk tahun ini. “Kami akan tetap ekspansi dalam bentuk produk baru, ekspansi kapasitas produksi serta distribusi,” ujar Presiden Direktur KLBF Vidjongtius kepada KONTAN, kemarin.

Tak ketinggalan, KAEF pun sudah punya rencana ekspansi. Bedanya, KAEF tak hanya fokus mengejar ekspansi organik, juga anorganik. Selain ekspansi organik seperti menambah pabrik dan gerai apotek, KAEF berencana mengakuisisi perusahaan kosmetik, peralatan medis, dan jaringan ritel apotek di Arab Saudi, Al Dawaa. PT Bestprofit Pekanbaru

Walaupun sudah menyiapkan berbagai rencana ekspansi, Analis NH Korindo Joni Wintarja menilai, tahun ini emiten farmasi cenderung tetap tumbuh secara alami. Pasalnya, saat ini belum ada sentimen tertentu, baik positif maupun negatif, yang bisa memengaruhi kinerja emiten farmasi sepanjang 2018.

Meningkatnya anggaran kesehatan pemerintah dari tahun lalu senilai Rp 104,9 triliun menjadi Rp 111 triliun pada tahun ini memang bisa mendorong kinerja emiten farmasi. Meski begitu, Joni melihat, dampak ini tak signifikan dibanding tahun pertama program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diluncurkan.

Namun, ekspektasi pasar terhadap nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) bisa jadi salah satu katalis bagi emiten farmasi. Industri farmasi masih harus mengimpor barang baku untuk produk mereka. “Dengan nilai tukar yang stabil, mereka bisa meminimalkan efek negatif dari risiko kurs yang bisa berdampak positif terhadap kondisi keuangan mereka. Bpf Pekanbaru

Joni pun merekomendasikan saham KLBF sebagai pilihan lantaran memiliki bisnis farmasi yang kuat sekaligus diversifikasi bisnis yang banyak. Rekomendasi Joni: buy KLBF dengan target di level Rp 2.020. Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga saham KLBF ditutup naik 0,86% menjadi Rp 1.760 per saham.

1 3 4 5 6