November 2018 archive

Ukraina Minta Bantuan NATO Hadapi Rusia

Ukraina Minta Bantuan NATO Hadapi RusiaKapal Ukraina di Laut Hitam. (Foto: Reuters/Yevgeny Volokin)

PT.Bestprofit — Presiden Ukraina, Petro Poroshenko meminta anggota NATO, termasuk Jerman, untuk mengirimkan kapal-kapal angkatan laut ke Laut Azov buat mendukung Ukraina menghadapi konflik dengan Rusia.

“Jerman merupakan salah satu sekutu terdekat kami, dan kami berharap negara-negara yang tergabung dalam NATO siap mengirimkan kapal-kapal angkatan laut ke Laut Azov untuk membantu Ukraina dan menyediakan keamanan,” ucap Poroshenko kepada harian Jerman, Bild.

Seperti dilansir AFP pada Kamis (29/11), Presiden Rusia Vladimir Putin membenarkan bahwa Rusia telah merebut tiga kapal Ukraina akhir pekan lalu.

Poroshenko menuduh Putin “tidak menginginkan apapun selain menguasai laut.”

“Kami tidak dapat menerima kebijakan agresif Rusia. Awalnya Krimea, kemudian timur Ukraina, dan sekarang dia menginginkan Laut Azov,” ucap Poroshenko.

“Jerman juga harus bertanya pada negaranya sendiri, Apa yang sanggup dilakukan Putin selanjutnya jika kita tidak menghentikannya?” ucap Poroshenko pada hari di mana Perdana Menteri Ukraina Volodymyr Groysman mengunjungi Berlin.

Rusia telah menembaki dan kemudian menyita tiga kapal Ukraina pada Minggu (25/11), dan menuduh kapal itu masuk secara ilegal ke perairannya di Laut Azov. Hal ini menimbulkan ketegangan antara Rusia dan Ukraina.

Pemimpin NATO, Jens Stotlenberg, pada Senin menuntut Rusia membebaskan kapal dan pelaut Ukraina, dengan memperingatkan bahwa tindakan yang sudah dilakukan memunculkan konsekuensi besar.

Poroshenko juga menyampaikan kepada surat kabar Jerman bahwa Kanselir Jerman, Angela Merkel merupakan teman baik Ukraina.

“Pada 2015, dia sudah menyelamatkan negara kami melalui negosiasinya di Minsk, kami berharap dia akan mendukung kami sekali lagi bersama sekutu kami lainnya,” ucap Poroshenko.

“Putin ingin membawa kembali Kekaisaran Rusia Lama. Krimea, Donbas, dia menginginkan seluruh negeri,” kata Poroshenko lagi.

“Sebagai seorang kaisar Rusia, ketika dia melihat dirinya sendiri, kekaisarannnya tidak dapat berfungsi tanpa Ukraina. Dia melihat kita sebagai koloni,” ucap Poroshenko yang menjabat sejak 2014.

sumber:cnnnews.indonesia

Agen Intelijen Australia Boleh Menggunakan Senjata Ketika Tugas di LN

Agen Intelijen Australia Boleh Menggunakan Senjata Ketika Tugas di LN
PT.Bestprofit –
Petugas intelejen Australia akan diperbolehkan untuk menembak musuh yang mengancam keselamatan mereka ketika sedang terlibat dalam kegiatan di luar negeri.Menurut peraturan yang berlaku saat ini, agen intelejen yang bekerja untuk ASIS (Dinas Mata-mata Australia untuk kegiatan di luar negeri) hanya bisa menggunakan senjata untuk melindungi diri sendiri atau melindungi mereka yang bekerja dalam dinas intelejen.

pilihan redaksi:

http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Hari Kamis (29/11/2018), pemerintahan Australia pimpinan PM Scott Morrison akan mengajukan UU baru ke parlemen yang akan mengizinkan staf ASIS menggunakan ‘senjata untuk alasan yang dibenarkan” dalam misi di luar negeri.

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan bahwa ijin penggunaan senjata ini diperlukan karena petugas ASIS ‘sering terlibat bekerja di lokasi berbahaya, termasuk dalam kondisi seperti perang guna melindungi Australia dan kepentingannya.”

“Dengan dunia yang semakin kompleks, lingkungan operasi ASIS di luar negeri juga semakin kompleks.” kata Senator Payne dalam sebuah pernyataan.

Pemerintah mengatakan UU Dinas Intelejen Australia mengenai penggunaan senjata oleh ASIS tidak mengalami perubahan sejak tahun 2004 meski dinas intelelejen yang ditugaskan di luar negeri banyak ditugaskan dalam misi berbahaya di tempat baru dan keadaan yang tidak diperkirakan 14 tahun sebelumnya.

“Perubahan yang kami usulkan ini akan bisa melindungi sejumlah besar orang, dan menggunakan senjata guna melindungi mereka dalam bahaya.” kata Senator Payne lagi.

Di tahun 2014, ABC melaporkan bahwa seorang tentara komando Australia menodongkan senjata ke arah seorang agen ASIS ketika mereka sedang minum-minum di Afghanistan setahun sebelumnya.sumber:detik.com

Stok Minyak Naik, Harga Minyak Mentah Dunia Merosot

Stok Minyak Naik, Harga Minyak Mentah Dunia Merosot

Stok Minyak Naik, Harga Minyak Mentah Dunia Merosotilustrasi. Foto: REUTERS/Edgar Su/Files

Harga minyak mentah dunia merosot ke bawah US$60 per barel pada perdagangan Rabu (28/11), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh kenaikan stok minyak mentah AS yang terjadi selama sepuluh pekan berturut-turut, di tengah kekhawatiran membanjirnya pasokan minyak global.

Dilansir dari Reuters, Kamis (29/11), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$0,32 atau 0,5 persen menjadi US$59,89 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga Brent sempat tertekan ke level US$59,03 per barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,25 menjadi US$51,31 per barel. Posisi itu naik dari level terendah selama sesi perdagangan berlangsung, US$50,61 per barel.

Harga minyak mentah harian berhasil pulih dari tekanan berkat reli yang terjadi di pasar saham. Kinerja pasar saham menanjak menyusul pernyataan Gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell terkait risiko terhadap perekonomian Negeri Paman Sam yang relatif berimbang. Hal itu menjadi sinyal laju kenaikan suku bunga acuan AS bakal melambat dalan beberapa bulan ke depan.

Selama tiga hari terakhir, investor mulai banyak membeli komoditas minyak yang harganya tengah menurun.

Dalam pidatonya, Powell menyatakan The Fed tidak memiliki alur kebijakan yang telah disusun sebelumnya (pre-set). Hal ini menandakan terkereknya suku bunga acuan bank sentral yang terus terjadi dapat melambat pada beberapa bulan ke depan.

Powell kerap dikritik oleh Presiden AS Donald Trump yang selama beberapa dekade cenderung menyerang kebijakan The Fed.

“Ia (Powell) sekarang menyadari bahwa ia cenderung netral yang menandakan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan di masa depan tidak sebanyak yang diyakini investor. Ini benar-benar merupakan perubahan bahasa dan kabar yang disambut oleh investor,” ujar Direktur Investasi Cresset Wealth Advisors Jack Ablin di Chicago.

Stok minyak mentah AS naik di atas ekspektasi dengan mencatatkan kenaikan 3,6 juta barel pekan lalu menjadi 450 juta barel, tertinggi dalam setahun. Setelah merosot ke level terendah dalam 2 1/2 tahun terakhir pada September 2018 lalu, stok minyak mentah telah terkerek 14 persen dengan kenaikan yang terjadi selama 10 pekan berturut-turut.

Kenaikan stok minyak mentah AS sebagian terjadi akibat masuknya musim perawatan kilang. Namun, produksi minyak juga melesat ke level 11,7 juta barel per hari (bph). Kenaikan stok dan produksi AS menambah kekhawatiran membanjirnya pasokan di pasar global bakal terjadi kembali.

“Sulit untuk mendapatkan faktor penekan harga lebih banyak setelah laporan ini setelah pasar menghilangkan nilainya lebih dari 30 persen selama dua bulan terakhir,” ujar Wakil Kepala Bagian Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, Cinnecticut, AS.


Harga Brent telah merosot lebih dari 30 persen sejak menyentuh level tertingginya, di atas US$86 per barel, di awal Oktober 2018. Investor melepas asetnya akibat khawatir laju pertumbuhan ekonomi dunia bakal melambat pada 2019. Selain itu, harga minyak juga tertekan oleh keputusan AS memberikan pengecualian pemberlakuan sanksi ekspor Iran kepada beberapa negara importir minyak utama Iran.

Anjloknya harga minyak sejak Oktober 2018 seperti terjerembabnya harga minyak pada 2008 silam dan lebih tajam dibandingkan penurunan pada periode 2014-2015. Merosotnya harga minyak telah mendorong Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memangkas produksinya.

Pasar tetap gelisah menanti keputusan OPEC dan sekutunya terkait kebijakan pemangkasan produksi. Keputusan tersebut akan diambil pada pertemuan pada 6 Desember 2018 mendatang di Wina, Austria. Delegasi OPEC mengatakan kepada Reuters produsen minyak utama dunia tengah membicarakan kemungkinan untuk memangkas produksi sebesar 1,4 juta bph, bahkan lebih. Arab Saudi telah menyatakan tidak akan memangkas produksinya sendiri.

Analis broker minyak PVM Stephen Brennock menilai hasil pertemuan OPEC pekan depan masih diliputi ketidakpastian. sumber:detik.com

1 2 3 8