Ada 55 Juta Pekerja, BP Jamsostek Incar Dana Kelola Rp543 T

BP Jamsostek mengincar dana kelolaan Rp543,6 triliun pada akhir tahun ini setelah lembaga itu menorehkan kinerja positif pada 2019.

Dari sisi pekerja, BP Jamsostek memiliki 55,2 juta pekerja atau 60,7 persen dari seluruh pekerja Indonesia. Sementara penambahan pemberi kerja mencapai 681 ribu atau naik 21,6 persen dibandingkan dengan 2018.

Direktur Utama BPJamsostek Agus Susanto pencapaian kepesertaan cukup menantang, namun tak menyurutkan semangat lembaga itu agar seluruh pekerja Indonesia terlindungi.

“Walaupun dinamika kepesertaan cukup tinggi, sepanjang tahun 2019, BP Jamsostek berhasil mengakuisisi 23,6 juta peserta,” kata Agus dalam keterangannya, Sabtu (1/2).

BP Jamsostek juga mendorong kepesertaan pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) dan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) melalui inisiatif Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia), sebuah inovasi perluasan kepesertaan dengan skema keagenan.

Terhitung sejak 2017-2019, Perisai memiliki berkontribusi positif terhadap kepesertaan sebesar 1,1 juta peserta dengan total iuran Rp159,2 miliar yang dilakukan oleh 6.241 Perisai aktif. Selain fokus pada pekerja di dalam negeri, BP Jamsostek juga memberikan perlindungan kepada Pekerja Migran Indonesia.

Kinerja Pengelolaan Dana

BP Jamsostek berhasil membukukan penambahan iuran sebesar Rp73,1 triliun pada akhir 2019. Iuran tersebut ditambah pengelolaan investasi yang berkontribusi pada peningkatan dana kelolaan mencapai Rp431,9 triliun pada akhir Desember 2019.

Lembaga itu juga mencatatkan hasil investasi sebesar Rp29,2 triliun, dengan imbal hasil yang didapat sebesar 7,34 persen atau lebih tinggi dari kinerja IHSG yang mencapai 1,7 persen.

“Untuk alokasi dana investasi, BP Jamsostek menempatkan sebesar 60 persen pada surat utang, 19 persen saham, 11 persen deposito, 9 persen reksadana, dan investasi langsung sebesar 1 persen,” kata Agus.

Agus juga memastikan dana pekerja terjamin keamanannya dan dikelola dengan baik dan hati-hati. Salah satu contoh adalah investasi saham, yang merupakan saham kategori Blue Chip atau LQ45 hingga 98 persen.

Pada 2020, BP Jamsostek menargetkan 23,2 juta peserta baru. Selain itu, lembaga tersebut mengincar penerimaan iuran mencapai Rp87,1 triliun dengan dana kelolaan pada akhir 2020 diproyeksikan mencapai Rp543,6 triliun.

“Kami berharap, di tahun 2020 ini, kondisi pasar global semakin membaik, agar memberikan pengaruh positif pula terhadap ekonomi di Indonesia, dan juga pasar tenaga kerja yang positif agar kondisi sosial ekonomi masyarakat juga meningkat,” katanya.

Sementara itu, BP Jamsostek menyatakan pembayaran klaim pada tahun lalu naik 21,2 persen atau mencapai Rp29,2 triliun.

Rinciannya adalah Jaminan Hari Tua (JHT) Rp26,6 triliun untuk 2,2 juta kasus; Jaminan Kematian (JKM) sebanyak 31,3 ribu kasus senilai Rp858,4 miliar; dan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebanyak 182,8 ribu kasus dengan nilai Rp1,56 triliun.

Selain itu ada pula Jaminan Pensiun (JP) sebanyak 39,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp118,33 miliar.

“Sepanjang 2019, program JKK juga melaksanakan manfaat RTW kepada 901 orang peserta di mana sebanyak 748 orang sudah kembali bekerja”, ujar Agus.

Manfaat Return to Work (RTW) dari program JKK memastikan pekerja yang mengalami cacat sebagian tetap untuk mendapatkan kesempatan untuk bekerja lagi, baik dengan keterampilan baru, ataupun posisi yang baru dimana disabilitas yang diderita tidak mengganggu produktivitas kerja sehari-hari.

Untuk memastikan layanan terbaik bagi peserta, sampai dengan akhir Desember 2019 BP Jamsostek telah bekerjasama dengan 7.254 Pusat Layanan Kecelakaan Kerja (PLKK) dan Pusat Layanan Kembali Bekerja (PLKB) yang tersebar di seluruh Indonesia.

Comments are closed.