Apa Dampak Tutupnya 2 Pabrik Rokok Sampoerna?

Jakarta -PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) berencana menutup dua pabriknya mulai akhir Mei 2014, dampaknya ada 4.900 tenaga kerja kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Selanjutnya bagaimana nasib para tenaga kerja tersebut?Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) Ismanu Sumiran tenaga kerja di industri rokok jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) umumnya adalah tenaga kerja dengan kemampuan khusus dan seringkali tidak memiliki keterampilan lain.“Melinting rokok (membuat SKT) itu kan seperti seni ya. Keterampilannya hanya mereka yang punya. Mereka tidak bisa kalau begitu dipindahkan lalu disuruh produksi rokok yang lain,” ujar Sumiran saat dihubungi detikFinance, Senin (18/5/2014).

Dengan keterampilan yang terbatas, dikhawatirkan tenaga kerja SKT eks pabrik Sampoerna akan sulit meniti hidupnya pasca pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat penutupan pabrik tersebut.

“Karena merek bisanya itu saja, jadi mereka nggak bisa di pindahkan ke sektor yang lain. Karena itu butuh pelatihan skill baru,” tuturnya.

Manajemen PT HM Sampoerna sebelumnya telah mengungkapkan bahwa pihaknya akan memberikan paket pesangon yang diharapkan dapat meringankan beban tenaga kerja pasca pemutusan hubungan kerja terkait rencana penutupan dua pabriknya itu.

Sekretaris Perusahaan Sampoerna Maharani Subandhi mengatakan, bagi tenaga kerja yang terdampak dengan keputusan ini akan mendapatkan paket pesangon yang jumlahnya lebih besar dari yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Undang-Undang Tenaga Kerja No.13 Tahun 2003.

Di samping itu, pihak perusahaan juga akan membayarkan tunjangan hari raya (THR) Idul Fitri untuk tahun 2014 ini.

“Selain paket pesangon dan THR tersebut, kami juga memberikan kesempatan kepada para karyawan di pabrik SKT Jember dan Lumajang untuk mengikuti program pelatihan kewirausahaan, yang diharapkan dapat membantu mereka dalam mendapatkan keahlian baru dan mencari sumber penghasilan lainnya,” ungkap Maharani.

Comments are closed.