Australia Didesak Tiru Prancis Perbolehkan Karyawan Sumbangkan Jatah Cuti

indexJakarta – Seorang ibu yang anaknya didiagnosa menderita leukemia akut mendesak pemerintah Australia meniru aturan hukum di Perancis yang memungkinkan karyawan dermawan menyumbangkan jatah cuti kepada rekan-rekannya yang memiliki anak penderita sakit parah.

Parlemen Perancis bulan lalu mengesahkan aturan tersebut atas inisiatif anggota parlemen dari Loire, Paul Salen pada tahun 2011. Solen terinspirasi dari kisah nyata mengenai itikad baik terhadap seorang ayah yang menerima sumbangan cuti berminggu-minggu dari rekan kerjanya agar bisa selama mungkin menemani anaknya yang sakit parah.

Di bagian dunia lainnya, seorang ibu di New South Wales, Sonja Malcolm berusaha keras mengimbangi kebutuhan bagi anaknya yang tengah berjuang melawan penyakit leukemia akut dengan kebutuhan keuangan keluarganya.

Empat pekan setelah berurusan dengan kabar yang ‘menyeramkan &rsquo kalau nyawa anaknya terancam oleh leukemia, dia harus kembali bekerja.

“Saya bekerja pada program TAFE, saya bekerja penuh waktu namun status saya adalah karyawan casualalias paruh waktu,” katanya.

TAFE adalah institusi pendidikan semacam akademi atau politeknik milik pemerintah yang menyelenggarakan program pendidikan praktis atau kejuruan dengan kualifikasi Certificate (1, 11, III, & IV), Diploma, dan Advanced Diploma.

“Sebagai tenaga paruh waktu, saya tidak bisa mengumpulkan jatah hari libur. Saya hanya mendapat jatah cuti sakit. Dan jika saya tidak bekerja, saya tidak mendapat bayaran,” tambahnya.

Keluarga Sonja Malcolm menerima santunan karir sebesar AUD$114 per dua pekan, namun jumlah itu tidak mencukupi untuk biaya parkir di rumah sakit menemani anaknya.

Malcolm mengatakan dia menerima banyak tawaran cuti dari rekan kerjanya, namun tentu saja tawaran itu tidak bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu ia berharap Australia bisa mengadopsi aturan serupa mengenai donasi cuti yang dibayarkan antar karyawan seperti yang baru diberlakukan di Perancis.

“Beberapa teman saya yang sudah bekerja diinstitusi saya sejak lama, mereka mengatakan saya punya kumpulan jatah cuti berbayar selama berbulan-bulan. Jika diperbolehkan saya tidak keberatan untuk memberikannya kepada kamu,” tuturnya.

“Ini merupakan solusi yang sederhana. Dan sangat masuk akal dan begitulah cara agar sesame karyawan bisa saling membantu,” tambahnya.

“Dan aturan ini sangat mungkin untuk dilakukan di sebuah organisasi, karena tidak ada konsekwensi apapun kecuali masalah administrasi saja,” katanya.

Liam saat ini sudah mendapat keringanan atau remisi namun Malcolm, yang juga merupakan relawan di lembaga donasi The Cure Our Kids Charity, prihatin memikirkan nasib banyak keluarga lain yang mengalami hal serupa dengan dirinya yang masih kesulitan.

Oleh karena itu ia yakin jika Australia memperkenalkan skema yang sama maka sambutannya akan sangat besar.

“Saya kira salah satu hikmah dalam menghadapi situasi yang sulit seperti ini adalah kemampuan orang untuk tergerak hatinya dan melakukan sesuatu demi bisa membantu orang lain,” katanya.

Sangat mungkin diterapkan di Australia

John Dugas, dosen manajemen sumber daya manusia di Universitas Newcastle di New South Wales mengatakan upaya mengundang-undangkan sumbangan cuti antar karyawan merupakan sesuatu yang sangat progresif.

“Banyak sekali perkembangan menarik terjadi di Perancis, untuk mencoba dan mendapatkan keseimbangan kerja-kehidupan yang lebih baik, “katanya.

“Dan kecenderungan yang sama sebenarnya juga terjadi di Australia. Disini dimungkinkan untuk mengganti jatah cuti tahunan dengan uang, dan ini sama kategorinya dengan mendonasikan jatah cuti. Katakan saja seorang pekerja berkata, saya siap melepaskan jatah cuti saya, dan menghadiahkannya kepada kolega saya,” katanya.

Dugas mengatakan skema tersebut memang terkesan murah hati, namun implementasinya harus sangat hati-hati. Salah satunya adalah dengan mendefinisikan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan sakit parah.

Jika berhasil dilaksanakan, Dugas menilai maka kedermawanan pekerja itu tidak tertutup kemungkinan akan ikut memberi manfaat bagi lembaga tempat kerjanya.
;
“Perusahaan berpotensi menuai hal-hal yang sangat positif untuk reputasinya tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu banyak,” katanya

“Sudah pasti perusahaan itu akan mendapati kalau aturan itu adalah hal yang sangat positif bagi reputasi perusahaannya dan tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar,” katanya.

Kementerian Tenaga Kerja sudah dihubungi untuk komentar lanjutan.

Mathys law

Sementara itu di Perancis seorang karyawan bernama Christopher Germain, ketika puteranya yang berusia Sembilan tahun didiagnosa menderita kanker hati, rekan-rekan kerjanya di perusahaan air minum mineral Badoit mengumpulkan sumbangan untuk membantunya.

Namun sumbangan itu sangat sulit dilupakan, tidak hanya sumbangan dalam bentuk uang yang mereka donasikan untuk Germain, tapi atas seijin bos mereka, rekan kerjanya juga ikut menyumbangkan jatah cuti mereka kepada Germain.

Nyawa Mathys akhirnya memang tidak ;tertolong, namun orang tuanya akhirnya mendirikan yayasan ;bernama D’un papillon a une etoile.

Dengan dukungan dari anggota parlemen Perancis, ;Salen, yayasan itu mengkampanyekan perubahan aturan, yang memungkinkan para pekerja di Perancis memberikan jatah cuti mereka kepada orang tua yang anaknya menderita sakit keras.

“Tindakan ini bertujuan untuk memungkinkan orang tua yang memiliki anak yang sedang sakit dan sekarat, untuk memanfaatkan kedermawanan rekan kerjanya, pada saat-saat yang memilukan dalam hidupnya.” tulis pesan di situs yayasan tersebut.

UU Mathys loi ini kemudian disahkan oleh senat Perancis pada 31 April 2014 lalu. ; Orang tua Mathys’ menyambut baik putusan itu dan menilanya sebagai kemenangan atas perjuangan selama 3,5 tahun yang penuh kecemasan dan harapan.

Comments are closed.