Author Archive

Dirut Pertamina Minta Sri Mulyani Evaluasi Pajak Produk Lokal

PT Pertamina (Persero) meminta Kementerian Keuangan mengkaji kembali besaran pajak atas produk dalam negeri. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan permintaan disampaikan karena saat ini pajak atas produk lokal masih terlalu besar.

Dalam menjalankan usaha, perusahaan di dalam negeri masih terkena beban PPN, PPh, distribusi serta bahan baku. Ia mengatakan perlakuan tersebut berbeda dengan produk impor yang hanya terkena satu kali.

Perbedaan perlakuan pajak tersebut kata Nicke telah membuat produk lokal kalah bersaing dengan impor.

“Produk yang diproduksi dalam negeri lebih mahal dari impor, ada banyak hal terkait regulasi mengenai perpajakan. Pembebanan pajak produk lokal jauh lebih tinggi dibanding impor,” ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati seperti dikutip dari Antara, Selasa (21/1).

Selain pajak tinggi, Nicke juga mengatakan dunia usaha dalam negeri saat ini juga masih dibebani bunga perbankan tinggi. Masalah tersebut juga turut mempengaruhi produk lokal sehingga tidak dapat bersaing dengan barang impor.

“Belum lagi terkena bunga yang pinjamannya sangat tinggi,” ucapnya.

Nicke Widyawati mengatakan pihaknya telah menyampaikan usulan ke pemerintah mengenai regulasi yang bertentangan dengan semangat nasional untuk mendorong produk lokal bisa bersaing.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Harjanto mengatakan pihaknya bakal mempelajari kembali aturan-aturan yang menghambat produk lokal tidak bisa bersaing dengan impor.

“Memang ada laporan, ketika membeli bahan baku produksi terkena pajak, setelah barang jadi juga kena pajak, nanti kami lihat bagaimana kami harmonisasi sehingga tidak menjadi beban industri,” katanya.

Ke depan, lanjut dia, pihaknya akan mengawal sejumlah regulasi yang dinilai menghambat produk lokal menjadi kalah bersaing dengan produk impor.

“Regulasi menjadi catatan bagi pemerintah. Semua aturan yang memberatkan seperti ‘double tax’ akan kita cek,” katanya.

Ia menambahkan beberapa pelaku industri, seperti Krakatau Steel di bidang baja juga sudah meminta agar melindungi produk baja lokal dari serangan baja impor yang membanjiri pasar dalam negeri.

“Apapun, yang penting pakai produk dalam negeri,” katanya.

Topan Tino Dekati Fiji, Warga Mulai Dievakuasi

Topan Tino diperkirakan akan menyambangi Fiji pada Jumat (17/1). Topan yang membawa curah hujan dan angin kencang itu secara bertahap bergerak dari Samudra Pasifik utara dan bergerak menuju pulau terbesar kedua di Fiji, Vanua Levu.

Badan Meteorologi Fiji memperkirakan topan Tino akan menyambangi pada Jumat (17/1). Sehari sebelumnya, Kamis (16/1) hujan disertai topan petir terjadi di Kepulauan Solomon dan Vanuatu menjauh ke arah timur.

Hingga Kamis malam waktu setempat, AccuWheater mencatat topan mulai berbelok ke arah tenggara dan terus menguat ketika mendekati Fiji menjadi kategori 2.

Pemerintah mengimbau warga untuk bersiap dievakuasi ke sejumlah titik. Sejumlah aktivitas pun mulai dihentikan sementara.

“Kami sudah memperingatkan warga untuk bersiap-siap, Menteri Pendidikan telah meliburkan sementara sekolah, pusat evakuasi juga sudah dibuka,” ujar Stephen Meke dari Badan Meteorologi kepada Radio New Zealand.

Mengutip AFP, angin berkekuatan 130 kilometer per jam diperkirakan akan berhembus disertai hujan lebat. Daerah dataran rendah diperkirakan akan ditempa banjir bandang.

Intensitas curah hujan pada Jumat diperkirakan mencapai 150-300 mm di sepanjang jalur topan. Sementara curah hujan mencapai 75-150 mm di sejumlah area yang berada di timur Fiji.

Memasuki akhir pekan, topan Tino diperkirakan akan bergerak ke arah Pulau Tonga.

Fiji Airways membatalkan sejumlah jadwal penerbangan menyusul perkiraan ‘serbuan’ topan Tino. Sejumlah penerbangan internasional dan domestik dibatalkan hingga kondisi normal.

Baru-baru ini setelah Natal, Fiji juga diterjang topan tropis Sarai hingga menewaskan dua orang dan lebih dari 2.500 orang mengungsi. Rumah, pohon, hingga pasokan listrik terganggu.

Penguatan Rupiah Diramal Buat Saham Ritel Bergairah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpantau menguat 0,17 persen pada sepekan terakhir. Bahkan, sejak awal tahun hingga Jumat (18/1) mata uang Garuda berhasil terapresiasi 1,71 persen ke level Rp13.645 per dolar AS.

Analis Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengatakan penguatan rupiah terhadap dolar AS ditopang faktor eksternal; penandatanganan kesepakatan dagang fase pertama AS-China. Seperti diketahui, setelah kurang lebih dua tahun bersitegang, AS-China akhirnya meneken kesepakatan damai dagang fase pertama pada Rabu (15/1) lalu.

Salah satu poin kesepakatan dagang adalah AS setuju tidak mengenakan tarif tambahan atas produk China, serta memangkas bea masuk dari 15 persen menjadi 7,5 persen atas produk China senilai US$120. Sementara China sepakat membeli barang dari AS senilai US$200 miliar.

“Dengan ditandatanganinya kesepakatan dagang fase pertama, ini akan meredakan tensi dagang antara AS-China yang mana akan meningkatkan aktivitas para pelaku ekonomi seluruh dunia,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Tak hanya meredakan tensi dua negara, Janson menuturkan kesepakatan dagang memberikan katalis positif bagi harga komoditas dunia. Sebab, pasar menilai kesepakatan dagang AS-China memberikan kepastian bagi perdagangan global.

“Ini membuat harga komoditas dunia juga naik yang tentunya meningkatkan prospek pertumbuhan produk Domestik Bruto (PDB) global khususnya emerging market (pasar negara berkembang) termasuk Indonesia,” ujarnya.

Sentimen positif penguatan rupiah turut memberikan angin segar bagi pasar modal. Seiring penguatan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turut naik 0,27 persen minggu lalu.

Bagi emiten di pasar modal, kata Janson, penguatan rupiah membawa berkah untuk saham perusahaan di sektor ritel khususnya yang berkecimpung di bidang impor. Maklum saja, penguatan rupiah terhadap dolar AS akan mengurangi biaya operasional emiten tersebut.

Ia merekomendasikan saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) untuk dikoleksi di tengah sentimen penguatan mata uang Garuda.

“Penguatan rupiah memberikan benefit (manfaat) untuk pemain ritel,”ucapnya.

Pekan lalu, saham Ace Hardware menguat 8,36 persen ke level Rp1.620 per saham. Tetapi, saham Mitra Adiperkasa masih melempem 4,59 persen di posisi Rp1.040 per saham. Janson memprediksi dua saham tersebut berpotensi naik jika penguatan rupiah terus berlanjut, sehingga saat ini adalah momentum tepat bagi pelaku pasar untuk mulai membeli saham Ace Hardware dan Mitra Adiperkasa.

Pada kuartal III 2019, Ace Hardware mencatat kenaikan penjualan 15,69 persen dari Rp5,16 triliun menjadi Rp5,97 triliun. Kenaikan penjualan ini membuat laba perseroan tumbuhan 4,27 persen dari Rp697,37 miliar menjadi Rp727,16 miliar.

Di sisi lain, Mitra Adiperkasa mengantongi penjualan 11,44 persen dari Rp13,82 triliun menjadi Rp 15,4 triliun. Pertumbuhan pendapatan perseroan menunjang kenaikan laba 15,27 persen dari Rp557,67 miliar menjadi Rp642,84 miliar.

Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo menambahkan sektor pertambangan diramal juga meraup untung dari penguatan rupiah. Ia merekomendasikan beli untuk saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

“Salah satu alat transaksi dari sektor pertambangan adalah dolar AS, karenanya dengan penguatan rupiah terhadap dolar AS, maka pergerakan saham pertambangan menjadi unggulan,” tuturnya.

Ia memperkirakan keperkasaan rupiah masih akan berlanjut hingga pertengahan tahun. Kondisi ini akan ditopang faktor eksternal kesepakatan dagang AS-China.

Selain itu, ia bilang laju rupiah bakal ditopang January Effect. Itu, merupakan efek penyusunan ulang portofolio oleh manajer investasi sehingga mengakibatkan likuiditas di pasar keuangan bertambah. Karenanya, ia meramal rupiah bisa menembus level Rp13.500-Rp13.600 per dolar AS dalam jangka menengah.

“Tingginya likuiditas itu menyebabkan rupiah masih digemari seiring dengan sentimen kesepakatan dagang AS-China,” imbuhnya.

Selama rupiah menguat, lanjut dia, maka saham sektor pertambangan diyakini berpeluang menguat. Kenaikan sektor ini, juga ditopang prediksi kenaikan harga komoditas pasca terbitnya kesepakatan dagang fase pertama AS-China.

Ia memprediksi saham Aneka Tambang mampu mencapai level Rp869-Rp890 per saham. Pada penutupan pekan lalu, saham dengan kode ANTM itu terpantau melemah 0,59 persen ke Rp840 per saham.

Sementara itu, saham Timah dipercaya melaju ke level Rp910-Rp932 per saham di tengah penguatan rupiah. Pada penutupan pekan lalu, saham dengan kode TINS itu terpantau stagnan di level Rp880 per saham.

Terakhir, saham perusahaan perusahaan tambang Bukit Asam diperkirakan bisa mencapai posisi Rp2.763- Rp2.830 per saham. Pada penutupan pekan lalu, saham emiten tambang pelat merah itu mengalami koreksi 0,37 persen ke level Rp2.670 per saham

1 2 3 4 5 955