Beban Berat Milenial di Balik Resesi yang Intai Ekonomi RI

Resesi ekonomi Indonesia benar-benar sudah di depan mata. Masyarakat hanya tinggal menunggu pengumuman resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 beberapa jam lagi.

Hampir semua pihak meyakini Indonesia akan masuk ke jurang resesi pada kuartal III 2020. Presiden Joko Widodo (Jokowi) misalnya, memprediksi pertumbuhan ekonomi kembali minus lebih dari 3 persen pada periode Juli-September 2020.

Lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi ekonomi Indonesia minus 1 persen-2,9 persen pada kuartal III 2020. Menurutnya, ekonomi domestik akan minus sampai akhir tahun.

Sebagai informasi, suatu negara bisa disebut mengalami resesi jika ekonominya minus dua kuartal berturut-turut. Ekonomi Indonesia sudah minus 5,32 persen pada kuartal II 2020.

Ketika resesi terjadi, sebagian besar masyarakat akan terkena imbasnya, termasuk generasi milenial. Bisa-bisa ini menjadi tahun terberat bagi mereka.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan resesi terjadi setelah ekonomi jatuh hingga terkontraksi dalam dua kuartal berturut-turut. Saat ekonomi memburuk, maka permintaan produk barang dan jasa berpotensi berkurang.

Aktivitas ekonomi akan jauh melambat dibandingkan saat non resesi. Daya beli masyarakat juga akan tertekan.

Alhasil, dunia usaha juga akan terganggu. Pendapatan perusahaan akan anjlok karena barang dan jasa yang ditawarkan tak laku di pasaran.

Ujung-ujungnya, perusahaan akan melakukan efisiensi untuk menjaga arus kas. Pemutusan hubungan kerja (PHK) biasanya menjadi salah satu cara perusahaan menekan biaya operasional.

Selain itu, lapangan pekerjaan akan menurun drastis. Banyak perusahaan yang merampingkan jumlah karyawannya.

“Ketika pertumbuhan ekonomi tidak sebesar 5 persen, maka akan berpengaruh pada penciptaan lapangan pekerjaan. Ini akan membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat, khususnya di generasi milenial,” ungkap Yusuf

Kamis (4/11).

 

 

Bahkan, generasi milenial akan lebih banyak bersaing dengan generasi yang lebih tua dalam mencari pekerjaan. Sebab, banyak tenaga kerja yang terkena PHK di masa pandemi covid-19.

Dengan demikian, mereka yang menjadi korban PHK akan mencari pekerjaan baru. Bursa pencarian kerja pun akan semakin sengit.

“Dampak yang paling terasa adalah persaingan semakin ketat, semakin sulit dapat pekerjaan,” tutur Yusuf.

Sependapat, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan banyak generasi milenial yang juga menjadi korban PHK. Hal ini terjadi di banyak sektor, termasuk perusahaan rintisan (startup).

Kemudian, milenial yang baru lulus kuliah akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Persaingan akan semakin sengit karena jumlah pelamar melonjak di tengah minimnya lowongan pekerjaan.

“Situasi ini akan menjadikan angka pengangguran usia remaja naik tinggi,” tutur Bhima.

Menurut Bhima, generasi milenial adalah masyarakat yang rentang usianya 18-35 tahun. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2019, jumlah penduduk berusia 15-19 tahun berjumlah 22,29 juta, berusia 20-24 tahun berjumlah 21,91 juta, berusia 25-29 tahun berjumlah 21,22 juta, berusia 30-34 tahun berjumlah 20,58 juta, dan berusia 35-39 tahun berjumlah 20,26 juta.

Sementara, BPS mencatat jumlah iklan lowongan pekerjaan semakin turun sejak Januari hingga April 2020. Rinciannya, iklan lowongan kerja sektor informasi dan komunikasi turun dari 1.959 menjadi 1.184, jasa perusahaan turun dari 1.825 menjadi 563, jasa keuangan dan asuransi turun dari 1.788 menjadi 1.134, serta industri pengolahan turun dari 1.617 menjadi 613.

Kemudian, iklan lowongan sektor perdagangan turun dari 1.123 menjadi 494, jasa kesehatan dan kegiatan sosial turun dari 474 menjadi 365, jasa pendidikan turun dari 465 menjadi 143, serta akomodasi makan dan minum turun dari 455 menjadi 138.

Jumlah pengangguran per Februari 2020 tercatat naik 0,06 juta menjadi 6,88 juta orang. Namun, jumlah angkatan kerja juga naik 1,73 juta orang menjadi 137,91 juta orang dan orang yang bekerja naik 1,67 juta orang menjadi 131,03 juta orang.

Sementara, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari 5,01 persen menjadi 4,99 persen pada Februari 2020. Ini berarti, meski jumlah pengangguran naik, tapi jumlah pekerja yang mendapatkan pekerjaan juga jauh lebih besar.

Sulit Punya Rumah

Bukan cuma soal pekerjaan. Bhima memandang kaum milenial juga mudah jatuh miskin di masa pandemi covid-19 seperti sekarang.

“Milenial rentan jatuh miskin karena kondisi keuangannya tidak sekuat generasi X dan baby boommer,” kata Bhima.

Alhasil, mereka akan semakin sulit punya rumah sendiri. Ujung-ujungnya, generasi milenial tetap tinggal bersama orang tua atau memperpanjang kontrak rumah.

“Bagaimana mau beli rumah pakai kredit pemilikan rumah (KPR) kalau pendapatan saja turun drastis,” jelas Bhima.

Sementara, Yusuf menilai kesulitan generasi milenial untuk membeli rumah sebenarnya telah terjadi sejak sebelum pandemi covid-19. Sebab, kenaikan harga rumah tak sebanding dengan peningkatan gaji di perusahaan.

“Apalagi bicara mengenai milenial yang tidak mendapatkan pekerjaan di masa pandemi, angkatan kerja baru ini yang akhirnya menambah masalah kaum milenial,” ujar Yusuf.

Menurut dia, masalah angkatan kerja baru akan lebih kompleks. Sebelumnya, generasi milenial tak mampu beli rumah karena kenaikan harga hunian lebih besar ketimbang gaji.

Kini, kaum milenial yang baru lulus kuliah juga kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Di samping itu, banyak perusahaan yang memotong gaji karyawan demi efisiensi di masa pandemi.

Kalau sudah begini, jangankan untuk beli rumah, berpikir bagaimana caranya bertahan hidup saja mereka sudah ‘ngos-ngosan’. Tak ayal, membeli rumah bisa jadi hanya angan-angan belaka.

“Jadi masalahnya (kaum milenial) lebih kompleks,” imbuh Yusuf.

Jadi Wiraswasta

Masalah untuk generasi milenial memang rumit. Namun, bukan berarti mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Di tengah kondisi mendesak seperti ini, Bhima memandang generasi milenial harus kreatif. Mereka harus menangkap peluang bisnis di masa pandemi covid-19.

“Misalnya sempat ramai tren sepeda, nah ada pengusaha yang kebanjiran order aksesoris dan pakaian untuk bersepeda,” kata Bhima.

Selain sepeda, peluang bisnis yang sedang tren adalah tanaman. Pasalnya, banyak warga yang mengoleksi tanaman hias semenjak kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) diberlakukan oleh banyak perusahaan di tengah pandemi.

“Kuncinya adalah mengatur keuangan, kreatif baca peluang,” imbuh Bhima.

Namun, pemerintah juga perlu memberikan dukungan bagi anak muda yang ingin menjadi wirausaha. Menurut Bhima, pemerintah bisa memberikan bunga kredit murah bagi milenial yang baru membangun usahanya.

“Kemudian perizinan startup jangan terlalu rumit. Kalau bisa sistem satu pintu, urusan beres,” tutup Bhima.

1Pingbacks & Trackbacks on Beban Berat Milenial di Balik Resesi yang Intai Ekonomi RI