Menilik efek pemilu AS bagi komoditas

An employee takes granules of 99.99 percent pure gold before packing them at the Krastsvetmet non-ferrous metals plant, one of the world's largest producers in the precious metals industry, in the Siberian city of Krasnoyarsk, Russia October 24, 2016. Picture taken October 24, 2016. REUTERS/Ilya Naymushin

 

Best Profit | Menilik efek pemilu AS bagi komoditas

 

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – JAKARTA. Kegelisahan pasar terhadap pemilu Presiden Amerika Serikat (AS) sudah terasa di pasar komoditas sejak awal Oktober 2016. Fluktuasi harga mengiringi beragam skenario yang bakal terjadi jika salah satu calon presiden menang. Bagi komoditas utama seperti emas dan minyak, skenarionya jelas.

Jika Hillary Clinton menang pemilu maka harga bisa terpuruk lebih dalam. Jika sebaliknya, harga berpeluang melambung. Menurut Alwy Assegaf, analis SoeGee Futures, efek terbesar dirasakan oleh emas. Komoditas logam mulia ini paling rentan terhadap fluktuasi dollar AS dan keadaan global.

Selasa pukul 18.13 WIB, harga emas kontrak pengiriman Desember di Commodity Exchange naik 0,42% dari hari sebelumnya. Tapi sejak akhir September 2016 harga emas terkoreksi 2,45%. Akibat ketidakpastian pilpres AS, harga emas tidak mampu mempertahankan posisinya di atas US$ 1.300 per ons troi,” ujar Alwy.

Hitungan Alwy, jika Clinton menang, maka harga emas bisa terkikis ke US$ 1.200–US$ 1.241 per ons troi. Pasalnya, kemenangan Hillary bisa menopang penguatan dollar AS dan menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed. Jika sebaliknya Trump yang menang, maka harga emas bisa terbang ke US$ 1.375–US$ 1.400 per ons troi.

Sebab, bursa saham dan dollar AS akan roboh, tapi aset safe haven seperti emas akan jadi primadona.Seperti yang kita ketahui, pelaku pasar tidak suka bila Trump menang,” imbuh Alwy. Kondisi tidak jauh berbeda juga terlihat dari komoditas utama, lainnya yakni minyak.

Hingga pukul 18.13 WIB harga minyak dunia jenis WTI kontrak pengiriman Desember 2016 di New York Mercantile Exchange naik tipis 0,25% ke US$ 45,00 per barel dari hari sebelumnya. Namun sejak akhir September 2016, harga terpangkas 3,96%.

Nizar Hilmy, analis SoeGee Futures, mengingatkan potensi bangkitnya harga minyak masih dibayangi pertemuan OPEC yang akan membahas pemangkasan produksi akhir November ini. Kondisi berbeda bisa terjadi pada komoditas logam industri seperti tembaga dan timah. Kedua komoditas yang dipandang sebagai aset berisiko ini malah menguat jika Hillary menjadi Presiden AS. Maklum, meski dollar AS unggul, tapi pasar akan kembali pada fundamental.

Nah, fundamental tembaga dan timah masih solid. Tapi jika Trump yang menang, logam industri akan ditinggalkan. Direktur Garuda Berjangka Ibrahim memprediksi, jika Hillary menang, harga tembaga bisa terbang ke US$ 6.000 per metrik ton. Sementara jika Trump yang jadi penghuni baru Gedung Putih, harga bisa turun ke US$ 4.300 per metrik ton.

Untuk timah, Andri Hardianto, Research and Analyst Asia Tradepoint Futures, melihat, apabila Trump menang harga akan koreksi menjadi US$ 21.200–US$ 21.300 per metrik ton. Sedang jika Hillary yang menang, harga bisa terbang ke US$ 22.500 per metrik ton. Imbas dari pilpres AS hanya sementara, setelah itu pasar akan kembali ke fundamental. Sampai akhir 2016 sentimennya masih positif bagi timah,” ungkap Andri.

PT Bestprofit Futures

Comments are closed.