Tahun depan, prospek bank bakal lebih cerah

Nasabah bertransaksi di salah satu kantor cabang Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (4/10). Bank Mandiri menargetkan dapat menyalurkan pertumbuhan kredit sebesar 10%-12% pada akhir tahun ini, yang terutama ditopang oleh pembiayaan di segmen corporate banking dan consumer banking. Pada Juni 2016 lalu, perseroan mengucurkan kredit sebesar Rp610,9 triliun, naik 10,5% secara yoy. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/04/10/2016

 

Best Profit | Tahun depan, prospek bank bakal lebih cerah

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – JAKARTA. Sebagian emiten perbankan mulai merilis kinerja di kuartal III-2016. Meski kinerjanya masih melambat, para analis menilai kinerja emiten perbankan sudah sesuai ekspektasi dan akan membaik pada 2017. Emiten bank pelat merah yang sudah merilis kinerja antara lain Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Tabungan Negara (BBTN), Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI).

Laba bersih BBRI naik tipis 1,84% year-on-year (yoy) menjadi Rp 18,62 triliun. Kemudian bank spesialis kredit properti, BBTN berhasil meraih pertumbuhan laba tinggi, hingga 32,6% (yoy) menjadi Rp 1,6 triliun. Namun, kinerja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) masih melorot. Ini karena rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) masih tinggi.

Laba bersih BMRI turun 17,6% (yoy) menjadi Rp 12,01 triliun per September 2016 dibandingkan September 2015 senilai Rp 14,58 triliun. Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menilai, salah satu bank yang kinerjanya di atas ekspektasi adalah BBTN. Selain memiliki pertumbuhan kredit cukup bagus, net interest margin (NIM) BBTN juga masih stabil.

Pertumbuhan kredit bank masih melambat, namun BBTN cukup stabil dari sisi penyaluran kredit,” ujar Aditya. Pelambatan kinerja emiten bank masih banyak dirasakan bank BUKU 4. Menurut Aditya, kebutuhan biaya dari kredit dan operasional bank BUKU 4 lumayan besar. Sehingga kinerja bank jumbo terlihat lebih flat dibandingkan perbankan dengan skala yang lebih kecil.

Keleluasaan ekuitas justru lebih banyak dinikmati bank BUKU 3. Secara umum, NIM perbankan dinilai masih cukup stabil. Aditya bilang, lesunya kinerja emiten bank tak lepas dari pelambatan ekonomi dalam negeri. Meski tumbuh melambat, perbankan sudah mulai bisa menurunkan risiko kredit macet,” imbuh dia.

Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo juga mengatakan, kinerja emiten perbankan masih sesuai ekspektasi. Ia yakin, emiten perbankan bisa menggenjot kinerja pada tahun depan, seiring membaiknya makro ekonomi dalam negeri. BMRI misalnya, masih berharap likuiditas dari dana repatriasi program amnesti pajak di akhir 2016 dan awal 2017. Secara fundamental, yang akan mendorong emiten bank adalah angka sebaran kredit. Transaksi ritel dan kredit mikro mungkin tumbuh lebih baik di tahun depan,” kata Lucky.

Sehingga, ia yakin bank segmen mikro dan korporasi, seperti BBRI dan BMRI, bisa bangkit lagi. Aditya mengatakan, peluang kenaikan saham perbankan masih cukup besar. Kisaran price to book value (PBV) emiten bank juga belum terlalu mahal. Menurut dia, PBV bank BUKU 4 sudah di atas 1 kali. Namun, bank BUKU 3 masih berada di bawah 1 kali. Dengan prospek kenaikan laba bersih di tahun depan, valuasi saham emiten bank terlihat makin menarik. “Valuasinya akan lebih murah jika earning naik,” ujar Aditya.

Meski bank BUKU 4 memiliki pertumbuhan yang lebih terbatas, ia yakin ada peningkatan pertumbuhan kredit. Aditya memprediksi, pertumbuhan kredit bank BUKU 4 bisa di atas 10% pada tahun depan, lebih tinggi daripada proyeksi tahun ini 8%-9%. Lalu, pertumbuhan kredit bank BUKU 3 bisa sekitar 14%.

Kredit korporasi masih akan bertumbuh dan bakal masuk proyek infrastruktur. Sehingga, perbankan dengan sektor korporasi yang besar seperti BMRI dan BBCA akan mendapatkan margin yang lebih stabil. “BBRI juga masih akan kuat di sektor mikro karena program pemerintah akan mendorong industri kecil,” imbuh Aditya.

Dia menjagokan saham BBTN dengan rekomendasi beli. Aditya mematok target harga BBTN di tahun 2017 sebesar Rp 2.500 per saham, dengan potential upside 29%. Ia juga merekomendasikan akumulasi beli BBNI dengan target harga Rp 6.050 per saham. Adapun Lucky merekomendasikan beli saham BMRI dan BBRI dengan target harga 2016 masing-masing Rp 11.950 per saham dan Rp 13.700 per saham.

PT Bestprofit Futures

Comments are closed.