Tower Bersama Infrastruktur akan menambah 1.000 menara baru

Presiden Direktur PT Tower Bersama Infrastruktur Herman Setya Budi (kanan) dan direksi memberikan paparan saat RUPS di Jakarta, Rabu (11/5). Dalam RUPS disepakati PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk membagikan deviden tunai sebesar Rp 262 miliar pada 9 Juni mendatang dan pada tahun ini Tower bersama akan ekspansi 2000 hingga 2500 menara telekomunikasi./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/11/05/2015.

PT BESTPROFIT PT Tower Bersama Infrastruktur Tbk (TBIG) terus menancapkan taji bisnisnya di pelosok Indonesia. Tahun ini, emiten pengelola menara ini menargetkan bisa memperoleh 2.500 tenant baru. Demi mendukung target tersebut, manajemen TBIG ingin membangun sekitar 1.000 menara hingga akhir 2018.

Target ini lebih rendah dibanding realisasi pembangunan menara tahun lalu. Hingga akhir 2017, TBIG berhasil membangun 1.200 menara.Tahun ini, TBIG menyiapkan investasi senilai Rp 1 triliun. “Perinciannya adalah, sebesar Rp 1 miliar untuk kebutuhan satu menara,” ujar Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman Santoso. BEST PROFIT

Dia mengungkapkan, sebanyak 80% menara akan dibangun di luar Jawa. Per akhir kuartal III-2017, TBIG sudah memiliki 13.500 menara. Dari jumlah itu, sebanyak 80% menara TBIG berada di luar Jawa. Sekitar 50% dari total menara TBIG disewa oleh PT Telkomsel, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Sementara itu, jumlah tenant hingga akhir tahun lalu mencapai 23.000 tenant.

Hingga kini, TBIG belum berniat menggelar ekspansi anorganik, berupa akuisisi perusahaan menara. Manajemen bilang, TBIG saat ini lebih fokus untuk melakukan ekspansi dengan memaksimalkan sumber daya internal. “Kami berfokus pada pertumbuhan organik terlebih dahulu,” tutur Helmy. BESTPROFIT

Meski demikian, dia mengemukakan, jika ada peluang, TBIG akan senantiasa membuka ruang untuk melaksanakan akuisisi. TBIG sudah mempersiapkan pendanaan yang cukup untuk kebutuhan akuisisi. Hanya saja, Helmy tak mau menyebutkan berapa nilai pendanaan yang disiapkan.

Yang pasti, untuk kebutuhan pendanaan tersebut, TBIG kemungkinan akan menggunakan dana internal dan pinjaman perbankan. Terkait pendanaan eksternal tersebut, sejatinya TBIG masih memiliki dana pinjaman US$ 200 juta yang belum ditarik dari sindikasi 11 perbankan.

Pada tahun ini, TBIG mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) berkisar Rp 1 triliun–Rp 2 triliun. Kelak, dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan menara. Belanja modal ini diperoleh dari kas internal dan pinjaman bank.

Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere menyebut, TBIG merupakan emiten yang layak dipertimbangkan. Apalagi, margin laba usaha TBIG sebesar 80%. Selain itu, margin laba bersihnya cukup bagus, yakni sebesar 30%. “Bisnis TBIG sangat bagus. Selama perusahaan telekomunikasi masih memerlukan jasanya, pasti akan bagus sekali untuk TBIG,” ungkap dia. PT BESTPROFIT FUTURES

Memang price earning ratio (PER) emiten ini sudah mencapai 22 kali. Tapi, menurut Nico, saham TBIG masih bisa dipertimbangkan karena memiliki pertumbuhan yang sangat cepat. Jadi tidak masalah apabila PER TBIG cukup tinggi. Saat ini, Nico merekomendasikan buy saham TBIG dengan target Rp 7.000 per saham. Target tersebut lebih tinggi 19,66% dibandingkan harga saham TBIG pada penutupan kemarin di posisi Rp 5.850 per saham.

Comments are closed.