Asia mulai kurangi permintaan batubara

A general view shows a Soviet-made rotary dredge with the productivity rate of 5,250 tons of processed coal a day during operations at the Beryozovsky opencast colliery, owned by the Siberian Coal Energy Company (SUEK), near the Siberian town of Sharypovo in Krasnoyarsk region, Russia, May 23, 2017. Picture taken May 23, 2017. REUTERS/Ilya Naymushin

 

Bestprofit | Asia mulai kurangi permintaan batubara

 

Bestprofit – JAKARTA. Harga batubara terancam oleh peningkatan konsumsi energi terbarukan di Asia. Pada perdagangan Jumat, harga batubara kontrak pengiriman Juni 2017 di ICE Futures Exchange terkikis 0,2% ke US$ 73,85 per metrik ton. Dalam sepekan, harganya tergerus 0,81%.

Maklum, batubara masih diliputi sentimen negatif. Penggunaan batubara di China dan negara Asia lain mulai tergantikan oleh energi lain. Padahal, produksinya belum menunjukkan sinyal turun. “Sejauh ini, batubara hanya berharap pada kebijakan Pemerintah China untuk mengurangi produksi,” kata Wahyu Tribowo Laksono, Analis PT Central Capital Futures.

Konsumsi Asia jadi harapan bagi harga batubara. Kini, beberapa negara berusaha menekan penggunaan si hitam. Contohnya, India yang membatalkan rencana pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batubara dengan kapasitas 13,7 gigawatt. Negeri Gangga memilih mendongkrak kapasitas pemakaian energi tenaga surya lantaran harganya lebih murah.

Analis PT Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar menambahkan, China yang merupakan konsumen batubara terbesar juga terus meningkatkan pemakaian gas alam. National Development and Reform Commission (NDRC) menyebutkan, konsumsi gas alam negeri tembok raksasa selama empat bulan pertama 2017 tumbuh 12% dari periode sama 2016.

Peningkatan konsumsi gas alam itu membuat impor batubara China hingga April lalu anjlok 33% dibanding periode sama 2016. “Melemahnya permintaan batubara China berakibat pada kenaikan pasokan di Asia dan Australia, sehingga menekan pergerakan harga,” ungkap Wahyu.

Bestprofit

Comments are closed.