Rupiah menanti data cadev

Karyawan bank menghitung uang rupiah di Jakarta, Rabu (22/3). Terhitung mulai 1 April 2017, Bank Indonesia menerapkan aturan baru terkait transaksi kliring debit menggunakan giro bilyet. Latar belakang penerbitan aturan ini adalah terjadinya penyalahgunaan bilyet giro untuk melakukan penipuan. KONTAN/Cheppy A. Muchlis

Bestprofit | Rupiah menanti data cadev

Bestprofit – JAKARTA. Notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan pandangan hawkish para pejabat The Fed. Hal ini membuat kurs rupiah tertekan. Di pasar spot, Kamis, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) melemah 0,2% ke level Rp 13.392 dibanding sehari sebelumnya.

Di kurs tengah Bank Indonesia (BI), kurs rupiah melemah 0,11% ke Rp 13.364 per dollar AS.”Notulensi FOMC menunjukkan masih ada kemungkinan suku bunga naik tahun ini, tapi melihat perkembangan angka inflasi,” kata Putu Agus Pransumitra, Research & Analyst Monex Investindo Futures, kemarin.

Susi Rianti, Analis Riset Treasury Bank Negara Indonesia menjelaskan, pergerakan rupiah searah dengan mata uang Asia. “Pelaku pasar lebih berhati-hati pada sikap The Fed sehingga cenderung menjauhi aset emerging market,” tutur dia.

Dari dalam negeri, rupiah mendapat tambahan sentimen negatif setelah BI memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal kedua akan lebih rendah dari proyeksi 5,11% year on year (yoy). Pelemahan rupiah juga turut dipicu oleh capital outflow di pasar saham maupun obligasi domestik.

Susi memperkirakan, pergerakan rupiah ke depan akan dipengaruhi rilis data non farm payroll (NFP) AS Juni hari ini. NFP diprediksi naik jadi 175.000, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 138.000. Rilis cadangan devisa (cadev) juga akan menjadi penggerak rupiah di akhir pekan.

Susi memprediksikan, rupiah akan melemah di Rp 13.375-Rp 13.400 pada akhir pekan. Putu memprediksi, rupiah akan menguat dan bergerak di Rp 13.330-Rp 13.420 jika cadangan devisa naik.

Bestprofit

Comments are closed.