The Fed bikin harga emas limbung

Petugas memeriksa kandungan mineral pada contoh batuan di pabrik pengolahan emas-perak G-Resources Martabe di Aek Pining, Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (14/1/2012). Proyek Martabe yang telah memasuki tahap 75 persen penyelesaian ini akan mulai beroperasi pada akhir Maret 2012 dengan target produksi 250.000 ounces emas dan 2,5 juta ounces perak per tahun. KOMPAS/PRIYOMBODO

 

Bestprofit | The Fed bikin harga emas limbung

 

Bestprofit – JAKARTA. Harga emas terus merosot di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bulan ini. Mengutip Bloomberg, Kamis pukul 17.58 WIB, harga emas kontrak pengiriman Februari 2016 di Commodity Exchange tergerus 0,40% ke US$ 1.169,2 per ons troi. Ini adalah level harga terendah tahun ini.

Sepanjang November 2016, harga si kuning telah terjun bebas sekitar 8%. Ini adalah penurunan bulanan terbesar sejak 2013. Analis Finex Berjangka Nanang Wahyudin bilang, rencana kenaikan suku bunga The Fed jadi penggerus utama harga emas.

Pelaku pasar makin yakin The Fed bakal menaikkan suku bunga. Dalam risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan lalu, para pejabat The Fed sepakat menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Apalagi, ekonomi Amerika Serikat (AS) makin oke.

Pada Rabu, AS merilis data penyerapan tenaga kerja swasta pendahuluan untuk November, yang hasilnya naik. Ini menguatkan rencana kenaikan suku bunga The Fed. Nanang memprediksi, harga emas akan terus tertekan hingga pertemuan The Fed pada 13-14 Desember nanti. Pasar pun masih menanti besaran kenaikan suku bunga AS.

Saat ini, pelaku pasar mengantisipasi suku bunga AS akan naik 25 basis poin. Tetapi ada rumor The Fed akan memberi kejutan dengan kenaikan 50 basis poin,” kata Nanang, Kamis. Dalam jangka pendek, harga emas akan bergerak menuju support berikutnya di US$ 1.140 per ons troi. Bila tercapai, ini bisa mengubah tren harga emas jadi bearish.

Pekan depan, pelaku pasar juga akan wait and see menunggu kebijakan The Fed. Alhasil, harga emas akan cenderung bergerak datar atau konsolidatif. Analis Soogee Futures Alwi Assegaff menambahkan, hari ini pemerintah AS bakal merilis data non farm payroll (NFP) November yang diprediksi kembali naik. Ini bakal jadi sentimen negatif bagi pergerakan emas.

Meski terus mendapat sentimen negatif, tapi peluang harga emas rebound tetap besar. Salah satu sentimen positif berasal dari referendum Italia untuk menurunkan Perdana Menteri Matteo Renzi pada 4 Desember 2016. Dengan sentimen dari Negeri Pizza ini, mata uang euro kemungkinan akan tertekan dan investor beralih pada safe haven seperti emas. “Tapi, tekanan emas akan tetap ada dengan support di US$ 1.140.

Sedangkan resistance kuat di US$ 1.200,” ujar Nanang. Secara teknikal, harga emas bergerak dibawah garis MA 10 dan MA 55 yang menunjukkan potensi bearish. Indikator MACD juga cenderung negatif. Secara histogram tekanan jualnya masih kuat. Kemudian RSI dan stochastic berada di area oversold.

Alwi memperkirakan harga emas hari ini bergerak di kisaran US$ 1.150–US$ 11.95 per ons troi. Sedang menurut hitungan Nanang, harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.140–US$ 1.200 per ons troi dalam sepekan terakhir.

Bestprofit

Comments are closed.