Archive of ‘Kabar Indonesia’ category

Penjualan Mobil Februari 2021 Turun Imbas Isu Relaksasi PPnBM

Penjualan mobil retail pada Februari terekam turun sekitar 13 persen dari Januari. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menjelaskan faktor terbesar penurunan itu disebabkan isu relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) yang berlaku mulai 1 Maret.

 

Pada Februari penjualan mobil retail tercatat 46.943 unit, sedangkan pada Januari 53.996 unit. Sementara itu wholesales Februari sebanyak 49.202 unit juga turun sekitar 7 persen dibanding Januari 52.909 unit.

 

“Februari karena yang namanya berita PPnBM akan dikasih 1 Maret otomatis orang enggak berani beli mobil, nunggu sampai harganya turun,” kata Ketua Gaikindo Yohannes Nangoi.

Aturan relaksasi PPnBM berlaku 1 Maret usai Kementerian Keuangan merilis Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20 Tahun 2021. Relaksasi PPnBM diberikan bertahap, yakni potongan 100 persen untuk 1 Maret – 31 Mei, potongan 50 persen pada 1 Juni – 31 Agustus, dan potongan 25 persen untuk 1 September – 31 Desember.

Petunjuk teknis relaksasi PPnBM itu juga ditentukan dalam Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 169 Tahun 2021 yang mengungkap daftar 21 mobil yang ikut dalam program.

Setiap mobil itu memenuhi

Mulai 1 Maret pada Agen Pemegang Merek telah merevisi harga setiap mobil yang masuk dalam daftar penerima relaksasi PPnBM. Pemangkasan harga mencapai belasan juta rupiah untuk model seperti Toyota Avanza, Suzuki Ertiga, dan Honda Brio RS.

Khusus untuk Toyota Vios, satu-satunya sedan dalam daftar, pemotongan harga menyentuh Rp65 juta.

Nangoi mengatakan penurunan pada Februari karena isu PPnBM sudah diprediksi. Namun dia meyakini penjualan pada Maret bakal meningkat.

“Maret ini indikasi cukup baik. Seminggu pertama ini baik, saya terus terang belum dapat detailnya … Tapi dari beberapa yang saya dapat dari teman-teman meningkat cukup baik,” ucap Nangoi.

Burung Langka Kalimantan Ditemukan Lagi Usai Hilang 172 Tahun

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)menyatakan burung Pelanduk Kalimantan kembali ditemukan setelah 172 tahun dinyatakan ‘hilang’.

 

Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Pertama Balai TN Sebangau Teguh Willy Nugroho mengatakan burung itu ditemukan kembali pada 5 Oktober 2020.

“Cerita bermula ketika tanggal 5 Okorber 2020 lalu Mas Suranto, rekan kami yang ada di Kalimantan Selatan menemukan burung yang tak biasa,” ujar Teguh dalam webinar yang diselenggarakan KLHK, Selasa (2/3).

 

Teguh menuturkan ‘burung tak biasa’ adalah istilah bagi burung yang belum pernah dilihat sebelumnya. Oleh karena itu, penemuan burung itu didiskusikan dalam forum khusus.

Namun, anggota diskusi tidak menemukan satu pun literatur yang cocok dengan burung yang ditemukan oleh Suranto. Bahkan, dia berkata forum sempat mengira bahwa Pelanduk Kalimantan merupakan spesies baru.

Kesimpulan awal itu berubah setelah berkomunikasi dengan peneliti LIPI Mohammad Irham. Kepada Teguh dkk, Irham menduga kuat bahwa ‘burung tak boasa’ iti adalah keluarga Malacopteron atau Pelanduk.

“Namun, belum diketahui juga jenisnya. Di sini kami semakin tergugah apakah benar ini burung new species atau burung lain,” ujarnya.

Lima hari setelah penemuan, seorang pengamat burung mencurigai bahwa ‘burung tak biasa’ itu adalah Pelanduk Kalimantan. Kecurigaan itu muncul setelah mengamati lebih detil ciri-ciri dari ‘burung tak biasa’ itu.

Namun, Teguh menyebut literatur mengenai Pelanduk Kalimantan menunjukkan bahwa ‘burung tak biasa’ itu bukan Pelanduk Kalimantan, misalnya dalam pola warna kaki, paruh, mata.

Berdasarkan keyakinan, Teguh dkk kemudian membuat jurnal untuk menginformasikan burung yang didduga kuat merupakan Pelanduk Kalimantan. Proses pembuatan jurnal dibantu oleh pakar Birdlife, Yong Ding Li.

“Dalam proses yang panjang ada pembenahan, kemudian dirilislah (jurnal) pada 25 Feburari 2021,” ujar Teguh.

Teguh membeberkan Pelanduk Kalimantan adalah burung pengicau endemik Kalimantan. Status konservasi burung itu sempat dinyatakan rentan hingga kurang data oleh IUCN.

Berdasarkan riset yang ada, Teguh menyebut burung itu termasuk misterius. Sebab, kebiasaan dan pola penyebaran burung itu tidak diketahui. Ada beberapa pakar menyatakan Pelanduk Kalimantan merupakan Pelandul Alas.

Literatur lain, lanjut dia menyakan Pelanduk Kalimantan merupakan salah satu teka teki besar ilmu burung Indonesia. Spesimen burung itu diketahui hanya ada satu dan dikumpulkan pada tahun 1840-an.

Pelanduk Kalimantan berukuran 15-16 cm.Habitat burung itu diketahui di dataran rendah dan endemik Banjarmasin, Kalsel.

Kejagung Endus Aset Tersangka Asabri di Jawa Hingga Sulawesi

Kejaksaan Agung mendeteksi sejumlah aset milik tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi PT Asabri (Persero) di beberapa wilayah di Indonesia.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus, Ali Mukartono mengatakan bahwa saat ini tim penyidik telah disebar ke beberapa wilayah untuk melakukan pengecekan terhadap aset-aset yang diduga berkaitan dengan kasus korupsi itu.

Salah satunya, penyidik tengah mendalami aset milik tersangka Letnan Jenderal (Purn) Sonny Widjaja yang juga merupakan mantan Direktur Utama PT Asabri (Persero) di wilayah Boyolali dan Solo. Keberadaan aset ini pun sempat diendus oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI).

 

“Baru diteliti, sebelum dilaporkan MAKI sudah kami kirim ke lokasi-lokasi itu. Misalnya itu (aset) atas nama orang lain, benar gak itu dari siapa,” kata Ali saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (24/2).

Kemudian, kata dia, tim juga tengah diterjunkan untuk menelusuri aset tersangka yang berada di wilayah Sulawesi hingga Kalimantan. Hanya saja, Ali masih belum dapat menuturkan lebih lanjut mengenai lokasi pasti ataupun pemilik aset yang tengah dibidik oleh Kejaksaan tersebut.

“Yang di Sulawesi sudah, yang di Kalimantan belum tahu. Baru lihat-lihat lokasi,” tandas dia.

Dalam kasus ASABRI, setidaknya ada 9 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik. Para tersangka diduga bersepakat memainkan harga saham Asabri dan perusahaan-perusahaan swasta yang terlibat.

Benny Tjokro, Lukman Purnomosidi dan Heru Hidayat didapuk sebagai pengendali saham milik perusahaan pelat merah itu. Sementara, mantan Direktur Utama PT Asabri Mayor Jenderal (Purn) Adam R. Damiri, Letnan Jenderal (Purn) Sonny Widjaja yang membuat kesepakatan dengan pihak swasta.

Adapun kerugian keuangan negara akibat dugaan tindak pidana korupsi ini ditaksir mencapai Rp23,7 triliun.

1 2 3 795