Archive of ‘Kabar Indonesia’ category

Mengenal 8 Spesies Tumbuhan Baru RI, Ditemukan Kala Pandemi

“Perkawinan” keanekaragaman hayati dan semua teknologi inovasi tersebut dipercaya akan menghasilkan “emas hijau” yang sesungguhnya di masa depan.

Jika isu biosentrisme semakin kencang berembus di Eropa di tengah pandemi, di Indonesia sebagai pemilik “mega biodiversity” di dunia belum banyak “mengawinkan” teknologi mutakhir tersebut dengan keanekaragaman hayati.

Setidaknya terdapat delapan spesies tumbuhan unik dari belantara Indonesia menjadi penemuan baru dua peneliti pada Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sepanjang 2020, atau lebih tepatnya di tengah pandemi Covid-19.

Salah satu peneliti Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI , Destario Metusala mengatakan spesies-spesies baru tumbuhan unik dari Indonesia itu diterbitkan pada jurnal ilmiah nasional maupun internasional di sepanjang 2020.

Penemuan delapan spesies tumbuhan baru memang dilakukan di saat dan lokasi yang berbeda. Menurut Destario, tidak semua tumbuhan tersebut mereka yang mengambilnya langsung dari alam, karena ada pula yang merupakan hasil penemuan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang kemudian diteliti bersama-sama.

“Tujuh dari delapan spesies tampaknya hanya tersebar di area yang relatif sempit, sehingga diduga lebih rentan terhadap ancaman kepunahan seandainya terjadi degradasi habitat maupun over collecting,” katanya mengutip Antara, Senin (19/4).

1.Bulbophyllum acehen

Sepesies tersebut merupakan tumbuhan anggrek epifit yang tumbuh alami di pegunungan hutan Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Anggrek tersebut memiliki perbungaan tunggal yang bermunculan dari bagian ruas-ruas rhizomnya.

Bunganya berwarna kuning cerah mengkilap berlilin dengan corak halus garis-garis kuning yang lebih pekat. Walaupun ukuran bunganya hanya berkisar 1,7-2 sentimeter (cm), namun memiliki bentuk unik yang mana bagian lateral sepalnya terpilin kuat ke belakang.

Spesies anggrek baru yang hasil penelitiannya sudah terbit di jurnal nasional Biologi Tropis itu, menurut Destario, juga memiliki keunikan pada bagian bibir bunganya yang menekuk tajam ke bawah seperti pengait.

Epithet spesies menggunakan nama Provinsi Aceh sebagai petunjuk bahwa kawasan Aceh memiliki keunikan diversitas anggrek yang tinggi.

2.Dendrobium rubrostriatum

Juga merupakan anggrek epifit yang tumbuh menempel di kulit batang pepohonan. Susunan daunnya berevolusi secara unik membentuk seperti gergaji pipih dengan panjang total hingga mencapai 43 cm.

Sepal petal bunga berwarna dasar krem dengan garis garis memanjang merah keunguan. Spesies baru itu ditemukan di hutan dataran rendah Kalimantan Barat pada ketinggian 200-300 meter (m).

Meskipun demikian, observasi selanjutnya menunjukkan bahwa sebaran spesies baru itu mencapai kawasan Sarawak dan Sabah di Malaysia.

Menurut Destario, penelitian yang publikasinya terbit di jurnal internasional Phytotaxa itu memerlukan waktu panjang hingga enam tahun lamanya demi memperoleh data-data spesies pembanding yang akurat.

Tinjau Pasar, Mendag Lutfi Klaim Harga Cabai Rawit Turun

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengklaim harga cabai rawit sudah melandai di Kota Bandung, Jawa Barat. Hal itu berdasarkan hasil peninjauan ketersediaan harga dan bahan pokok bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Pasar Kosambi dan Sederhana, Selasa (13/4).

“Cabai sudah turun 20 sampai 25 persen dibanding minggu lalu. Tadi saya cek Rp60 ribu per kilogram,” ujar Lutfi usai kegiatan peninjauan.

Lutfi mengungkapkan harga cabai rawit yang sempat menyentuh Rp120 ribu per Kg itu masih berpeluang turun seiring masuknya masa panen cabai.

 

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis di Pasar Kosambi, per 13 April, harga cabai rawit tercatat Rp72.500 per Kg. Rinciannya, harga cabai rawit merah Rp80 ribu per Kg dan cabai rawit hijau Rp65 ribu per Kg.

Secara umum, Lutfi menilai harga berbagai komoditas pokok terpantau relatif stabil di Kota Bandung. Kenaikan hanya terjadi pada komoditas minyak goreng curah dari Rp12 ribu menjadi Rp13 ribu per Kg.

Untuk itu, ia akan langsung berkoordinasi dengan industri dan meminta tambahan suplai minyak goreng. Dengan demikian, harga minyak goreng bisa ditekan.

“Semoga minggu depan sudah ada penurunan,” ujarnya.

Selain itu, harga beras di Kota Bandung juga lebih murah dibandingkan harga eceran nasional. Lalu, harga gula juga diklaim stabil.

“Mudah-mudahan kita bisa puasa dengan tenang dan Lebaran karena harga terjangkau,” ucap Lutfi.

Ridwan Kamil menambahkan selain minyak goreng, kenaikan juga terjadi pada harga daging ayam. Kendati demikian, kenaikan harga kedua komoditas masih wajar karena permintaan yang tinggi saat Ramadan.

“Harga-harga tetap stabil. Walaupun ada kenaikan tapi wajar. Tadi kami mengecek hanya satu hingga dua komoditas saja tapi masih relatif aman,” kata pria yang akrab disapa Emil itu.

Namun, apabila harga bahan pangan pokok tidak terkendali dan stok minim, Emil memastikan Pemprov Jabar bersama Bulog serta pemkab/pemkot akan menggelar operasi pasar.

Pedagang Optimis Stok Daging Aman Sampai Lebaran

Ketua Harian Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi menyatakan stok daging sapi dan kerbau di pasar Jabodetabek aman hingga akhir Mei mendatang atau mencukupi hingga Lebaran.

Perhitungan dibuat dengan asumsi pada puasa dan Lebaran daginKetua Harian Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi menyatakan stok daging sapi dan kerbau di pasar Jabodetabek aman hingga akhir Mei mendatang atau mencukupi hingga Lebaran.
Perhitungan dibuat dengan asumsi pada puasa dan Lebaran daging sapi segar yang dibutuhkan sebanyak 24,5 ribu ekor. Jumlah tersebut cukup dari stok PT Berdikari sekitar 13,5 ribu hingga 14 ribu ekor sapi dan stok sapi eks-impor sekitar 13 ribu ekor.
Sehingga, stok konsumsi hingga akhir Mei seharusnya berlebih. Apalagi, lanjutnya, saat ini permintaan daging tidak setinggi sebelum pandemi.
Pada H-1 puasa, ia menyebut memang terjadi kenaikan permintaan hingga 2-3 kali lipat dari normal. Namun, ia memproyeksikan permintaan daging bakal anjlok pada minggu kedua dan ketiga, lalu kembali meningkat menjelang Idulfitri.
Sehingga, bila dirata-ratakan untuk permintaan periode puasa dan Lebaran, ia menilai kenaikan hanya berkisar lima persen dari normal untuk daging siap potong.
“Ditambah dengan daging frozen (beku), kenaikan (konsumsi) hanya antara 5 persen,” katanya
Selasa (13/4).
Sementara dari sisi harga, ia mengatakan pada H-1 puasa atau Senin (12/4), harga daging sapi berkisar di antara Rp120 ribu-Rp125 ribu per Kg. Paling mahal, kata dia, pedagang membanderol harga sebesar Rp130-Rp140 ribu per Kg.
Menurut dia, kenaikan itu bersifat wajar selama permintaan melonjak. Namun, harga diperkirakan kembali turun saat permintaan normal kembali.
“Kenaikan harga wajar, tidak terlalu signifikan, kalau dijual Rp140 ribu (per Kg), ya wajar,” katanya.
Dalam mengamankan harga daging, ia menyebut faktor terpenting adalah memastikan stok mencukupi dan menyediakan alternatif, seperti daging sapi kerbau beku dan melakukan pemantauan dan operasi pasar.
Menanggapi prognosa Kementerian Pertanian bahwa bakal terjadi defisit daging sapi/kerbau pada akhir Mei, Asnawi menilai defisit yang terjadi secara nasional. Dari pengamatannya di Jabodetabek, stok masih aman hingga selesai Idulfitri.
“Saya melihat defisit itu bukan di DKI atau Jabodetabek, menurut analisis saya defisit itu sifatnya secara nasional,” terangnya.
Ia mengaku tak khawatir dengan defisit stok daging karena ia menyebut telah disiapkan daging impor siap kirim bila dibutuhkan.
“Belum lagi stok daging kerbau, sapi Australia, Brasil, sudah mulai berdatangan dan stand by, artinya kalau untuk pasokan aman dan dari sisi harga juga tidak terjadi gejolak kok,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi memperkirakan defisit daging sapi dan kerbau pada akhir Mei sebesar 1.526 ton. Agung menyebut prognosa itu berdasarkan asumsi konsumsi daging secara nasional tidak berubah.
g sapi segar yang dibutuhkan sebanyak 24,5 ribu ekor. Jumlah tersebut cukup dari stok PT Berdikari sekitar 13,5 ribu hingga 14 ribu ekor sapi dan stok sapi eks-impor sekitar 13 ribu ekor.

Sehingga, stok konsumsi hingga akhir Mei seharusnya berlebih. Apalagi, lanjutnya, saat ini permintaan daging tidak setinggi sebelum pandemi.

Pada H-1 puasa, ia menyebut memang terjadi kenaikan permintaan hingga 2-3 kali lipat dari normal. Namun, ia memproyeksikan permintaan daging bakal anjlok pada minggu kedua dan ketiga, lalu kembali meningkat menjelang Idulfitri.

Sehingga, bila dirata-ratakan untuk permintaan periode puasa dan Lebaran, ia menilai kenaikan hanya berkisar lima persen dari normal untuk daging siap potong.

“Ditambah dengan daging frozen (beku), kenaikan (konsumsi) hanya antara 5 persen,” katanya

Selasa (13/4).

Sementara dari sisi harga, ia mengatakan pada H-1 puasa atau Senin (12/4), harga daging sapi berkisar di antara Rp120 ribu-Rp125 ribu per Kg. Paling mahal, kata dia, pedagang membanderol harga sebesar Rp130-Rp140 ribu per Kg.

Menurut dia, kenaikan itu bersifat wajar selama permintaan melonjak. Namun, harga diperkirakan kembali turun saat permintaan normal kembali.

“Kenaikan harga wajar, tidak terlalu signifikan, kalau dijual Rp140 ribu (per Kg), ya wajar,” katanya.

Dalam mengamankan harga daging, ia menyebut faktor terpenting adalah memastikan stok mencukupi dan menyediakan alternatif, seperti daging sapi kerbau beku dan melakukan pemantauan dan operasi pasar.

Menanggapi prognosa Kementerian Pertanian bahwa bakal terjadi defisit daging sapi/kerbau pada akhir Mei, Asnawi menilai defisit yang terjadi secara nasional. Dari pengamatannya di Jabodetabek, stok masih aman hingga selesai Idulfitri.

“Saya melihat defisit itu bukan di DKI atau Jabodetabek, menurut analisis saya defisit itu sifatnya secara nasional,” terangnya.

Ia mengaku tak khawatir dengan defisit stok daging karena ia menyebut telah disiapkan daging impor siap kirim bila dibutuhkan.

“Belum lagi stok daging kerbau, sapi Australia, Brasil, sudah mulai berdatangan dan stand by, artinya kalau untuk pasokan aman dan dari sisi harga juga tidak terjadi gejolak kok,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi memperkirakan defisit daging sapi dan kerbau pada akhir Mei sebesar 1.526 ton. Agung menyebut prognosa itu berdasarkan asumsi konsumsi daging secara nasional tidak berubah.

1 2 3 796