Archive of ‘Kabar Indonesia’ category

Penundaan Cicilan Berisiko Kerek Kredit Macet Bank

Rasio kredit macet (non performing loan)i perbankan diprediksi melonjak akibat relaksasi kredit bagi debitur yang terkena dampak virus corona (Covid-19). NPL akan melonjak jika pelonggaran itu diberikan kepada seluruh debitur terdampak.

Praktisi Keuangan dari May Institute Ellen May meramal rasio NPL bank akan melonjak dari 2,79 persen (gross) dan 1,00 persen (net) per Februari 2020.

“Dengan kondisi demikian, tentu OJK perlu memikirkan indikator kesehatan bank dan good corporate governance, karena pasti akan turun semua,” paparnya dikutip, Senin (30/3).

Ia melanjutkan mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara pun berpendapat serupa. Apabila relaksasi itu ditujukan kepada seluruh debitur, maka akan merugikan perbankan dan perusahaan pembiayaan (multifinance).

“Jika dua sektor ini ‘bangkrut’ maka perekonomian nasional akan terganggu,” ujarnya.

Perbankan, lanjutnya, akan

utangnya selama satu tahun. Terlebih sekitar 30 persen kredit perbankan merupakan kredit konsumsi, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Mobil (KPM). Sisanya, sebesar 15 persen hingga 20 persen adalah kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Karenanya, ia menilai pihak bank harus melihat kondisi nasabah sebelum memberikan keringanan (restrukturisasi), rekondisi, atau penjadwalan ulang (reschedule). Ia menilai sebaiknya kewajiban pembayaran bunga oleh debitur harus selalu dipenuhi.

“Seandainya terkait kredit sepeda motor namun pinjaman itu berdampak dan di bidang usaha seperti ojek online bisa ditunda cicilan pokok, tetapi kewajiban bunga harus dibayar. Jadi tidak serta tidak membayar apapun selama satu tahun,” ujarnya.

ITB Prediksi Akhir Pandemi Corona RI Bergeser Hingga Lebaran

Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi epidemi virus corona (SARS-COV-2) akan berakhir di Indonesia pada akhir Mei hingga awal Juni 2020. Artinya, epidemi Covid-19 itu belum berakhir saat memasuki mudik Lebaran 2020.

Sebelumnya simulasi dari tim peneliti pada Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) ITB memperirakan wabah Covid-19 di Indonesia akan mengalami puncak pada akhir Maret 2020 dan berakhir pada pertengahan April 2020.

Salah satu peneliti yang melakukan simulasi tersebut, Nuning Nuraini mengatakan pergeseran prediksi disebabkan oleh meningkatnya jumlah kasus corona di Indonesia. Hingga 25 Maret, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengumumkan 790 kasus positif corona di Indonesia.

Dalam penelitian yang menjadi jurnal ilmiah tersebut, Nuning dengan tim membangun model representasi jumlah kasus dengan menggunakan model pengembangan dari model logistik, Richard’s Curve yang diperkenalkan oleh F.J.Richards.

Model Richard’s Curve terpilih ini  diuji coba dengan berbagai data kasus corona dari berbagai macam negara, seperti China, Iran, Italia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Termasuk data akumulatif seluruh dunia.

Ternyata, secara matematik, ditemukan bahwa model Richard’s Curve Amerika Serikat adalah yang paling cocok (kesalahannya kecil) untuk disandingkan dengan tren data kasus terlapor corona di Indonesia dengan jumlah kasus corona saat ini.

Sebelumnya saat jumlah kasus corona di Indonesia masih berjumlah 96, model Richard’s Curve Korea Selatan adalah yang paling cocok. Oleh karena itu, Nuning mengatakan prediksi akan terus diperbarui mengikuti pembaruan jumlah kasus corona.

“Eror estimasi akan membesar kalau tetap pakai model Korea Selatan. Kasus naik model data Korea sudah tidak relevan jadinya pindah ke data Amerika Serikat,” kata Nuning.

Dengan pemodelan sebelumnya, diperkirakan kasus harian baru terbesar berada di angka sekitar 600.

Akhir wabah Covid-19

Ketika ditanya soal akhir dari wabah Covid-19, Nuning menyebut hal itu baru bisa dihitung ketika puncak infeksi sudah terjadi.

“Masalahnya ketika kasus sudah banyak kita bisa estimasi lagi kasus Indonesia. Perlu sampai puncak benar baru bisa mengatakan sampai kapan,” kata Nuning saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (26/3).

Nuning yang juga merupakan Dosen Program Studi Matematika ITB mengatakan simulasi permodelan baru bisa memprediksi akhir epidemi corona saat telah terjadi puncak epidemi yang diperkirakan terjadi pada minggu kedua atau ketiga April 2020.

“Mulai epidemi pada awal Maret 2020. Puncak epidemi pada minggu kedua atau ketiga April 2020. Akhir epidemi pada  akhir Mei/awal Juni 2020,” ujar Nuning.

Berdasarkan jumlah kasus per 18 Maret 2020, Nuning memprediksi maksimal jumlah kasus corona di Indonesia adalah lebih dari 60 ribu kasus meningkat dari 8 ribu kasus. Jumlah kasus baru corona terbesar adalah kurang lebih 2000 kasus meningkat dari 600 kasus.

Data harian mengenai jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 yang didapat, dijadikan data untuk membangun model yang dapat merepresentasikan dinamika penderita corona.

Sebelumnya, mereka menggunakan model penghitungan matematik Richard’s Curve ala Korea Selatan. Model Richard’s Curve ini terbukti berhasil memprediksi awal, akhir, serta puncak endemi dari penyakit SARS di Hong Kong tahun 2003.

Namun, saat itu Nuning memperingatkan bahwa pemodelan yang mereka buat sangat sederhana dan sama sekali tidak mengikutkan faktor-faktor yang kompleksitasnya tinggi.

Pemerintah Jamin Harga Pangan Stabil Saat Darurat Corona

Pemerintah memastikan stabilisasi harga 11 bahan pangan pokok aman di tengah status darurat virus corona. Keterjangkauan harga pangan pokok, monitoring stok, pasokan, dan distribusi akan rutin dilakukan.

Sekretariat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono menyebut pihaknya melakukan monitor mingguan dan harian di pasar hingga supermarket demi memastikan keterjangkauan harga di masyarakat.

“Yang paling penting ini stabilisasi harga, bagaimana menjaga harga 11 bahan pokok di masyarakat,” katanya Kamis (26/3).

Meski tak menampik adanya lonjakan harga komoditas gula, namun Susiwijono menyatakan pemerintah telah memutuskan realisasi impor gula dan membantu distribusi gula lokal untuk menekan harga. Dia bilang, 33 ribu ton gula telah didatangkan dari Lampung dengan tambahan 20 ribu ton lainnya dari Dumai, Riau.

Lebih lanjut, ia menyebut pihaknya telah melakukan kalkulasi konsumsi nasional sepanjang Ramadan untuk memastikan ketersediaan stok dalam negeri serta realisasi impor untuk komoditas tertentu. Dia memastikan stok 11 bahan pangan pokok selama bulan puasa dan lebaran terkendali.

Untuk pasokan dan distribusi, Kementerian terkait telah melakukan koordinasi dengan pihak swasta. Kata Susiwijono, pembahasan dengan asosiasi usaha seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Himpunan Pengusaha Ritel Indonesia (Hippindo) dan asosiasi terkait lainnya.

“Pasokan melibatkan sekian banyak sektor dan usaha, secara rutin kami membahas dengan asosiasi usaha, terutama retail untuk menjaga pasokan,” katanya.

Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi pembelian panik atau panic buying akibat kekhawatiran masyarakat. Dengan adanya lonjakan permintaan, pemerintah menginstruksikan para pengusaha

untuk menyediakan pasokan lebih terutama untuk barang kebutuhan mendesak.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyebut stok komoditas yang dinyatakan aman di antaranya komoditas beras, jagung, daging sapi dan kerbau, gula, dan bawang putih.

Untuk beras, Perum Bulog menyebut terdapat stok 3,5 juta ton yang tersebar di gudang penyimpanan, penggilingan dan pedagang. Dengan tambahan stok panen raya pada Maret hingga Mei mendatang, stok beras diperkirakan mencapai 7,7 juta ton.

Selanjutnya, stok jagung pada akhir Februari tercatat 661 ribu ton. Panen Maret diperkirakan menyumbang stok jagung hingga 6,2 juta ton.

Terkait gula, Airlangga menyebut pemerintah mendistribusikan 20 ribu ton dengan harga Rp10.500 per kilogram (Kg). Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga gula di pasar. Kata dia, realisasi penyediaan gula konsumsi sebanyak 150 ribu ton juga akan ditugaskan lewat BUMN.

1 2 3 706