Archive of ‘News’ category

Surat utang global jadi pilihan emiten

Petugas menunjukan pecahan uang dolar Amerika Serikat dan rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang asing, di Jakarta, Rabu (8/11). Nilai tukar rupiah rupiah terkoreksi 0,08 persen menjadi Rp13.526 per dollar Amerika Serikat (AS), dari sebelumnya berada pada posisi Rp 13.524 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (7/11). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kye/17

PT BESTPROFIT Prospek pasar obligasi yang semakin membaik, jadi peluang sejumlah emiten untuk menjaring dana segar. Beberapa emiten mulai merancang penerbitan obligasi global yang sebelumnya sempat tertunda lantaran pasar kurang kondusif.

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), misalnya. Perusahaan perkebunan ini akhirnya merealisasikan penerbitan global bond senilai US$ 300 juta yang tertunda sejak tahun lalu.

Arie Raymond, Investor Relations SSMS, menyatakan, perusahaannya sudah menggelar  roadshow ke beberapa negara. “Kami menawarkan ke Singapura, Hong Kong, dan beberapa negara lainnya. Prosesnya sudah dimulai pekan lalu,” ujarnya kepada KONTAN. BEST PROFIT

Meski sempat tertunda, SSMS memastikan, tidak ada perubahan teknis terkait penerbitan surat utang itu. Dana hasil penjualan obligasi akan tetap digunakan untuk membiayai kembali  utang (refinancing) kepada Bank Negara Indonesia Tbk.

Pada 9 Desember 2016, SSMS memperoleh fasilitas pinjaman dari BBNI dengan plafon mencapai Rp 2,15 triliun. Pinjaman ini sejatinya baru akan jatuh tempo pada 25 Desember 2024. Bunga atas fasilitas kredit itu sebesar 9,75% per tahun.

Tapi, Arie belum bisa memberikan kisaran kupon dan tenor atas global bond tersebut, karena masih dalam tahapan roadshow. “Pricing baru bisa dilakukan setelah roadshow usai, awal Februari nanti,” imbuhnya. BESTPROFIT

Namun, jika mengacu ke rencana lama, kupon atas global bond SSMS bisa ada di level 7% per tahun. Sedangkan tenornya memiliki jangka waktu selama lima tahun. BNP Paribas dan Citigroup bertindak sebagai joint bookrunners. Harapannya, surat utang global ini mendapat peringkat B1 dari Moody’s serta   B+ dari Fitch Ratings.

Selain SSMS, PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) juga kembali memproses obligasi global yang menjadi rencana mereka sejak tahun lalu. “Kami telah memulai roadshow,” ujar Hardy, Sekretaris Perusahaan TBLA. PT BESTPROFIT FUTURES

Nilai penerbitan surat utang global TBLA mencapai sekitar US$ 200 juta. Dana hasil penjualan obligasi global tersebut juga akan digunakan untuk refinancing utang. Namun Hardy enggan memerinci struktur obligasi global yang dirancang TBLA.

PT MNC Investama Tbk (BHIT)  juga akan merealisasikan rencana serupa. Mengutip Bloomberg, BHIT akan menerbitkan obligasi global senilai US$ 150 juta hingga US$ 200 juta.

BHIT akan menerbitkan global bond pada kuartal I-2018. Emiten tersebut akan menggunakan hasil penerbitan obligasi global untuk membayar utang lama (refinancing). Saat ini, BHIT memiliki pinjaman sekitar US$ 365 juta yang jatuh tempo Mei 2018.

Ini alasan emiten lebih suka cara lama cari pendanaan

FILE PHOTO: An Indonesia Rupiah note is seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD SEARCH GLOBAL BUSINESS 16 OCT FOR ALL IMAGES

BEST PROFIT Instrumen pendanaan bagi perusahaan makin beragam. Meski demikian, pilihan pendanaan konvensional tetap tak ditinggalkan. Pinjaman perbankan dan obligasi konvensional sebagai contohnya.

Analis Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya melihat ada banyak faktor yang mempengaruhi pilihan instrumen pendanaan oleh perusahaan termasuk emiten. “Bisa jadi mereka tidak mau ada share lain, ” ujar William. BESTPROFIT

Kedua, menurut William jalur pendanaan perbankan bisa jadi ditempuh dalam waktu yang lebih singkat. Jika dibandingkan dengan IPO, menurut William jalur perbankan memang terbilang lebih cepat dari segi waktu proses.

Belum lagi, setelah IPO, perusahaan bersangkutan harus menanggung tanggung-jawab berkelanjutan. “Lalu bergantung kebutuhan dana. Keterbatasan juga. Karena setelah IPO juga butuh tambahan divisi, seperti corporate secretary dan lainnya, ” tambah William.

Sepakat, Kepala Riset OSO Sekuritas Riska Afriani juga menilai pendanaan konvensional terkadang lebih praktis bagi perusahaan. Ia memberi contoh penerbitan obligasi sebagai instrumen baru. Perusahaan dalam hal ini harus berurusan dengan rating yang ditetapkan berkala. PT BESTPROFIT

Bagi emiten, kadang ketika rating obligasi turun, maka harga saham juga turun, ” ujar Riska. Namun ia juga tak menampik adanya faktor kebiasaan. Riska menilai emiten sudah mengenal dan lekat dengan instrumen pendanaan konvensional.

Kalau bank kan udah biasa. Jadi ini kemudahan dan literasi. Kebiasaan perusahaan juga,” tutur Riska. Karena itu Riska menilai bahwa literasi ini perlu terus ditingkatkan dengan berbagai sosialisasi dari regulator.

Adapun saat ini, menurut Riska literasi pendanaan baru cukup baik. Riska mencatat, sejak tahun 2011-2017 terus meningkat. Adapun di 2017 lalu, ia memperkirakan pendanaan pasar modal berkisar Rp 1.000 triliun. PT BESTPROFIT FUTURES

Meski dollar AS menguat, rupiah tetap kokoh

FILE PHOTO: An Indonesia Rupiah note is seen in this picture illustration June 2, 2017. REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo

BEST PROFIT Penguatan indeks dollar Amerika Serikat (AS) yang terus belanjut hingga Kamis tak berpengaruh pada pergerakan rupiah. Nyatanya mata uang Garuda masih mampu menunjukkan penguatannya. Kondisi ekonomi domestik yang cukup positif berhasil menghalau penguatan greenback.

Di pasar spot, pada Kamis , valuasi rupiah tercatat menguat 0,09% ke level Rp 13.347 per dollar AS dibanding hari sebelumnya. Sedangkan jika mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia, mata uang Garuda justru melemah 0,32% ke level Rp 13.323 per dollar AS dari hari kemarin. BESTPROFIT

Berita ekonomi dari domestik akhir-akhir ini cukup bagus, jadi rupiah cukup diminati,” ujar David Sumual, Ekonom PT Bank Sentral Asia kepada Kontan, Kamis. Menurutnya, beberapa sentimen positif tersebut datang dari posisi utang luar negeri swasta Indonesia yang mengalami pertumbuhan di bulan November 2017. Jumlahnya tumbuh 4,2% dibanding periode yang sama tahun lalu dan tumbuh 1,3% dibanding bulan Oktober 2017.

Kemudian lanjut David, keberhasilan lelang Surat Utang Negara (SUN) juga turut menopang penguatan rupiah. Pada Selasa pemerintah berhasil meraup dana sebanyak Rp 25,5 triliun dari total penawaran yang masuk sebesar Rp 72,46 triliun. Sedangkan dari eksternal, rupiah terbantu karena rilis data ekonomi China yang membaik. Sebagai mitra dagang perbaikan kondisi ekonomi Negeri Panda itu juga menopang valuasi mata uang rupiah. PT BESTPROFIT

Biro Statistik China baru saja merilis pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2017 yang dicapai stabil pada level 6,8% dan data produksi industri bulan Desember 2017 juta dilaporkan meningkat dari 6,1% ke 6,2%. Sementara itu, di lain pihak, Lukman Leong, Analis PT Valbury Asia Futures cenderung melihat saat ini rupiah tengah berada dalam fase konsolidasi karena beberapa waktu lalu sempat menguat cukup signifikan terhadap dollar AS.

Ia beranggapan penguatan terjadi karena menjelang sore indeks dollar AS mulai menunjukkan sedikit pelemahan.Di awal sesi memang naik tetapi menjelang sore kembali turun, makanya rupiah bisa menguat,” terangnya. Mengutip Bloomberg, pada Kamis pukul 17.00 WIB, indeks dollar tercatat menguat 0,20% ke level 90,720. Pada awal sesi indeks sempat menyentuh posisi 90,973. PT BESTPROFIT FUTURES

1 2 3 498