Archive of ‘Teknologi’ category

Google bakal tutup aplikasi inbox

google-tutup-aplikasi-inboxPT BESTPROFIT Setelah beroperasi selama 4 tahun, Google akhirnya memutuskan untuk menghentikan layanan aplikasi email-nya, yakni Inbox. Dikutip dari laman The Verge via Liputan6.com, Senin, perusahaan raksasa mesin pencari tersebut bakal resmi menghentikan layanan aplikasi Inbox secara total per Maret 2019.

Meski kabar buruk untuk sebagian pengguna setianya, penutupan layanan Inbox ini sudah diprediksi sejak lama. Sejak dirilis pada 2014 lalu, Inbox dikabarkan jarang mendapatkan pembaruan fitur yang rutin disebar oleh pengembang aplikasi via Google Play Store ataupun App Store. BEST PROFIT

Walau jarang mendapatkan update, Google Inbox sebetulnya menawarkan berbagai fitur yang menarik dan tidak ada di dalam layanan email Google lainnya, yakni Gmail. Adapun fitur yang tidak ada di Gmail, seperti Snoozing yang berfungsi untuk menghapus email dan reminders sementara waktu dari email pengguna.

Sedangkan untuk Bundling, pengguna dapat dengan mudah merapikan email yang diterima berdasarkan kategorinya. Jelang ditutupnya Inbox, Google sudah menyediakan salah satu fitur andalan aplikasi tersebut, Snoozing, ketika perusahaan meluncurkan update layanan Gmail-nya baru-baru ini. BESTPROFIT

Selain Snoozing, Google dikabarkan bakal memboyong fitur Bundling ke dalam layanan Gmail. Secara keseluruhan, ditutupnya Inbox ini merupakan jalan yang tepat bagi Google agar lebih fokus dalam meningkatkan satu layanan email-nya, yaitu Gmail.

Tersandung paten, Apple terancam larangan impor perangkat ke Korea Selatan

tersandung-paten-apple-terancam-larangan-impor-perangkat-ke-korea-selatanPT BESTPROFIT Apple terancam mendapat larangan impor ke Korea Selatan. Hal itu dipicu gara-gara perusahaan besutan Steve Jobs ini berseteru dengan perusahaan bernama Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). KAIST, seperti dilaporkan Phone Arena, Kamis, menyatakan bahwa paten mereka yang diberi nama FinFET telah dipakai Apple.

FinFET sendiri merupakan teknologi prosesor. Adapun, beberapa produk Apple yang terancam dilarang masuk Korea Selatan antara lain adalah iPhone 8, iPhone 8 Plus, iPhone X, dan beberapa model iPad. Jika paten tersebut benar merupakan milik KAIST, hal ini tidak hanya akan mempengaruhi Apple tetapi hampir industri smartphone. BEST PROFIT

Untuk itulah, Samsung yang merupakan kompetitorpun turut ada di sisi Apple. Samsung menyebut, litigasi atas paten yang diklaim KAIST tidaklah valid.Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan sangat memperhatikan yang terjadi di AS. Samsung pun disebut-sebut telah menyerahkan bukti kuat yang mendukung posisinya.

Kini, masalah paten ini tengah dalam investigasi lebih lanjut. Jika terbukti Apple telah melanggar paten milik KAIST, raksasa teknologi AS ini bakal menghadapi larangan impor perangkat ke Korea Selatan. Selain itu, jika terbukti ada pelanggaran paten, Apple bakal diwajibkan membayar ganti rugi pada KAIST agar bisa terus menjual perangkatnya di Korea Selatan. BESTPROFIT

Kami sedang menginvestigasi apakah Apple melanggar paten KIP, anak perusahaan dari KAIST,” kata komisi perdagangan Korea yang ada di bawah kementerian.Target (yang akan dilarang) adalah iPhone 8, iPhone 8 Plus, iPhone X, iPad 9,7, iPad 10,5, dan iPad 12,9 inci yang diimpor dari Tiongkok dan Hong Kong,” katanya.

Google menghadapi masalah privasi pengguna

A Google sign is seen during the China Digital Entertainment Expo and Conference (ChinaJoy) in Shanghai, China August 3, 2018. REUTERS/Aly Song

PT BESTPROFIT Era internet dengan segala inovasinya membuat banyak aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah. Namun di sisi lain, digitalisasi juga diduga memudarkan batas privasi pengguna. Sebab data-data pengguna terekam dalam sistem yang tidak bisa dikontrol seluruhnya oleh pengguna. Sebuah penelitian mengungkapkan Google lewat sistem operasi Android dan Chrome selama ini mengumpulkan data lebih agresif dari yang mungkin disadari pengguna.

Penelitian terbaru Douglas C. Schmidt, seorang profesor di Vanderbilt menunjukkan, Google mengumpulkan lebih banyak data pengguna dibandingkan yang mungkin Anda sadari. Google mengumpulkan semua jenis data pengguna layanannya sepanjang hari, mulai rute jalan para pengguna hingga musik yang pengguna dengarkan. Studi ini dijalankan oleh Digital Content Next, sebuah kelompok perdagangan yang mewakili penerbit digital. BEST PROFIT

Sebagian besar data itu “disimpulkan” melalui sarana pasif, termasuk informasi lokasi yang dikirim ke Google bahkan ketika orang tidak aktif menggunakan ponsel Android atau browser Chrome mereka, menurut studi yang dirilis pekan ini. Android dan Chrome adalah buatan Google dan merupakan layanan paling populer di kelasnya masing-masing.

Menurut penelitian itu, ponsel Android aktif menjalankan Chrome dengan latar belakang layanan informasi pengiriman lokasi ke Google sebanyak 340 kali selama periode 24 jam, atau sekitar 14 kali per jam. “Pada akhir hari, Google mengidentifikasi minat pengguna dengan akurasi luar biasa,” tulis Schmidt dalam studi tersebut.

Ketika diminta tanggapan, Google mengatakan, laporan itu memiliki konflik kepentingan. Mengingat Schmidt adalah saksi dalam kasus hak cipta yang melibatkan Google. Laporan ini ditugaskan oleh kelompok pelobi profesional, dan ditulis oleh saksi untuk Oracle dalam litigasi hak cipta yang sedang berlangsung dengan Google. Jadi, tidak mengherankan jika itu mengandung informasi yang sangat menyesatkan,” kata jurubicara Google dalam sebuah pernyataan email seperti dikutip Cnet.com. BESTPROFIT

Sebelumnya, Google dan Oracle terlibat dalam kasus hak cipta atas penggunaan perangkat lunak Java di sistem operasi Android. Pada bulan Maret, pengadilan banding federal Amerika Serikat (AS) membatalkan keputusan sebelumnya, yang mendukung Oracle bahwa Google melampaui prinsip penggunaan wajar ketika menerapkan Java ke sistem operasi ponselnya.

Google saat ini berada di bawah pengawasan masalah privasi. Bulan lalu, Komisi Energi dan Perdagangan AS mengirim surat ke perusahaan induk Google, Alphabet, mempertanyakan bagaimana Google mengumpulkan data melalui layanan lokasi, menara seluler, hotspot Wi-Fi dan koneksi bluetooth, terutama ketika perangkat sedang tidak aktif. Google belum menanggapi pertanyaan itu.

Pekan lalu, investigasi Associated Press menemukan bahwa layanan Google pada perangkat Android dan iPhone melacak dan menyimpan data lokasi, bahkan jika Anda mematikan riwayat lokasi di pengaturan privasi Anda (Harian KONTAN, 15 Agustus 2018). Google kini menghadapi masalah baru.

1 2 3 59