Archive of ‘Teknologi’ category

Kehadiran Bank di Pulau Paling Utara RI Bantu Warga Akses Perbankan

PT Bank Republik Indonesia (Persero) Tbk atau Bank BRI memiliki cabang hampir di seluruh pelosok negeri. Tugas bank pelat merah ini adalah membuat seluruh masyarakat Indonesia yang tadinya tidak memiliki akses perbankan (unbankable) menjadi orang yang memiliki akses terhadap bank (bankable).

Berdasarkan data Financial Inclution Index (Findex) oleh Bank Dunia, hanya ada sekitar 36,5% penduduk Indonesia yang memiliki akun bank. Sedangkan target Bank Indonesia pada 2019 ini naik menjadi 75%. Untuk mencapai target tersebut, Bank BRI meluncur hingga ke pulau-pulau terdepan untuk memastikan seluruh masyarakat Indonesia memiliki akses perbankan.

Salah satu daerah yang tak luput dari jangkauan Bank BRI adalah Pulau Miangas. Sebagai garda terdepan di bagian utara, letak Miangas yang begitu jauh terpisah dari kepulauan Indonesia menyebabkan mayoritas masyarakat Miangas unbankable.

Namun, semenjak kehadiran Bank BRI pada 2016 silam, seluruh masyarakat Miangas memiliki akses terhadap produk perbankan. Hal ini tentu sangat bermanfaat dan menguntungkan bagi masyarakat, terlebih bagi para pedagang di Miangas.

Awalnya, para pedagang di Miangas harus melakukan perjalanan jauh untuk membeli barang-barang dari tengkulak yang ada di Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud. Mereka harus menempuh perjalanan selama sehari semalam untuk sampai di tempat tujuan.

Tak hanya itu, mereka juga harus mengambil risiko membawa uang berjuta-juta untuk membeli barang-barang dagangan itu. Namun, setelah Bank BRI hadir di Miangas, segalanya menjadi berubah.

“Sekarang, to tinggal transfer saja ke toko langganan, nanti mereka kirim barang-barang apa yang kita pesan lewat kapal, jadi senang ada BRI di Miangas,” ujar Yulfitri Kaemung, salah seorang pedagang toko kelontong di Miangas.

Tak hanya itu, sebagai satu-satunya bank yang ada di Miangas, BRI juga menjadi tempat yang aman untuk menabung. Dari anak-anak hingga orang dewasa yang membuka rekening Bank BRI bertujuan untuk menabung.

“Sudah nabung dari kelas 1 SD, uang jajannya dikumpulin lalu ditabung ke Bank. Buat nanti masa depan, kan mau kuliah juga kalau sudah besar, jadi nabung dari sekarang,” ujar Alfia Montesori Lalala, pelajar kelas 4 di SD Negeri Miangas yang sudah menjadi nasabah setia Bank BRI Miangas.

Supervisor Temporary Outlet Bank BRI Miangas, Sujiharto Modeong mengungkapkan, kurang lebih ada 200 nasabah yang aktif melakukan transaksi di Bank BRI Miangas. “Jumlah transaksinya variatif ya, kalau dilihat rata-ratanya sekitar 30-an transaksi per hari,” ujarnya.

Ia juga mengatakan dengan wilayah Miangas yang cukup kecil yakni sekitar 3,2 kilometer persegi dan penduduk kurang lebih 1.000 jiwa, Bank BRI mampu melayani masyarakat Miangas yang ingin melakukan transaksi.

“BRI Temporary Outlet Miangas dapat melayani masyarakat untuk menabung, menggunakan jasa perbankan dan bahkan menikmati pinjaman usaha terutama Kredit Usaha Rakyat (KUR),” ungkapnya.

Kehadiran Bank BRI di wilayah utara Indonesia tersebut, menunjukkan komitmennya untuk memperluas program inklusi keuangan dan melayani masyarakat ke seluruh penjuru negeri.

” Kehadiran kami di sana tentunya sudah menunjukkan komitmen kami untuk masyarakat, bangsa dan NKRI. Istilahnya kami hadir di sana lebih sekadar bisnis,” pungkasnya.

Produsen Didorong Buat Mobil Hibrida Harga Rp200 Jutaan

Mobil hybrid, plug-in hybrid dan listrik di Indonesia harganya masih relatif mahal. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong produsen otomotif membuat kendaraan hybrid dan listrik harga terjangkau untuk konsumen di Indonesia.

Pasar otomotif Indonesia didominasi mobil harga Rp200 juta sampai Rp250 juta. Rentang harga itu bisa menjadi acuan produsen dalam menciptakan mobil hybrid dan listrik.

“Di dalam konsep LCEV (Low Carbon Emmision Vehicle) kami membuka ruang kendaraan bisa harga segitu [Rp200 jutaan]. Jadi konsep mild hybrid,” kata Direktur Jenderal Industri, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (3/10).

Harga terjangkau mobil ramah hybrid diprediksi akan mendongkrak pasar mobil ramah lingkungan. Pemerintah terus mendorong industri kendaraan bermotor listrik, salah satu buktinya dengan mengumumkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai resmi diundangkan pada 12 Agustus 2019.

“Jadi cukup bisa menurunkan emisi atau efisiensi bahan bakar. Tapi terjangkau. Jadi step-by-step. Karena kalau di-push suruh (masyarakat) beli mobil listrik langsung mahal, tidak ‘nendang’ nanti,” katanya.

Seperti diketahui beberapa brand sudah mulai menjual kendaraan ramah lingkungan di Indonesia, namun harganya masih relatif mahal dan belum ada insentif dari pemerintah. Karena itu menurut Harjanto menghadirkan mobil ramah lingkungan dengan harga terjangkau penuh tantangan.

“Makanya kami melihat nanti mendorong size baterai mainkan di situ sehingga mereka bisa menggunakan listrik plug-in dan menurunkan emisi, tapi harga terjangkau. Beberapa pabrikan sudah berpikir ke sana,” kata dia.

Presiden Direktur Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Naoya Nakamura mengaku sudah berdiskusi dengan pemerintah terkait pengembangan power train kendaraan listrik. Nakamura menyebut bahwa konsep hibrida harga terjangkau menarik untuk dikembangkan.

“Tentu mild hybrid perlu dipertimbangkan sebagai teknologi baru, tapi tidak hanya itu hybrid, plug-in, serta BEV (mobil murni listrik) juga potensi besar,” ucap Nakamura.

“Dan itu (mobil mesin bakar) tidak bisa dihapus begitu saja. Dan tentu realitas harus step-by-step menuju ke mobil listrik. Kami juga memikirkan generasi berikutnya power train yang akan diperkenalkan di Indonesia,” ucap Nakamura.

China Sukses Kloning Kucing, Kesamaan Fisik Capai 90 Persen

Perusahaan asal China, Sinogene untuk pertama kalinya melaporkan berhasil mengkloning seekor kucing. Garlic, kucing yang berhasil dikloning merupakan jenis British Shorthair.

Perusahaan yang berbasis di Beijing ini mengatakan hewan hasil kloning memiliki urutan genetik yang konsisten dengan hewan aslinya.

“Hewan hasil kloning dan hewan peliharaan hasil kloning memiliki urutan genetik yang konsisten, sehingga gen yang terkait dengan gen tersebut akan identik. Seperti bentuk, struktur tubuh, kemampuan bawaan dan sebagainya,” tulis keterangan dalam situs resmi perusahaan seperti dilaporkan AFP.

Pemilik Garlic mengaku puas dengan hasil kloning kucing abu-abunya tersebut. Ia mengatakan Garlic baru secara fisik terlihat sangat mirip dengan Garlic asli.

Huang, pemilik Garlic mengatakan kesamaan antara kedua kucing lebih dari 90 persen. Ia juga berharap kucing kloningnya itu memiliki perilaku dan karakter yang sama pula.

Untuk bisa mengadopsi Garlic, Sinogene membebani calon pemilik dengan uang tebusan sebesar 250 ribu yuan atau sekitar Rp495 juta (1 yuan= Rp1.981).

CEO Sinogene Mi Jidong mengatakan meskipun harganya terbilang tinggi, tetapi tak jarang juga kliennya berpenghasilan tinggi. Bahkan menurutnya, banyak anak muda yang baru lulus yang menjadi kliennya. Selain mengkloning kucing, perusahaan juga meniru anjing dan kuda.

“Apa pun asal usul hewan peliharaan, pemilik akan melihatnya sebagai bagian dari keluarga. Kloning hewan peliharaan memenuhi kebutuhan emosional generasi muda,” kata Mi.

Saat ini bisnis hewan peliharaan di China sedang tumbuh sehingga bisnis kloning hewan dianggap menjanjikan. Laporan Pet Fair Asia dan situs hewan peliharaan Goumin.com mencatat pengeluaran pemilik hewan peliharaan di China pada 2018 mencapai 170,8 miliar.

1 2 3 4 5 79