Gringgo, Aplikasi Deteksi Sampah Pakai Kecerdasan Buatan

Teknologi dapat mempermudah pengangkut sampah untuk mendeteksi jenis sampah. Deteksi ini dapat dilakukan menggunakan Gringgo merupakan aplikasi yang dibuat oleh Yayasan Gringgo Indonesia.

Aplikasi ini dibuat untuk mendeteksi berbagai jenis sampah menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Co-Founder sekaligus Chief Technology Officer Gringgo, Febriadi Pratama menjelaskan bahwa untuk saat ini aplikasi buatannya dan tim diperuntukkan untuk para pengangkut sampah yang ada di Bali.

“Jadi orang-orang kebanyakan pengangkut sampah tuh mereka sudah tahu bahwa itu [sampah plastik] sudah ada value-nya. Kita mau fokus di situ dulu sama hal-hal kecil misal sampah popok ada value-nya,” kata Febriadi di kantor Google Indonesia, Jakarta, Senin (27/5).

“Baru kami akan ngembangin ke sampah secara keseluruhan, memang takes time karena kami tahu kan image recognation tidak hanya satu lalu bisa dikenali. Kami butuh ribuan gambar untuk benar-benar akurat dan itu target kami,” lanjut dia.

Lebih lanjut Febriadi mencontohkan, sampah popok jarang diambil oleh pengangkut sampah karena dinilai tidak ada nilai jual maupun didaur ulang. Namun, menurut dia sampah popok bisa didaur ulang.

“Misal popok itu kalau dibuka banyak lapisan-lapisan yang sebenarnya bisa didaur ulang tapi enggak banyak orang tahu dan memang tidak semua pabrik itu ada untuk bisa mendaur ulang itu [popok],” jelasnya.

Ditanya soal kesulitan dalam mengidentifikasi jenis sampah, Febriadi mengatakan kesulitan yang ia dan tim hadapi ialah bercampur beragam sampah sehingga akurasi belum tepat.

Maka dari itu, Gringgo bakal membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin membantu untuk mengumpulkan data soal jenis sampah agar identifikasi menjadi lebih tepat.

“Mungkin karena kebanyakan sampah nyampur, jadi akurasi jadi salah satu kunci yang benar-benar supaya akurat. Jadi jangan sampai botol Aqua jadi botol Ades atau botol plastik jadi ember,” tutur Febriadi.

“Pengumpulan data di awal jadi salah satu kendala karena untuk satu item sampah kita butuh banyak data dan memang goalnya nanti tidak semua pengumpulan data enggak hanya kita, tapi siapapun bisa ikut terlibat,” sambungnya.

Selain itu, Gringgo pun menargetkan untuk jangka panjang pihaknya ingin mengembangkan sistem identifikasi jenis sampah bisa diidentifikasi menggunakan kode QR.

“Salah satu long term goal kita, kita ingin punya sistem dimana trash ability itu jadi satu poin yang akan kita masukkan ke dalam sistem kita. Jadi misal botol minum pada saat kita cek barcodenya, bisa ke track botol minum ini asalnya dari mana,” ujar Febriadi.

Terkait aplikasi Gringgo, Febriadi mengatakan Gringgo belum diperkenalkan secara masif di Play Store maupun Apps Store. Ia mengatakan pihaknya masih melakukan uji coba secara internal.

Yayasan Gringgo Indonesia merupakan salah satu dari 20 organisasi nonprofit dan perusahaan yang

bergerak di bidang sosial dari 12 negara yang menerima hibah dari Google AI Impact Challenge, dari total 2.600 peserta.

Comments are closed.