Harga Emas dan Perak Tertekan Pasca Data IFO

BESTPROFIT PEKANBARU – Perdagangan bursa komoditas logam mulia di hari Senin(24/11), harga emas dan perak terpantau turun pasca dirilisnya data index Business Climate Jerman, ketika permintaan dolar AS terus berlanjut yang ditopang kuat oleh perbedaan kebijakan moneter antara The Fed dengan bank sentral di Asia dan Eropa.

BESTPROFIT

BESTPROFIT

Selama berlangsungnya perdagangan di sesi Eropa, emas berjangka pengiriman Februari telah diperdagangkan lebih rendah 0.13% di level $1.196.90 per troy ounce di divisi Comex, New York Mercantile Exchange. Sejak perdagangan pagi ini, harga emas terpantau menyentuh level $1.194.20 untuk sesi terendah harian dan level $1.204.40 untuk sesi tertinggi harian.

Sedangkan pada perak berjangka pengiriman Maret telah diperdagangkan lebih rendah 0.30% di level $16.410 per troy uonce, dengan menyentuh level $16.310 untuk sesi terendah harian dan level $16.530 untuk sesi tertinggi harian.

Pelemahan bagi harga emas terjadi setelah sebuah laporan resmi yang dirilis oleh IFO Institute for Economic Research menyatakan bahwa index Business Climate di wilayah Jerman telah mengalami kenaikan yang disesuaikan secara musiman menjadi 104.7 di bulan November, dari 103.2 di bulan Oktober.

Dukungan permintaan bagi dolar AS terus berlanjut setelah terjadinya perbedaan langkah kebijakan yang ditempuh di antara Bank Sentral AS dengan bank sentral di wilayah Asia dan Eropa.

Perbedaan kebijakan ini bermula dari wilayah Asia, ketika People Bank of China menyatakan untuk melakukan pemangkasan pada tingkat suku bunga deposito sebanyak 25 basis poin menjadi 2.75%, sedangkan untuk tingkat suku bunga pinjaman telah mengalami kenaikan sebanyak 40 basis poin menjadi 5.6%.

Sementara itu, untuk wilayah zona euro, Presiden Bank Sentral Eropa menyatakan bahwa bank sentral siap memperluas program stimulus mereka saat ini guna menaikan tingkat inflasi wilayah zona euro.

Meski demikian, kedua kebijakan tersebut terlihat berbeda dengan apa yang ditempuh oleh Bank Sentral AS, dimana The Fed justru telah melakukan pengetatan kebijakan dengan mengakhiri program pembelian obligasi mereka pada bulan Oktober lalu.

Sumber : Financeroll

Comments are closed.