Harga Minyak Dunia Anjlok Nyaris 3 Persen

Harga Minyak Dunia Anjlok Nyaris 3 PersenIlustrasi minyak dunia. (REUTERS/Stringer).

PT.Bestprofit — Harga minyak mentah dunia merosot hampir tiga persen pada perdagangan Kamis (6/12), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya mengakhiri pertemuan tanpa mengumumkan kesepakatan pemangkasan produksi.

Dilansir dari Reuters, Jumat (7/12), harga minyak mentah berjangka Brent melorot US$1,5 atau 2,4 persen menjadi US$60,06 per barel setelah sempat tertekan ke level US$58,36 per barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,4 atau 2,7 persen menjadi US$51,49 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga WTI sempat merosot ke level US$50,08 per barel.

Kedua harga minyak acuan global tersebut telah anjlok lebih dari 25 persen sejauh ini pada kuartal IV.

Kemarin, negara anggota OPEC bertemu di Wina, Austria, untuk memutuskan kebijakan pemangkasan produksi. Pertemuan itu dihadiri oleh perwakilan negara-negara sekutunya termasuk RUsia, Oman, dan Kazakhstan.

Secara tentatif, OPEC menyetujui rencana pemangkasan produksi tersebut. Namun, kartel tersebut masih menunggu komitmen dari Rusia untuk memutuskan besaran pemangkasan produksi.

Menteri Energi Rusia Alexander Noval meninggalkan Wina lebih awal untuk berbicara dengan Presiden Vladimir Putin di Saint Petersburg, Rusia. Jumat ini, ia kembali ke ibu kota Austria untuk melanjutkan pembicaraan dengan anggota OPEC dan negara sekutu lainnya.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih menyatakan OPEC membutuhkan Rusia untuk bekerja sama.Ia juga mengatakan keputusan terkait pemangkasan produksi kemungkinan baru akan diumumkan pada Jumat malam.

“Jika setiap negara tidak ingin bergabung dan berkontribusi secara adil, kami akan menunggu sampai mereka menginginkannya,” kata al-Falih.

Pemerhati pasar berekpektasi pemangkasan produksi akan berkisar satu juta hingga 1,4 juta bph. Pertemuan OPEC dan non-OPEC dijadwalkan akan berlangsung pada Jumat pukul 11.00 GMT.

“Seluruh mata tertuju pada deklarasi bersama OPEC+ dan pemangkasan produksi gabungan setidaknya satu juta barel per hari akan diperlukan agar bisa berarti untuk pemulihan harga minyak,” ujar Analis Energi Senior Interfax Energy Abhishek Kumar di London seperti yang dikutip dari Reuters.

Di sisi lain, harga mendapatkan topangan setelah data persediaan minyak mentah AS merosot pekan lalu. Penurunan tersebut merupakan yang pertama sejak September.

Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA), stok minyak mentah AS telah terkerek selama 10 pekan berturut-turut seiring kenaikan produksi AS yang mencapai 11,7 juta bph.

Namun, pada pekan lalu, AS menjadi eksportir bersih minyak mentah dan produk kilang untuk pertama kalinya sejak 1973 dengan ekspor bersih mencapai 210 ribu bersih. Adapun besaran ekspor minyak mentah dan produk kilang melonjak menjadi 3,2 juta bph.

Harga minyak mentah telah keok hampir sepertiga sejak Oktober lalu. Sebagian penurunan disebabkan oleh kekhawatiran membanjirnya pasokan akibat kenaikan produksi di AS, Arab Saudi, dan Rusia. Ketiga negara itu diketahui sebagai produsen minyak terbesar di dunia.

Sementara, produksi minyak OPEC telah menanjak sebesar 4,1 persen sejak pertengahan tahun ini menjadi 33,31 juta bph.


Dalam laporan proyeksi globalnya, Barclays menilai investor perlu menurunkan ekspektasinya ke depan. Barclays juga menilai tahun depan akan menjadi tahun di mana tingkat pengembalian akan merosot tetapi volatilitas meningkat.

Barclays memprediksi pertumbuhan ekonomi global bakal melambat selama beberapa kuartal ke depan meski tidak ada perekonomian utama dunia yang mendekati resesi.

Wakil Kepala Bidang Perminyakan Makro Wood Mackenzi Ann-Louis Hittle memproyeksi rata-rata pertumbuhan permintaan minyak global akan berkisar 1,1 juta bph pada 2018 dan 2019.

“(Pertumbuhan permintaan) ini melawan pertumbuhan produksi negara non-OPEC yang pesat. Kekuatan produksi non-OPEC menciptakan tekanan kepada OPEC untuk memangkas produksi pada 2019 dari levelnya baru-baru ini,” tandas Hittle.sumber:Cnnindonesia.com

Leave a Reply