Harga minyak terbang, laba industri maskapai tak akan setinggi target

Pesawat udara lepas landas di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (13/6). Pengelola Bandara I Gusti Ngurah Rai menerima 369 penerbangan tambahan dengan total kapasitas 66.366 tempat duduk untuk melayani penumpang selama masa angkutan Lebaran 2017. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc/17.

PT BESTPROFIT Industri maskapai pesimis mencapai rekor laba di tahun 2018, seperti yang sempat diperkirakan pada Desember lalu. Kenaikan harga bahan bakar minyak menggerus optimisme ini. Chief Executive International Air Transport Association (IATA) Alexandre de Juniac meramal, industri maskapai masih berpeluang mencetak pertumbuhan keuntungan.

Kami mungkin sudah di puncak siklus laba. Tahun depan kami belum memprediksikan, tapi sepertinya tak lebih positif,” kata Juniac sebelum pertemuan IATA tahunan pada Minggu, seperti dikutip Reuters. Organisasi maskapai ini akan merilis proyeksi baru mengenai profit industri pada pekan depan. BEST PROFIT

Desember lalu, IATA membuat perkiraan laba maskapai dengan asumsi harga minyak mentah dunia US$ 60 per barel. Saat ini, harga minyak sudah menguat 15% ke lvel US$ 77 per barel.

Prediksi IATA ketika di tahun lalu, industri airline meraup laba US$ 38,4 miliar di tahun 2018, dengan kontribusi US$ 27,9 miliar dari maskapai Amerika Serikat dan Uni Eropa. IATA mewakili 280 maskapai dunia, atau sekitar 83% pengisi lalu lintas udara dunia. BESTPROFIT

Comments are closed.