Inflasi, China Catat Kenaikan Harga Makanan 13,2 Persen

Inflasi China naik tipis pada Juli 2020 di tengah masa pemulihan ekonomi pandemi covid-9. Biro Statistik China mencatat inflasi disebabkan kenaikan harga pangan lantaran terganggunya pasokan pangan akibat bencana banjir di berbagai wilayah.
Indeks Harga Konsumen (IHK), yang digunakan sebagai indikator pengukur utama inflasi ritel, melonjak dalam setahun terakhir setelah ternak babi China dilanda demam babi Afrika, serta terganggunya rantai pasokan akibat covid-19.
Sementara itu, inflasi konsumen yang mereda sejak Januari kembali naik lagi dalam beberapa bulan terakhir dengan level IHK mencapai angka 2,7 persen.
Posisi tersebut tepat di atas prediksi para analis dalam jajak pendapat yang dilakukan Bloomberg, yakni inflasi 2,6 persen.
Ahli statistik senior Dong Lijuan mengatakan harga makanan naik 13,2 persen year on year (yoy) disebabkan oleh kenaikan harga daging babi hingga 85,7 persen
“Dengan pulihnya pelayanan katering secara bertahap, permintaan daging babi terus meningkat”, kata Dong seperti dikutip AFP Senin (10/8).
Kenaikan tersebut juga dibarengi dengan banjir di banyak daerah China yang mengganggu jaringan distribusi dan pengangkutan babi hidup, sehingga mengakibatkan pasokan tetap terbatas.
“Harga sayuran juga naik, dipengaruhi oleh cuaca yang tidak mendukung”, lanjut Dong
Lebih lanjut, Indeks Harga Produsen (IHP) turun 2,4 persen dari Juli tahun lalu. Meski demikian, penurunan tersebut masih lebih baik ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai 3 persen. Penurunan IHP juga masih di bawah perkiraan para analis, yakni 2,5 persen.
Harga di tingkat pabrik yang sempat jatuh terdampak pandemi corona mulai naik lagi pada Juni, seiring dengan prediksi para analis soal pemulihan tingkat permintaan industri.
Saat ini, ekonomi China mulai bangkit dari kontraksi terdalam sepanjang sejarah akibat pandemi corona pada kuartal I 2020.

Comments are closed.