Ini Dia Risiko Ekonomi RI di 2015

BESTPROFIT PEKANBARU – Kondisi perekonomian Indonesia di tahun ini masih menghadapi sejumlah risiko dari perekonomian global. Bank Indonesia (BI) mengaku telah bekerjasama dengan pemerintah, untuk bisa mencoba menahan gempuran risiko dari luar tersebut. Apa saja?

the fedDeputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, risiko global yang dihadapi perekonomian Indonesia saat ini antara lain, normalisasi kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Kondisi perekonomian AS saat ini memang dikatakan sejumlah pihak sudah normal pasca krisis hebat di 2008, sehingga The Fed diprediksi bakal menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini.

Bila kenaikan bunga ini terjadi, maka likuiditas dolar AS yang selama ini ditaruh di negara-negara berkembang, akan balik lagi ke negara asalnya, alias pulang kampung. Kondisi ini bakal membuat dolar menguat dan menekan rupiah. Dalam data BI, pertumbuhan ekonomi AS tahun ini akan mencapai 3,2%, dari tahun lalu 2,4%.

Sekarang saja, spekulasi soal rencana kenaikan bunga acuan The Fed, telah membuat dolar menguat dan menekan sejumlah mata uang termasuk rupiah.

“Risiko dari sisi global adalah, normalisasi kebijakan The Fed. Bukan hanya kenaikan bunga acuan, tapi kenaikan dolar, atau pelemahan euro yang terjadi saat ini, Penguatan dolar harus kita antisipasi,” jelas Perry di Bintan, Kepulauan Riau, MInggu (29/03/2015).

Selain The Fed, proyeksi penurunan perekonomian China juga bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia. Bisa terjadi penurunan permintaan ekspor dari China, serta turunnya harga komoditas, karena permintaan dari China turun.

Data BI menyebutkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi China di tahun ini adalah 6,9%. Angka ini mengalami penurunan dari realisasi di 2014 lalu sebesar 7,4%.

Sementara risiko ekonomi dari dalam negeri adalah, angka defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang harus diturunkan. BI menargetkan tahun ini, defisit transaksi berjalan bisa turun ke 3%. Langkah pemerintah yang mengeluarkan sejumlah paket kebijakan, bisa membantu defisit transaksi berjalan turun. Selain itu, anggaran infrastrutur yang rencananya mulai berjalan di triwulan II-2015 ini diharapkan bisa menggerakkan ekonomi di dalam negeri.

“Secara keseluruhan, BI melihat di 2015 kondisi ekonomi akan lebih baik dari 2014. Pertumbuhan ekonomi menurut BI akan naik dari 5,1% di 2014 menjadi 5,5%. Sementara inflasi, dari 8,3% bisa menjadi 4% plus minus 1%. CAD bisa 3% dari PDB, dengan catatan, kenaikan belanja modal direalisasikan,” kata Perry.

BI, kata Perry, akan selalu melakukan stabilitas moneter untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang (emerging market) yang kredibel perekonomiannya.

Untuk bisa menjadikan perekonomian Indonesia kredibel, Perry mengatakan, kebijakan fiskal juga harus dijaga prudent, dengan cara menjaga defisit anggaran tetap terkendali. Kebijakan insentif pajak juga bisa menjadi pendorong agar investasi masuk ke dalam negeri, mendorong ekspor dan mengurangi impor.

“Sektor industri juga harus mampu menjadi bagian dari mata rantai di regional dan global. Ini telah terjadi untuk sektor otomotif dan kelapa sawit,” kata Perry.

Sumber : http://finance.detik.com/read/2015/03/30/065413/2872993/4/2/ini-dia-risiko-ekonomi-ri-di-2015

Comments are closed.