Inilah Target Realistis Ekonomi Indonesia 2014

BESTPROFIT PEKANBARU – Melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2014 sebesar 5,01 persen, dibandingkan kuartal II-2014 yang mencapai 5,12 persen mengindikasikan target kuartal IV tahun ini harus realistis.tanahdalam

Optimisme pemerintah baru di bawah kepemimpinan Jokowi dan Jusuf Kalla yang membidik pertumbuhan hingga tujuh persen, tampaknya agak sulit terwujud bila ditarget di akhir 2014.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia secara kumulatif sepanjang periode Januari-September 2014, atau dari kuartal I hingga kuartal III tahun 2014 tumbuh sebesar 5,11 persen.

“Kalau mau realistis, sepertinya pertumbuhan tujuh persen tidaklah mungkin tahun ini. Bisa bertahan di level 5,2 persen sampai 5,5 persen saja sudah baik, mengingat tren dunia yang memang sedang melambat,” ungkap Arman Boy Manullang, pengamat ekonomi kepada VIVAnews, Kamis 6 November 2014.

Arman menjelaskan, perlambatan yang terjadi sebagai dampak dari globalisasi. Menurut dia, apa pun ceritanya, ekonomi Indonesia pasti terintegrasi dengan pertumbuhan global.

Setidaknya, ada dua negara yang juga mengalami perlambatan ekonomi di kuartal III-2014, yakni Tiongkok dan Jepang. Masing-masing negara yang merupakan ekonomi terbesar di dunia tersebut hanya tumbuh sebesar 7,8 persen dan 0,2 persen.

“Kondisi ini, ditambah lagi dengan harga komoditas yang belum pulih, malahan masih mengalami tren turun juga. Kalau isu gonjang-ganjing politik dalam negeri, relatif tidak terpengaruh lagi ke fundamental ekonomi Indonesia saat ini, dan masih dalam batas dinamika politik yang wajar,” jelasnya.

Hal penting lainnya, yang dapat menghambat laju ekonomi Indonesia, Arman menekankan, yaitu rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. “Jelas akan memengaruhi inflasi, akhirnya akan mendiskon pertumbuhan ekonomi riil,” tuturnya.

Sebab itu, ia memperkirakan, hingga akhir tahun ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan melambat. Menurut dia, efek dari gebrakan yang dilakukan pemerintahan baru tidak akan mungkin muncul ke perbaikan ekonomi pada tahun ini.

“Tahun depan, setidaknya di kuartal kedua mungkin baru akan mulai terlihat perbaikan. Sambil berharap, semoga harga komoditas juga akan merangkak naik. Industri-industri juga mulai tumbuh serta aliran modal mulai kembali deras masuk ke Indonesia,” ujar Arman.

Di sisi lain, ia pun mengharapkan, sektor investasi dapat menolong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika kondisi ini berjalan, akan mengurangi ketergantungan pertumbuhan ekonomi terhadap konsumsi dan harga komoditas,” tambahnya.

Rupiah menguat tipis di kisaran Rp11.900-Rp12.000

Sementara itu, pengamat ekonomi Telisa Aulia Felianty, mengatakan bahwa sisa waktu yang kurang dari dua bulan ke depan memberikan ruang gerak yang sempit bagi pemerintah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

“Selain faktor rencana kenaikan BBM di bulan November, jangan lupa juga dengan pasar uang yang sedang mengalami turbulensi. Faktor panggung politik kita yang masih seru justru menjadi penyebab instabilitas terhadap pasar uang, ditambah dengan pengaruh global dari The Fed,” kata kepada VIVAnews.

Telisa pun menyarankan, apabila harga BBM jadi dinaikkan, pemerintah harus smart dalam menggunakan dananya. “Alokasikan dana tersebut untuk yang paling bermanfaat, salah satunya infrastruktur. Jokowi pernah berjanji akan membangun pelabuhan, maka minimal ada satu pelabuhan yang dibangun dalam jangka waktu dekat. Belum lagi, bicara mengenai peningkatan maritim, banyak sekali memang tugas pemerintah baru ini,” terangnya.

Menanggapi penguatan nilai tukar rupiah hingga akhir tahun ini, Telisa memprediksi rupiah akan mengalami penguatan tipis dan bergerak di kisaran Rp11.900-Rp12.000.
Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia Kamis 6 November 2014, rupiah dipatok pada level perdagangan Rp12.179 per dolar AS.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, Rabu 5 November 2014, posisi rupiah berada di level Rp12.092 per dolar AS. Adapun pada sesi Selasa 4 November 2014, rupiah ditransaksikan di pasar spot pada level Rp12.130 per dolar AS.

Sumber : Vivanews

Comments are closed.