Investasi Energi Terbarukan Diklaim Bisa Redam Tekanan Corona

Survei Universitas Oxford menunjukkan investasi pada energi terbarukan penting dijalankan untuk memulihkan ekonomi yang tertekan akibat virus corona. Survey dilakukan terhadap 231 responden pejabat Kementerian Keuangan, Bank Sentral, dan 53 Ekonom dunia termasuk Indonesia.

Namun, salah satu penulis riset dari laporan Universitas Oxford Brian O’Callaghan menyebut untuk mewujudkan investasi tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Untuk Indonesia misalnya, investasi di sektor energi terbarukan bertentangan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani merespons penanganan wabah virus corona dengan kebijakan yang bertentangan dengan prinsip energi terbarukan seperti memberikan diskon bahan bakar pesawat.

“Responden survei global ini termasuk para pakar dan ekonom di Indonesia. Belanja Indonesia dalam merespons covid-19 sejauh ini relatif netral terhadap isu iklim, tetapi ada sejumlah kebijakan yang negatif untuk iklim seperti pemberian insentif untuk maskapai dan diskon bahan bakar pesawat di bandara,” jelas Brian O’Callaghan dalam rilis resmi yang diterima

pada Selasa (5/5).

Penulis utama riset sekaligus Direktur Smith School of Enterprise and Environment Universitas Oxford Cameron Hepburn mengatakan bahwa hasil survei tersebut menunjukkan adanya hubungan kuat antara ekonomi dan lingkungan.

Sementara, ada lima kebijakan yang dibutuhkan selama proses pemulihan perekonomian global. Yaitu, investasi kesehatan, kesiapsiagaan bencana, belanja riset, pemberian dana talangan untuk organisasi non-profit, dan investasi infrastruktur energi bersih.

“Pengurangan emisi akibat covid-19 hanya sementara. Laporan ini menunjukkan bahwa kita dapat memilih untuk membangun kembali dengan lebih baik dan menjaga agar tetap ada perbaikan seperti udara yang lebih bersih, kedekatan kembali dengan alam, dan mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata Cameron.

Dia menyarankan para kepala negara untuk mengambil kebijakan fiskal yang menawarkan perbaikan ekonomi sekaligus berdampak positif bagi iklim. Perbaikan yang mereka sarankan antara lain dengan menggenjot investasi infrastruktur dalam bentuk aset energi terbarukan, pengembangan teknologi penyimpanan energi (termasuk hidrogen), modernisasi jaringan, dan belanja teknologi terkait.

Tak hanya itu, juga disebutkan bahwa pembangunan infrastruktur energi bersih cenderung bersifat padat karya, sehingga lapangan pekerjaan dapat diciptakan hingga dua kali lipat dibandingkan investasi bahan bakar fosil.

“Energi bersih tidak hanya terjangkau dan dapat diandalkan, tetapi juga menawarkan pengembalian investasi tertinggi. Investor memiliki selera yang semakin besar untuk menggunakan uangnya di bidang keuangan berkelanjutan. Pemerintah perlu menulis ulang peraturan sehingga mereka bisa (merealisasikan itu),” ungkap Direktur Centre for Climate Finance Imperial College Business School Charles Donovan.

Ia menambahkan, kebijakan pemberian insentif untuk maskapai, dukungan likuiditas ke perusahaan besar, bantuan pelaporan kebangkrutan perusahaan, dan penundaan pajak bisnis dinilai memiliki efek domino (multiplier effect) yang buruk dalam jangka panjang maupun dalam mengatasi perubahan iklim.

1Pingbacks & Trackbacks on Investasi Energi Terbarukan Diklaim Bisa Redam Tekanan Corona