Investor Menanti Kepastian Suku Bunga The Fed Bayangi Harga Emas

BESTPROFIT PEKANBARUBESTPROFIT PEKANBARU – Harga emas berjangka kembali berada di bawah level US$ 1.200 per ounce di awal pekan. Tekanan harga emas itu dipicu dolar Amerika Serikat (AS) kembali naik seiring investor mempertimbangkan waktu kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS/The Federal Reserve.

Harga emas berjangka untuk pengiriman Juni turun US$ 5,3 (0,4 persen) menjadi US$ 1.199,30 per ounce di divisi COMEX. Sementara itu, harga perak melemah 9,1 sen (0,6 persen) menjadi US$ 16,291 per ounce.

“Harga emas terus menerus berfluktuaktif, dan berjuang untuk bertahan di atas level US$ 1.200. Ini level psikologis kritis. Namun masih memegang level support di US$ 1.180,” ujar Naeem Aslam, Chief Market Analyst AvaTrade, seperti dikutip dari Marketwatch, Selasa (14/4/2015).

Aslam menambahkan, kegiatan utama pada pekan ini akan membawa “kepastian” kapan The Fed akan menaikkan suku bunga. Anggota FOMC akan melaporkan harga dan penjualan ritel pada pekan ini.

Harapan kenaikan suku bunga The Fed pada musim panas ini mempengaruhi laju harga emas. Langkah menaikkan suku bunga berdampak positif terhadap dolar AS dan imbal hasil obligasi. Imbal hasil obligasi AS lebih tinggi bisa berdampak negatif untuk emas.

Namun laporan Bank of America Merrill Lynch menyatakan, tekanan jangka pendek untuk harga emas dapat memberi jalan kenaikan harga emas. Tingkat suku bunga surat utang atau obligasi pemerintah di Eropa sebagian besar mendekati nol dan negatif telah mendukung harga emas.

“Meskipun suku bunga turun, dan bahkan negatif di sebagian besar dunia, reli berkelanjutan sejauh ini di harga emas tidak terjadi. Hal itu karena The Fed tetap teguh pada normalisasi kebijakan suku bunga dengan semua implikasi termasuk dolar AS,” tulis laporan Bank of America Merrill Lynch.

Harga emas diperkirakan dapat kembali naik, dan tembus level US$ 1.500 per ounce pada 2017.  Selain kebijakan harga emas, penguatan dolar AS juga menekan harga emas.

Comments are closed.