Kerusuhan Bikin Kegiatan Ekonomi Wamena Lumpuh

Kerusuhan yang terjadi di Kota Wamena, Papua melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat lebih dari sepekan terakhir. Ribuan warga mengungsi, meninggalkan usaha, dan harta bendanya.

Kerusuhan di Wamena bermula dari tawuran antarpelajar di Jalan Yos Sudarso. Namun, kerusuhan terus membesar hingga akhirnya memaksa warga untuk mengamankan diri ke kota lain.

Tak hanya itu, kerusuhan juga membuat masyarakat sulit mendapatkan kebutuhan sehari-sehari. Kalaupun ada, harganya selangit.

Harga BBM, misalnya, melambung tinggi dari kisaran Rp20 ribu per liter menjadi Rp80 ribu-Rp100 ribu per liter. Tak sampai di situ, kerusuhan juga turut mempengaruhi berbagai aktivitas ekonomi lain.

mencatat setidaknya ada beberapa sektor industri setempat yang akan ‘kena getah’ dari kerusuhan ini. Mulai dari industri makanan dan minuman, gerabah, anyaman, hingga kayu.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Heri Firdaus menilai kerusuhan di Wamena secara langsung akan menekan industri di wilayah tersebut. Sebab, industri yang ada, berskala kecil dan menengah digerakkan langsung oleh masyarakat setempat.

“Ini rentan membuat industri langsung berhenti di tengah jalan, apalagi ketika warga sudah mulai mengungsi ke kota lain,” ucap Ahmad

Untuk itu, menurutnya, pemerintah perlu segera mengamankan Wamena dari berbagai kerusuhan yang menimbulkan rasa takut dari pelaku ekonomi daerah tersebut.

Kendati begitu, Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menilai dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh kerusuhan Wamena tidak serta merta akan menggoyangkan ekonomi nasional.

Toh, kontribusi Papua terhadap PDB (Produk Domestik Bruto/pertumbuhan ekonomi) tidak sampai 2 persen, kecuali kalau Jawa yang bergejolak, dia (kontribusinya) sampai 58 persen,” tuturnya.

Kendati dampak kerugian ekonomi dari kerusuhan Wamena di atas kertas tidak besar, Faisal menggarisbawahi kerusuhan tetap harus menjadi perhatian pemerintah. Sebab, dampaknya sudah terasa secara regional.

Berdasarkan catatannya, pertumbuhan ekonomi Papua dan Maluku memang tengah melambat sekitar 11,8 persen sepanjang paruh pertama tahun ini. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi bakal kian seret bila kerusuhan tak juga usai.

Ia juga khawatir perlambatan ekonomi di wilayah timur Indonesia bisa menembus kondisi terparah yang pernah terjadi saat krisis moneter lalu, yaitu minus 13,2 persen. “Jadi tidak ada sense of urgency, tapi ada sense of empathy,” katanya.

Oleh karena itu, sambung dia, pemerintah perlu segera menindaklanjuti kerusuhan di Wamena agar tidak menimbulkan potensi dampak kerugian ekonomi yang lebih besar di kemudian hari. Selain itu, pemerintah juga perlu merancang ulang pemenuhan kebutuhan pembangunan di Papua.

Pemerintah memang kerap mengklaim sudah membangun Papua. Sayangnya, menurut Faisal, pendekatan yang dilakukan seringkali tidak tepat sasaran. Hal ini membuat pembangunan masih minim dampaknya bagi kemajuan provinsi tersebut.

“Dana pembangunan yang dikasih ke Papua bisa jadi mismatch, orang Papua butuh menu yang beda dibandingkan orang Jawa. Jadi menunya harus cocok, petakan lagi infrastruktur apa yang cocok di Papua,” pungkasnya.

Comments are closed.