Ketidakpastian Kesepakatan Dagang AS-China Tekan Harga Minyak

Harga minyak merosot lebih dari satu persen pada perdagangan Senin (18/11), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi seiring pelemahan bursa saham AS lantaran ketidakpastian atas kesepakatan perdagangan antara AS dan China.

Dilansir dari Antara, Selasa (19/11), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level US$62,44 per barel atau merosot 1,4 persen. Pekan lalu Breny menguat 1,3 persen.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sebesar 1,2 persen menjadi US$57,05 per barel. Kondisi ini berbalik dari pekan lalu di mana WTI naik 0,8 persen.

Di AS, tiga indeks saham utama Wallstreet keok dari rekor tertinggi pekan lalu. Analis menilai pelemahan terjadi akibat dirilisnya laporan yang memantik kekhawatiran pasar terhadap perkembangan negosiasi dagang AS-China.

“Minyak mentah telah menjadi sangat reaktif terhadap arah angin manapun yang bertiup dalam pembicaraan perdagangan (AS-China). Ketika (progres) terputus-putus, harga akan dihukum,” ujar Mitra Again Capital LLC John Kilduff di New York.

Analis telah memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dan memperkirakan timbulnya pasokan berlebih pada 2020 menyusul perlambatan pertumbuhan global akibat perang dagang.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pekan lalu memperkirakan permintaan minyak bakal jatuh pada 2020. Kondisi ini membuka peluang bagi OPEC dan sekutunya (OPEC+) untuk melanjutkan kebijakan pembatasan produksi.

Pimpinan Lipow Oil Associates Andy Lipow menilai ekspektasi permintaan musim yang lebih rendah untuk bensin di AS juga menekan harga minyak.

Di saat yang sama, pasar juga tertekan oleh kekhawatiran akan melimpahnya pasokan minyak pada 2020.

Pekan lalu, pasokan minyak AS meningkat 1,1 juta barel. Artinya, kenaikan sudah terjadi selama empat pekan berturut-turut.

Comments are closed.