Kisah Dokter AS Perangi Corona lewat Twitter Hingga Tiktok

Tenaga medis di Amerika Serikat mulai menggunakan media sosial seperti Tiktok dan Twitter untuk membagikan informasi terkait penyakit Covid-19 akibat infeksi virus corona (SARS-CoV-2).

Salah satunya adalah dokter di Rumah Sakit Umum Massachusets, Ali Raja. Raja yang  juga merupakan asisten profesor di Harvard Medical School.

Ia menggunakan Twitter untuk berbagi informasi soal virus corona. Infomasi tersebut berupa Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan tenaga medis hingga pentingnya melakukan jarak sosial (social distancing) kepada 57 ribu pengikutnya di Twitter.

“Saat ini, Twitter adalah cara terbaik untuk mendapatkan informasi medis,” kata Raja.

Raja dalam dalam sehari bekerja sembilan jam di ruang gawat darurat. Sebelum maupun sesudah ia menyelesaikan shift kerja, ia bermain Twitter setidaknya satu jam sehari.

Raja menjelaskan di media sosial semua orang bisa bersuara. Oleh karena itu sangat mudah untuk menjawab opini-opini meresahkan dari warganet.

“Kita harus terus waspada tentang mencoba mengendalikan kepanikan itu dan menyebarkan pesan yang berbeda,” ujar Raja.

Tenaga medis di zaman ini bertarung dengan dengan virus corona di dua ‘medan perang’, yakni di rumah sakit dan media sosial. Di rumah sakit, tenaga medis harus menangani pasien corona, sementara tenaga medis juga harus memerangi misinformasi dan hoaks corona di media sosial.

“Media sosial adalah penyakit dan obatnya. Ia bertanggung jawab atas penyebaran informasi yang salah. Di sisi lain media sosial juga  diperlukan sebagai alat untuk memperbaiki itu,” kata Rick Pescatore, seorang dokter ruang gawat darurat di  Philadelphia.

Pescatore yang aktif menggunakan Twitter dan Facebook mengatakan dokter juga memiliki tanggung jawab untuk menangani misinformasi corona di media sosial.

Selain itu, seorang suster bernama Miki Rai melakukan dansa dan pergerakan tangan lewat Tiktok. Ia membuat beragam video sembari menampilkan informasi mengenai corona, misalnya durasi ketahanan virus di berbagai permukaan. Video ini telah dilihat sebanyak 416 ribu kali.

Dokter bernama Rose Marie Leslie juga memperagakan cara cuci tangan yang baik untuk menghilangkan bakteri. Tak hanya itu, Leslie juga menjawab berbagai pertanyaan yang beredar di virus corona dengan gaya Tiktok.

Leslie mengaku telah membuat akun Tiktok pada tahun lalu. Ia bertujuan untuk menyentuh khalayak yang lebih mudah untuk membagikan informasi kesehatan.

Saat wabah corona menyebar, ia menjadikan Tiktok sebagai senjata utama untuk melawan hoaks atau misinformasi corona. Ia saat ini telah mengikuti 500 ribu pengikut di Tiktok.

“Orang-orang memiliki begitu banyak pertanyaan dan mereka mencari tweet atau posting Instagram secara acak yang tidak selalu dari sumber yang valid,” ujar Leslie.

Leslie bersama dokter lain bekerja sama melalui media sosial untuk membuat kerangka dari sebuah sumber informasi valid yang bisa dibagikan ke publik.

“Hal ini dilakukan agar setiap kali seseorang mencari [informasi corona] di Tiktok atau Youtube, kami dapat memastikan bahwa kami memberikan pesan terpadu dan menyampaikan informasi yang sama kepada semua orang,” tutur Leslie.

Tujuan Leslie ini dianggap juga merupakan tujuan awal dari berbagai media sosial, yakni untuk menyediakan informasi kesehatan publik yang akurat.

Comments are closed.