Komoditas Tunggu Data-data Penting

BESTPROFIT PEKANBARU – Sejumlah data penting  menghiasi perdagangan komoditas hari ini. Harga emas mendatar di Asia meskipun sejumlah data dari Australia, Jepang dan Tiongkok sudah dirilis. Pada divisi Comex New York Mercantile Exchange, emas untuk pengiriman Juni mendatar di $1.185.00 per troy ounce.Inside The International Monetary Fund's Rethinking Macro Policy Conference

Kemarin emas berjangka menurun pasca lonjakan tipis dolar AS pada hari terakhir perdagangan bulan Maret dan logam mulia ini membukukan kerugian bulanan berturut-turut kedua. Investor global juga menunggu kesepakatan tentang destabilisasi program nuklir Iran. Teheran dan kelompok enam kekuatan utama dunia dilaporkan mendekati kesepakatan awal pada Selasa sore di Swiss, namun belum mencapai kesepakatan yang bulat. Ada indikasi bahwa masalah yang paling rumit akan ditangguhkan untuk kesepakatan akhir hingga tiga bulan mendatang. Dipadukan dengan kans kenaikan suku bunga, saat ini dengan sejumlah isu geopolitik dunia, investor cenderung memilih dolar untuk mengembangkan dana mereka.

Dalam briefing dengan wartawan pada Selasa sore, Sekretaris Pers Gedung Putih Josh Earnest mengatakan pembicaraan dengan Iran berlanjut hingga hari ini. Earnest menambahkan bahwa Gedung Putih tertarik melanjutkan negosiasi ini selama Iran produktif.

Di tempat lain, Yunani gagal mencapai kesepakatan awal dengan kreditor yang dianggap perlu untuk mencegah kebangkrutan. Pejabat dari Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional menolak paket Yunani untuk reformasi langkah-langkah yang diperlukan untuk membuka bantuan saat situasi semakin kritis. Ketidakmampuan Yunani untuk mencapai kesepakatan dengan kreditur telah memicu kekhawatiran bahwa negara itu bisa meninggalkan Uni Eropa dan akhirnya default pada utang negara.

Dari bursa minyak mentah dilaporkan stok minyak mentah AS naik 5,2 juta barel pekan lalu, menurut data dari American Petroleum Institute. Data ini adalah panduan untuk memperkirakan data yang serupa di periode yang sama dari Departemen Energi AS pada hari ini.

Di Intercontinental Exchange (ICE), minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei turun 2,26% ke 55,04 per barel pada Selasa. Brent telah merosot lebih dari 7% selama tiga hari terakhir.

Minyak mentah berjangka merosot lebih dari 2% karena Gedung Putih memberi indikasi bahwa negosiasi dengan Iran mengenai program nuklirnya bisa melampaui batas waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Sekretaris Pers Gedung Putih Josh Earnest mengatakan Amerika Serikat tidak menentang wacana pembicaraan lanjutan dengan Iran selama mereka pro-aktif.

Sanksi ekonomi yang keras terhadap Iran selama tiga tahun terakhir telah membatasi ekspor minyak negara itu kira-kira satu juta barel per hari. Meredanya sanksi bisa membuat jenuh pasar minyak global dengan banjirnya minyak Iran, yang selanjutnya dapat menekan harga minyak mentah.

Iran berada di peringkat tertinggi keempat di dunia untuk cadangan minyak mentah, menurut Administrasi Informasi Energi (EIA), dengan tingkat persediaan sekitar 10% dari total cadangan minyak mentah global. Sanksi yang keras justru meningkatkan pasokan minyak Iran dengan 30 juta barel stok minyak pada armada supertanker lepas pantai.

Pertempuran sengit di Yaman juga terus membebani harga energi. Serangan udara yang dipimpin Arab Saudi menewaskan 29 orang. Angkatan laut Arab Saudi juga memblokade sejumlah pelabuhan di negeri itu.

Harga minyak melonjak akhir pekan lalu di tengah kekhawatiran bahwa penutupan selat yang terletak strategis menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, yang berpotensi membatasi ekspor dari kawasan tersebut. Kekhawatiran mereda setelah analis dari Goldman Sachs mengatakan kepada investor bahwa area chokepoint penting bagi jalur distribusi masih bisa dicapai melalui jalur alternatif jika selat Bab el-Mandeb ditutup. Harga minyak sensitif terhadap berita geopolitik apalagi melibatkan Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia.

Lonjakan produksi minyak di Arab Saudi di bulan Maret membantu meningkatkan pasokan minyak OPEC ke level tertinggi sejak Oktober. OPEC melaporkan bahwa total output untuk Maret meningkat menjadi 30,63 juta barel per hari, naik dari angka revisi 30.07 juta pada bulan Februari. Peningkatan permintaan ekspor minyak Saudi dari pelanggan Asia, serta cuaca yang membaik di Irak telah memicu kenaikan produksi yang akhirnya potensial untuk tetap menekan harga.

Hari ini selain perkembangan perundingan Iran, konflik di Yaman dan data stok minyak mentah di AS, para pelaku perdagangan dan investor juga akan memantau dengan ketat data ADP yang selalu menjadi rujukan untuk memprediksi data Nonfarm Payroll di sesi Jum’at.

Comments are closed.