Krisis Babi di China Usai, Harga Daging Turun

Krisis daging babi di China yang terjadi akibat Demam Babi Afrika mulai berakhir. Hal ini ditandai oleh harga daging babi yang turun hampir 9 persen pada pekan lalu. Harga tersebut turun secara beruntun dalam kurun waktu tiga pekan.

Walaupun demikian, harga daging babi saat ini masih dua kali lipat lebih mahal dibandingkan tahun lalu.

pemerintah China berusaha membatasi kenaikan harga dengan meningkatkan impor. Kementerian Perdagangan China berharap impor tahun ini mencapai lebih dari tiga juta ton daging babi atau 40 persen lebih banyak dibanding tahun lalu.

Analis industri pertanian China Galaxy Securities, Xie Zhiyou menyampaikan daging babi tetap mahal hingga jelang Tahun Baru China.

Zhiyou memperkirakan harga akan terus meningkat setidaknya sampai pertengahan 2020 mendatang.

“Musim puncak untuk konsumsi daging babi akan datang,” katanya seperti dikutip dari CNN.com.

Berdasarkan data Departemen Pertanian dan Urusan Pedesaan China, perkembangbiakan babi di China pada Oktober lalu mengalami sedikit peningkatan dibanding bulan sebelumnya.

Angka tersebut merupakan peningkatan pertama sejak April 2018, beberapa bulan sebelum China dilanda demam babi Afrika. Wabah tersebut menyebabkan populasi babi menurut sekitar 130 juta atau lebih dari 40 persen pada September lalu.

Selain membunuh ternak babi, wabah tersebut juga menyebabkan para petani juga enggan kembali mengembangbiakkan babi untuk menghindari tertular wabah tersebut.

Pemerintah China juga berharap pada akhir 2020 ternak babi dapat pulih hingga 80 persen dari total populasi sebelum terjadinya wabah. Direktur Kementerian Peternakan dan Dokter Hewan, Yang Zhenhai menyampaikan total populasi babi bisa berhenti turun pada akhir tahun ini.

Hal tersebut menjadi kabar baik bagi konsumen yang terkena imbas kenaikan harga daging babi besar-besaran. Daging babi adalah makanan pokok negara sehingga menimbulkan kesusahan jika harga melonjak.

Meski demikian, Xie menyampaikan terasa mustahil bagi populasi babi di China dapat pulih secara signifikan sebelum vaksin untuk demam babi Afrika dijual. Pemerintah China telah mendorong untuk melakukan penelitian demi mendapatkan vaksin tersebut. Namun, sampai saat ini belum ada vaksin yang terjual secara komersial.

Dalam sebuah konferensi pers, Yang menyampaikan saat ini belum ada yang mengajukan uji klinis terkait vaksin dari wabah tersebut baik dari organisasi maupun individual.

TF Securities memprediksi bahwa China akan kekurangan kisaran 15 hingga 20 juta ton babi. Bahkan defisit tersebut dapat berlangsung hingga dua sampai tiga tahun ke depan.

Leave a Reply