Laju IHSG Diproyeksi Menguat, Tapi Terbatas

Analis memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Senin (30/12). Pekan ini merupakan perdagangan terakhir pada 2019.

Analis Artha Sekuritas Nogroho Fitriyanto mengatakan indeks saham akan ditopang sentimen window dressing. Ini merupakan strategi perusahaan dan manajer investasi untuk mempercantik tampilan portofolio atau performa laporan keuangannya untuk menarik investor.

“Namun, penguatan indeks diproyeksi terbatas lantaran IHSG telah naik cukup tinggi pada Desember,” kata Nogroho dikutip dari risetnya.

Dari global, ia mengatakan kesepakatan dagang fase pertama AS-China memberikan angin segar bagi pasar. Kesepakatan dagang itu rencananya ditandatangani 2 negara pada awal Januari 2020 mendatang.

“Investor terus meningkatkan risikonya pada bursa saham setelah melihat AS-China mengumumkan kesepakatan dagang fase pertama,” tuturnya.

Ia memperkirakan indeks bergerak di rentang support 6.293-6.306 dan resistance 6.329-6.339.

Tetapi, Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi memperkirakan IHSG cenderung bergerak konsolidasi. Menurut dia, pergerakan mayoritas saham cenderung sepi mendekati pergantian tahun.

“Kami perkirakan IHSG bergerak konsolidasi di akhir perdagangan 2019,” terang dia.

Secara teknikal, indikator IHSG telah bergerak cukup tinggi, sehingga berada pada area jenuh beli. Ia meramal indeks saham melaju di rentang support 6.300 dan resistance 6.350.

“Ini menandakan pergerakan akan lebih terbatas sebelum adanya koreksi jangka pendek,” imbuhnya.

IHSG menghijau ke posisi 6.329 pada akhir pekan. Indeks saham ditutup menguat tipis 9,87 poin atau 0,15 persen pada perdagangan Jumat (27/12). Dalam sepekan, indeks saham berhasil menguat 0,72 persen.

Sementara itu, saham-saham utama Wall Street bergerak variatif. Indeks Dow Jones naik 0,08 persen ke posisi 28.645, S&P 500 stagnan di posisi 3.240, dan Nasdaq Composite melemah 0,17 persen menjadi 9.006.

Comments are closed.