LIPI: 400 Bahasa di Indonesia Timur dan Tengah Terancam Punah

Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Obing Katubi menyatakan sejumlah bahasa yang ada di Indonesia terancam punah. Dia mengatakan kepunahan bahasa di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor.

“Mayoritas hasil penelitian terkini menunjukkan bahasa-bahasa tersebut terancam punah,” ujar Obing dalam webinar, Selasa (4/5).

Oding membeberkan jumlah bahasa yang ada di Indonesia masih belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa penelitian menyampaikan jumlah bahasa di Indonesia lebih dari 700 bahasa.

 

Adapun bahasa Indonesia yang paling terancam adalah bahasa yang ada di wilayah Indonesia tengah dan timur. Dia menyebut di kawasan itu terdapat sekitar 400 bahasa.

Lebih lanjut, Oding mengatakan faktor yang berkontribusi terhadap terancam punahnya bahasa beragam, seperti penaklukan, pagebluk, tekanan ekonomi, kontak bahasa dan budaya yang meleburkan bahasa, dan politik bahasa.

Faktor lainnya adalah sikap negatif atau bahkan sikap acuh tak acuh terhadap bahasa yang berpotensi terancam punah, hingga sikap dan loyalitas dari komunitas bahasa itu sendiri.

Oding menuturkan ada dua kerugian utama jika bahasa punah, yakni bagi komunitas dan ilmu pengetahuan. Bagi komunitas, punahnya bahasa sama dengan hilangnya identitas budaya.

Kemudian, punahnya bahasa sama dengan punahnya ungkapan artistik dalam tradisi. Bagi komunitas, punahnya bahasa juga sama dengan punahnya pengetahuan budaya.

 

“Bagi dunia ilmu pengetahuan, punahnya bahasa merupakan ancaman terhadap pemahaman kita tentang sejarah manusia, kognisi manusia, dan dunia hayati,” ujarnya.

Terkait persoalan itu, Oding mengingatkan perlunya perencanaan berbasis komunitas. Namun, dia menekankan bahwa tidak ada satu rute revitalisasi yang cocok untuk semua bahasa yang terancam punah.

Dia berkata memerlukan pandangan jangka panjang tentang prose revitalisasi atau proses antargenerasi. Memerlukan klarifikasi ideologi dan komitmen.

Kemudian, dia berkata tidak ada bahasa yang tidak dapat diapa-apakan sama sekali atau selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk bahasa yang dalam kategori terancam punah.

Isu-isu bahasa juga adalah isu manusia dan komunitasnya, sehingga perencanaan bahasa berbasis komunitas harus terpusat pada manusia dan komunitasnya, serta bukan pada bahasanya itu sendiri.

Sedangkan berbasis pendidikan, dia menambahkan tidak semua revitalisasi bahasa harus melalui muatan lokal. Pasalnya, secara ekologi belum tentu cocok. Lebih dari itu, Oding berharap teknologi juga bisa dimanfaatkan, misalnya mendokumentasi bahasa.

“Harus merancang program revitalisasi bahasa berbasis keluarga di rumah,” ujar Oding.

Comments are closed.