Membidik Saham Potensi Cuan dari Sektor Teknologi

Membidik Saham Potensi Cuan dari Sektor Teknologi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,3 persen pada perdagangan pekan lalu, menutup perdagangan di posisi 5.848. Sementara, investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp2,11 triliun.

Pengamat Pasar Modal Riska Afriani menyebut indeks berpotensi melanjutkan penguatan pada pekan ini dengan rentang pergerakan 5.780 hingga 6.005. Ia optimistis indeks dapat menembus posisi 6.000 karena melihat kuatnya support index.

Pada perdagangan Jumat (28/5), misalnya, meski di awal perdagangan IHSG sempat hampir menembus 5.900, memasuki sesi kedua indeks malah terkoreksi. Tapi menjelang penutupan pasar, indeks kembali rebound dan berhasil menguat tipis 0,12 persen.

Optimisme lainnya datang dari aliran dana asing yang mulai mengalir masuk. Pada Jumat (28/5) lalu, dana asing yang masuk sebesar Rp1,3 triliun.

Selain itu juga ditopang oleh nilai transaksi (turnover) yang mulai membaik. Meski belum pulih sepenuhnya, turnover telah mencapai Rp11 triliun hingga Rp12 triliun atau lebih baik dari beberapa bulan terakhir yang hanya berkisar Rp7 triliun-Rp8 triliun.

Seiring dengan mulai bergairah kembalinya pasar, ia membaca saham-saham yang diburu investor bukan saham-saham berkapitalisasi besar seperti LQ45 melainkan emiten lapis dua dan tiga yang bergerak di sektor teknologi atau perusahaan yang melakukan digitalisasi.

Per April 2021, secara rata-rata saham-saham di LQ45 tercatat mengalami koreksi sebesar 4,4 persen. Sedangkan IDX sektor teknologi mencatatkan pertumbuhan 186 persen untuk periode sama.

Walau tak sebesar sektor lainnya seperti perbankan, properti, dan infrastruktur, Riska menilai sektor teknologi cukup menjanjikan.

Namun, perlu diingat kalau deretan saham teknologi memiliki kapitalisasi yang relatif kecil dan kinerjanya belum teruji. Oleh karenanya, ia menilai saham teknologi lebih cocok untuk jangka pendek.

“Saya melihat potensi perusahaan-perusahaan yang beralih ke digitalisasi menarik untuk diakumulasi beli tapi sifatnya jangka pendek memanfaatkan peluang yang ada,” jelasnya

Tak hanya perusahaan yang sepenuhnya bergerak di bidang teknologi, saham bank digital juga bisa dilirik seperti misalnya PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP). Terlebih, perusahaan secara resmi sudah mengantongi izin bank digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Saham lain yang memiliki potensi pertumbuhan, menurutnya, adalah PT Hero Supermarket Tbk (HERO). Di tengah pemberitaan kalau perusahaan akan menutup seluruh gerai Giant pada Juli nanti, harga saham malah melonjak.

Pasar, lanjutnya, melihat sinyal positif perubahan haluan perusahaan yang adaptif dengan kebutuhan masyarakat. Untuk diketahui, HERO akan menyulap lima gerai Giant menjadi IKEA dan akan membuka 100 gerai Guardian hingga akhir tahun ini.

Mengutip RTI Infokom, selama sepekan terakhir saham HERO tumbuh hingga 79 persen. Melihat tren hijau tersebut, Riska merekomendasikan saham dengan target harga di level terdekat, yakni 1.850. Bila berhasil menembus level 2.000, ia memproyeksikan HERO bisa naik hingga ke harga 2.200.

Di sisi lain, melihat arus modal asing yang mulai deras, Riska mengatakan saham-saham perbankan top empat berpotensi menguat. Keempat saham yang dimaksud adalah BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI.

Pun optimis, ia mengingatkan investor untuk mencermati angka kasus harian covid-19 dalam negeri yang mulai menunjukkan kenaikan. Beberapa hari terakhir terpantau kasus harian covid-19 naik menjadi 6.000-an kasus dari sebelumnya di kisaran 4.000-5.000 kasus.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyebut meningkatnya infeksi virus corona di beberapa negara di Asia seperti Malaysia dan Singapura dapat menekan pasar keuangan.

Di sisi lain, kasus covid-19 di India memperlihatkan tren penurunan. Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal memutuskan untuk secara bertahap melonggarkan penguncian aktivitas (lockdown) terhitung mulai 31 Mei.

Penurunan kasus covid-19 di India dan Asia Selatan, menurutnya, akan menjadi sentimen positif bagi pasar.

Hans membeberkan katalis positif lainnya untuk indeks adalah turunnya imbal hasil (yield) obligasi jangka 10 tahun AS ke level 1,58 persen.

“Turunnya data yield obligasi AS tenor 10 tahun di akhir pekan serta mulai turunnya kasus covid-19 di India menjadi katalis positif pasar di tengah kekhawatiran inflasi,” jelasnya lewat riset mingguan seperti dikutip.

Hans memproyeksikan IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 5.800 sampai 5.747 dan resistance di level 5.904 sampai 6.000.

Adapun saham-saham rekomendasinya untuk pekan ini adalah PT Sentul City Tbk (BKSL), PT Excel Axiata Tbk (EXCL), PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).

Comments are closed.