Taiwan Sebut Tak Terintimidasi Latihan Militer China

Presiden Tsai Ing-wen menegaskan Taiwan tak merasa terintimidasi oleh latihan militer yang digelar China baru-baru ini di sekitar Selat Taiwan.

“Aksi-aksi (China) itu hanya memperkuat tekad kami. Pasukan militer kami memiliki kapasitas, tekad, dan komitmen untuk membela Taiwan dan tidak membiarkan suatu paksaan mempengaruhi penentuan masa depan kami sendiri,” ujar Tsai dalam perayaan hubungan Taiwan-Amerika Serikat pada Senin (15/5).

Meski begitu, Tsai mengakui manuver China tersebut mengancam stabilitas Taiwan dan negara lainnya di kawasan.

“Angkatan bersenjata China kemarin mengerahkan sejumlah besar pesawat dan kapal militernya ke perairan di sekitar wilayah kami. Tindakan mereka itu mengancam Taiwan dan negara lain yang berpikiran serupa dengan kawasan itu,” kata Tsai.

Pernyataan itu diutarakan Tsai sehari setelah Tentara Pembebasan Rakyat China mengerahkan kapal perang, kapal pengebom, hingga pesawat pengintai di perairan tersebut untuk sebuah latihan militer. Militer China menganggap latihan itu sebagai sebuah rutinitas “yang perlu” dilakukan di Taiwan.

Surat kabar militer China menyatakan latihan itu bertujuan mempraktikkan “serangan gabungan angkatan bersenjata”, termasuk aksi membajak pesawat secara elektronik dengan perlindungan jet tempur.

Koran itu menggambarkan sejumlah kapal pengebom China melontarkan tembakan dan “serangan mendadak” ke arah Taiwan yang selama ini dianggap Beijing sebagai pembangkang karena ingin memerdekakan diri. Sementara itu, kapal perang China disiagakan dalam posisi siap serang.

Harian itu juga mengutip seorang perwakilan militer China yang menyebut bahwa latihan seperti itu rutin diadakan setiap tahun dan “sepenuhnya sesuai hak-hak hukum normal negara yang berdaulat.”

Tak tinggal diam, Taiwan segera mengerahkan jet dan kapal militernya untuk memantau aktivitas militer China tersebut. Kementerian Pertahanan Taiwan menuduh Beijing “berusaha mengubah status quo Selat Taiwan” dengan manuver itu.

Sebagai rival China sekaligus sekutu Taiwan, AS turut mengecam latihan militer tersebut yang dianggap sebagai sebuah “koersi” dan ancaman terhadap stabilitas regional.

Mantan ketua Dewan Perwakilan AS, Paul Ryan, mengatakan Washington selalu menganggap serius setiap ancaman militer yang dihadapi Taiwan. Ia pun mendesak China untuk menghentikan manuver yang kontra-produktif tersebut.

“Saya mendesak Beijing untuk memilih jalan damai dan saling menghormati dengan melanjutkan dialog bersama pemerintah Taiwan yang terpilih secara demokratis,” kata Ryan yang turut hadir dalam acara peringatan tersebut.

Dikutip Reuters, AS dan Taiwan tidak memiliki hubungan formal. Namun, berdasarkan perjanjian Taiwan Relation Act, Washington berkewajiban secara hukum memberikan asistensi dalam bentuk penjualan senjata demi membantu Taipei mempertahankan diri.

Relasi China dan Taiwan terus memburuk sejak Tsai menjabat sebagai presiden. Beijing menuduh Tsai berusaha mendeklarasikan kemerdekaan Taiwan secara resmi.

Sejak Tsai berkuasa, Taiwan memang terus mendekatkan diri dan menjalin hubungan dengan sejumlah negara, seperti AS.

Facebook Akui Ada Kesalahan Data dalam Oculus

Oculus, anak perusahaan virtual reality Facebook mengakui telah mengalami kesalahan pengiriman data paling aneh yang pernah terjadi.

Dilansir dari situs Naked Security, pesan yang bocor ke khalayak adalah karakter fisik yang tersembunyi dalam puluhan ribu pengendali gerak Oculus baru.

Juru Bicar Oculus Nate Mitchell mengungkap “adopter awal” yang dikirim ke tempat yang seharusnya yakni ke tangan pengulas dan pengembang adalah penghormatan kepada para ahli dekonstruksi perangkat iFixIt, yang mempublikasikan teardown yang rapi dan terperinci tentang apa saja.

Tetapi beberapa perangkat yang telah dikirim ke rantai pasokan pasar konsumen secara tidak sengaja dikirim dengan kata-kata seperti ada fitur tersembunyi.

Sebelumnya, Facebook akan merombak struktur kepemimpinan anak usahanya, Oculus. Perusahaan yang bergerak dalam bidang perangkat virtual reality ini akan mengalami perubahan organisasi internal.

Facebook menjamin tak akan ada pemecatan, karena yang dilakukan hanya sebatas mererganisasi tim AR dan VR yang memiliki spesialisasi keahlian yang sama. Sehingga akan lebih fokus mengembangkan teknologi tertentu dalam jangka panjang.

Dilansir dari TechCrunch, Facebook telah mengonfirmasi kabar tersebut.

“Kami akan melakukan perubahan pada organisasi AR dan VR awal pekan ini. Ini hanya perubahan internal dan tidak akan mempengaruhi konsumen,” jelas juru bicara Facebook, Senin (5/11).

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Pergeseran internal ini menunjukkan Facebook percaya Oculus akan berjalan lebih efektif. Perusahaan pun dilaporkan akan segera merilis headset Rift baru pada awal 2019.

Peta Lokasi Facebook, Instagram dan WhatsApp yang Lumpuh

WhatsApp, Instagram, dan Facebook dilaporkan kembali mengalami kelumpuhan pada Minggu (14/4) sore. Keluhan netizen di seluruh dunia yang kesulitan mengakses tiga platform media sosial tersebut mewarnai lini masa.

Namun, ketiga platform ini tidak mengalami kelumpuhan sebesar bulan lalu. Berdasarkan situs down detector, negara yang paling parah mengalami kelumpuhan Facebook adalah Amerika Serikat seperti New York, Los Angeles dan San Fransisco. Kanada dan Australia pun mengalami kelumpuhan cukup banyak.

Sementara Indonesia hanya mengalami sedikit kelumpuhan dan sebagian besar terjadi di Jakarta.

Sebesar 51 persen mengalami gangguan dalam Newsfeed, 25 persen mengalami gangguan log in dan sisanya 23 persen mengalami total blackout.

Peta yang sama pun terjadi dalam gangguan Instagram. Selain Amerika, Kanada dan Asia, Eropa menjadi salah satu yang mengalami gangguan Instagram terbanyak seperti Inggris, Perancis, Spanyol dan Kroasia.

Sebesar 48 persen melaporkan mengalami gangguan dalam Newsfeed. Sedangkan 28 persen mengalami gangguan log in dan sisanya 22 persen gangguan dalam website.

Berbeda dengan Facebook dan Instagram, kelumpuhan Whatsapp paling tinggi terjadi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Spanyol, Inggris dan Austria.

Sebanyak 41 persen mengalami gangguan dalam koneksi, 38 persen mengalami gangguan menerima dan mengirim pesan dan sisanya 19 persen mengalami gangguan log-in.

Sebelumnya, pada bulan lalu ketiga aplikasi ini pun mengalami kelumpuhan. Ketiganya mengalami kelumpuhan hampir selama 12 jam di seluruh dunia.

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

1 2 3 4 869