47 Anjing Hesti Menunggu Diadopsi Penampung Baru

Konflik penolakan warga terhadap 70 anjing di shelter milik Hesti Sutrisno, seorang pecinta hewan berhijab dengan cadar, berujung mediasi.

Anjing-anjing liar yang dipelihara Hesti di Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu dinilai mengganggu warga karena bisik. Buntutnya, Hesti disebut sudah setuju merelakan 47 anjingnya dari shelter itu.

“Bu Hesti siap melepaskan anjingnya sebanyak 47 [ekor],” kata Kapolsek Ciampea Kompol Beben Susanto ketika dihubungi

Rabu (17/3).

Menurut kesaksian Beben, anjing-anjing itu sampai saat ini masih ada di shelter. Pasalnya, Dinas Peternakan setempat masih mencari penampung yang bakal mengadopsi puluhan anjing itu.

Beben mengatakan keputusan itu merupakan hasil dari mediasi yang digelar Jumat (12/3) lalu. Menurutnya, mediasi belum rampung. Namun kedua pihak, Hesti dan warga yang menolak, belum memutuskan kapan mediasi selanjutnya digelar.

“Ya bila mereka menginginkan harus dicari solusi, pasti ada mediasi [lagi],” tambah Beben.

telah berupaya mengkonfirmasi klaim keputusan media tersebut kepada Hesti. Namun hingga saat ini dia belum menjawab pesan singkat atau sambungan telepon.

Hesti sendiri merupakan pecinta hewan yang sudah lama mengisi waktunya dengan mengadopsi anjing-anjing liar yang terlantar. Penolakan terhadap aktivitasnya ini juga pernah dia alami 2018 silam.

Saat itu Hesti menampung anjing-anjing liar di kediamannya di Pamulang, Tangerang Selatan. Konflik meredam setelah seluruh pihak melakukan mediasi.

Perempuan berusia 41 tahun itu meyakini pihak yang menyatakan penolakan kali ini bukan dari warga sekitar. Menurutnya, warga sekitar justru membela ketika dirinya mendapat intimidasi dari sekelompok orang yang mendatangi shelter dan berupaya mengusir anjing Hesti.

Puluhan anjing di shelter Hesti ia beri rawat dengan hasil jerih payah menjual keripik. Kadang, dia juga mendapat bantuan dari donatur sesama pecinta hewan.

“Saya bukan teroris, penjahat, bandar narkoba, jual anjing, atau bahkan jagal. Makanya saya tidak mengerti kenapa kejadian seperti ini terjadi lagi,” tuturnya kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (13/3).

Mencla-Mencle Anies Urus Program Rumah DP 0 Rupiah

Sudah lebih dari tiga tahun Anies Baswedan menjabat Gubernur DKI Jakarta, namun realisasi salah satu program andalannya saat kampanye, yakni Rumah DP 0 Rupiah, jauh dari target yang ditetapkan.

Selain jumlah unit rumah yang jauh dari target, program itu kembali disorot publik lantaran ada perubahan syarat bagi warga yang ingin membelinya.

Batas Gaji Dinaikkan

Dulu, sebagaimana dikutip dari situs resmi Anies-Sandi saat kampanye jakartamajubersama.com, Rumah DP 0 Rupiah ditujukan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah atau Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

 

Namun kini rumah itu seolah bukan hanya untuk masyarakat kecil. Alasannya, Anies mengubah batas maksimal gaji bagi warga yang ingin membeli. Dari semula Rp7 juta menjadi Rp14,8 juta.

Perubahan skema itu tertuang dalam Kepgub Nomor 588 yang terbit pada Juni 2020 menggantikan Kepgub Nomor 855 tahun 2019.

“Menetapkan batasan penghasilan tertinggi penerima manfaat fasilitas pembiayaan perolehan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah sebesar Rp14,8 juta per bulan,” mengutip bunyi Kepgub Nomor 588.

Perubahan batas minimal penghasilan ini juga tercantum dalam draf perubahan RPJMD yang diajukan Anies ke DPRD.

Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah menilai Anies telah ingkar terhadap janjinya saat kampanye. Tidak sesuai dengan niat semula.

“Jadi intinya itu memang program ini itu mengingkari terhadap niat semula yang ditujukan untuk masyarakat penghasilan rendah dengan penghasilan 7 juta ke bawah, malah dulu dikatakan 4 juta bisa. Nah itu ternyata sekarang malah diubah,” kata Trubus saat dihubungi

Rabu (17/3).

Trubus mengatakan sasaran target akan bergeser ketika batas maksimal gaji warga yang ingin membeli dinaikkan. Dari masyarakat menengah ke bawah, menjadi bisa diakses menengah ke atas.

Ia juga menilai sejak awal program itu tidak melalui perencanaan matang dan hanya sekadar untuk meninabobokan masyarakat saat kampanye. Belum tahu secara pasti bagaimana merealisasikannya ketika sudah terpilih menjadi gubernur.

“Jadi cuma sekadar janji politik, sekadar untuk meninabobokan masyarakat berpenghasilan rendah. Pada akhirnya rumah DP ini juga banyak yang kosong kan,” ujar dia.

Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna berpendapat, batas awal sekitar Rp7 juta pun sebenarnya sulit untuk dijangkau masyarakat.

“Karena kemampuan membayar cicilan (rumah) saja itu udah 30 persen dari 7 juta itu, ya kira-kira 2 juta. Belum lagi punya hutang dan cicilan lain,” imbuh dia.

Ia meminta Pemprov DKI Jakarta untuk mendefinisikan ulang kategori MBR yang bisa mendapatkan hunian itu.

“Kepgub atau Pergub yang mencantumkan kata MBR itu kan harus didefinisikan ulang, 7 juta atau 14,8 juta. Kalau misal jadi 14,8 juta, ini kan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan di awal,” kata Yayat.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perumahan DKI Jakarta Sarjoko menjelaskan bahwa Kepgub 588 yang mengatur perubahan batas penghasilan maksimal telah mengacu kepada Permen PUPR Nomor 10/PRT/M/2019 tentang Kriteria BMR.

Ia menyebut pada Permen PUPR terdapat lampiran rumusan perhitungan penghasilan berdasarkan kemampuan pembayaran cicilan KPR berikut dengan bunganya.

“Dengan menggunakan rumusan tersebut, dapat disimulasikan batasan penghasilan tertinggi MBR dengan cara memasukan nilai harga jual hunian tertinggi berdasarkan Kepgub 606 Tahun 2020, sehingga diperoleh nilai Rp14,8 juta sebagai batasan penghasilan tertinggi bagi MBR,” kata Sarjoko.

Jauh Dari Target

Berdasarkan RPJMD 2017-2022, Pemprov DKI Jakarta mengembangkan program DP Nol Rupiah dalam rangka mewujudkan affordable housing (hunian yang terjangkau).

Dilakukan melalui subsidi kredit murah berbasis tabungan bagi MBR. Rencana awal akan dibangun sebanyak 14.000 unit oleh BUMD dan 218.214 unit melalui mekanisme Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan mekanisme pasar. Jika ditotal, sebanyak 232.214 unit.

Sejak diluncurkan hingga Maret 2021 ini, tercatat setidaknya 872 unit rumah telah dibangun dan disediakan. Jauh dari target dalam RPJMD yaitu 232.214 unit.

Rinciannya, di Pondok Kelapa yang dibangun oleh BUMD, terdapat 780 unit dan telah terjual sebanyak 599 unit. Di Kemayoran, hasil kerjasama dengan Perum Perumnas, ada 38 unit dan telah terjual semua.

Di Sentraland Cengkareng, yang juga kerjasama dengan Perum Perumnas, ada 64 unit dan telah terjual sebanyak 44 unit.

Akhir Desember tahun lalu, Fraksi PDI Perjuangan di DPRD DKI sempat menyoroti hal itu. Ketua Fraksi PDIP Gembong Warsono menyindir pencapaian Pemprov DKI Jakarta terkait rumah untuk warga menengah ke bawah.

“Teman-teman anggota fraksi menemukan sudah terwujud janji Pak Anies selama tiga tahun memimpin sudah, alhamdulillah sih sudah mencapai 780 unit, dari 232 ribu,” kata Gembong pada Desember 2020 lalu.

Ilmuwan Ingin Membangun ‘Kubah’ Kiamat di Bulan

Para ilmuwan dari Universitas Arizona ingin membangun ‘kubah’ bawah tanah berisi jutaan sampel benih, spora, sperma dan telur dari spesies Bumi di bulan. Itu mereka bangun sebagai cadangan genetik bagi dunia jika kiamat terjadi.

Dalam makalah yang dipresentasikan awal bulan ini, tim dari University of Arizona berpikir konsep mereka dapat melestarikan kehidupan di bumi jika terjadi kiamat.

Untuk mewujudkan keinginan mereka, para ilmuwan itu telah mengusulkan sebuah bahtera untuk 6,7 juta spesies dari bumi yang diawetkan secara kriogenik dan disembunyikan di dalam serangkaian lemari besi di gua dan terowongan di bawah permukaan bulan.

Mereka mengatakan lemari besi itu dapat melindungi materi genetik jika kiamat yang berpotensi menghancurkan keanekaragaman hayati di bumi terjadi.

“Sebagai manusia, kita memiliki kontak dekat sekitar 75 tahun lalu dengan letusan supervolcanic Toba, yang menyebabkan periode pendinginan 1.000 tahun. Menurut beberapa penelitian, sejalan dengan itu terjadi penurunan keanekaragaman manusia. Karena peradaban manusia memiliki jejak kaki yang begitu besar, jika itu akan runtuh, itu dapat memiliki efek penurunan yang

negatif di seluruh planet ini,” kata Jekan Thanga, seorang profesor teknik luar angkasa dan mesin di Universitas Arizona College of Engineering seperti dikutip dari

Selasa (16/3).

“Kubah kiamat ini nantinya serupa dengan bumi. Ada gudang benih global bagi kurang dari 1 juta sampel benih,” tambahnya.

Namun, peneliti belum memberikan gambaran kapan proyek itu akan dimulai. Mereka hanya menyatakan proyek ini bergantung pada kemajuan teknologi cryo-robotics.

Pasalnya, untuk mendapatkan cryopreservasi, benih harus didinginkan hingga minus 292 Fahrenheit dan sel induk harus disimpan pada minus 320 Fahrenheit.

Tim mengatakan bahwa pada suhu seperti itu, bagian logam dari pangkalan dapat membeku, macet atau dilas dingin bersama-sama.

Selain itu, para ilmuwan itu juga masih belum memahami bagaimana kurangnya gravitasi dapat mempengaruhi benih yang diawetkan, atau bagaimana berkomunikasi dengan basis bumi.

1 2 3 4 1,123