DPR Pertanyakan Utang BUMN Karya yang Minim Untung

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Komisi VI menyoroti utang berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya yang bergerak dalam bidang konstruksi sarana dan prasarana. Meski dibanjiri proyek-proyek pembangunan prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi), namun laporan keuangan perusahaan-perusahaan plat merah tersebut minim untung.

Kritik ini disampaikan pada rapat dengar pendapat antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Komisi VI dan lima perusahaan BUMN Karya yaitu PT Wijaya Karya (Persero), PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT PP (Persero) Tbk.

“Di era kepemimpinan Pak Jokowi proyek infrastruktur ini sangat banyak tapi kok utang tumbuh dua kali lipat bahkan lebih?” tutur anggota DPR Komisi VI fraksi Golkar Lamhot Sinaga pada Senin, (17/2).


Menurut Lamhot rasio utang yang kian bertambah diterjemahkan sebagai rambu kuning. Dia khawatir utang BUMN Karya yang terus menggunung akan mengakibatkan gagal bayar yang harus dipikul oleh negara nantinya.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk melaporkan kenaikan utang signifikan dari Rp75,14 triliun pada 2017 menjadi Rp95,50 triliun pada tahun 2018. Sementara, perusahaan mencatatkan kenaikan tipis atas pendapatan usaha yaitu Rp3,39 triliun pada tahun 2018 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tren senada juga terjadi pada PT Wijaya Karya (Persero), perseroan melaporkan kenaikan utang 2019 sebesar Rp42,75 triliun dari Rp42,02 triliun pada 2018. Sementara, penjualan menurun dari capaian Rp31,16 triliun pada 2018 menjadi Rp27,77 triliun pada 2019.

Di kesempatan yang sama, Lamhot mengingatkan para jajaran direksi perusahaan BUMN Karya untuk segera melunasi tunggakan utang kepada vendor lokal yang masih belum dilunasi.

“BUMN (Karya) ini banyak berutang pada pengusaha-pengusaha lokal, pengusaha kecil contohnya pembangunan di Samosir yang nilainya sangat besar, padahal dibiayai APBN tapi kok bisa perusahaan kecil sejak satu sampai dua tahun tak dibayar?” paparnya di hadapan dirut kelima perusahaan plat merah tersebut.

Dia meminta tunggakan kepada perusahaan lokal tersebut dapat segera dilunasi sebab tak hanya merusak citra perusahaan negara namun dirinya menilai tunggakan tersebut akan menahan laju pertumbuhan perekonomian daerah.

Fakta 2 Astronaut Perempuan Terlama di Ruang Angkasa

Christina Koch, astronaut perempuan NASA berkewarganegaraan Amerika Serikat berhasil memecahkan rekor telah tinggal hampir 11 bulan berturut-turut di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Ia berhasil mengalahkan rekor astronaut perempuan senior yakni Peggy Whitson yang sebelumnya mengudara di antariksa selama 289 hari untuk satu misi.

Meski demikian sebenarnya jika diakumulasi, Whitson tetap menjadi wanita terlama di luar angkasa. Sebab, secara total Whitson telah menghabiskan 665 hari yang terbagi dalam tiga misi yang ia lakukan ke luar angkasa.

Berikut fakta terkait Peggy Whitson dan Christina Koch, astronaut perempuan yang berhasil tinggal lama di ISS:

Peggy Annette Whitson

1. Perempuan pertama yang pimpin stasiun luar angkasa (ISS)

Perempuan yang lahir di Kota Lowa, AS pada 9 Februari 1960 ini menjadi wanita pertama yang menjadi pemimpin tertinggi di Stasiun Luar Angkas Internasional (ISS).

Sebagai komandan ISS perempuan pertama, Whitson melakukan pengawasan dan pengarahan kegiatan di stasiun luar angkasa itu. Pada misi Ekspidisi ISS ke-16 pada 2007, NASA menunjuk Whitson sebagai komandan ekspedisi sekaligus tercatat komandan wanita pertama ISS.

Sebagai seorang komandan, ia bertugas untuk mengawasi dan mengarahkan pemasangan komponen yang dibuat oleh Badan Antariksa Eropa, Jepang, dan Kanada.

Dilansir dari Britannica, Whitson memulai pelatihan astronautnya pada Agustus 1996. Pelatihan berlangsung selama dua tahun dan Whitson terbang ke luar angkasa untuk pertama kali pada 5 Juni 2002.

2. Ahli biokomia

Sebelum berkiprah menjadi astronaut, Whitson berprofesi sebagai ahli biokimia. Tahun 1981, Whitson menerima gelar B.S di bidang biologi dan kimia dari Lowa Wesleyan College dan gelar doktor biokimia dari Rice University pada 1985.

Setahun kemudian, ia bekerja di Badan Antariksa Amerika (NASA) sebagai periset dan menjadi bagian dari Grup Riset Biokimia di KRUG International.

  1. Petugas sains ISS pertama

    Dalam misi pertama di ISS pada 2002, perempuan berusia 60 tahun ini mengadakan berbagai percobaan. Ia bergabung pada misi Ekspedisi 5 ke ISS menaiki pesawat ulang-alik Endeavour STS-111.

    Sesampainya di ISS, ia dan astronaut lainnya melakukan 20 eksperimen dan sains kehidupan manusia pada gravitasi mikro.

    Ia juga mengoperasikan dan memasang muatan komersial dan sistem perangkat keras. Ia juga sempat melakukan perjalanan luar angkasa (space walk). Setelah mengudara di luar angkasa hampir 185 hari, ia kembali kembali ke Bumi pada 7 Desember 2002.

    4. Pernah mengangkasa dengan astronaut Malaysia

    Untuk kedua kalinya, Whitson kembali ke antariksa pada 10 Oktober 2007 menggunakan Soyuz TMA-11 bersama dua astronaut lainnya yakni Yury Malenchenko dari Rusia dan Sheikh Muszaphar Shukor warga negara Malaysia.

    Setelah menghabiskan hampir 192 hari di ISS, Whitson kembali ke Bumi menggunakan Soyuz TMA-11 pada 19 April 2008.

    Saat hendak pulang ke Bumi, Whitson dan dua astronaut lain mengalami sedikit kesulitan karena modul Soyuz gagal terpisah dengan benar. Sehingga ketiganya mesti melakukan pendaratan yang sangat keras dan meleset dari target sejauh 470 kilometer.

  2. Empat kali space walk

    Total, ia telah melakukan empat kali space walk setelah luar angkasa keempat pada 17 November 2016, bersama kosmonot Rusia Oleg Novitsky dan astronaut asal Prancis yakni Thomas Pesquet.

    Ia kembali ke luar angkasa menggunakan Soyuz MS-03. NASA kembali menunjuk Whitson sebagai komandan Ekspedisi ISS ke-51.

    Whitson kembali ke Bumi pada 3 September 2017 menggunakan Soyuz MS-04 usai menghabiskan waktu di ISS selama 289 hari. Ia pulang ke Bumi bersama kosmonot Rusia Fyodor Yurchikhin dan astronaut AS Jack Fischer.

    6. Wanita terlama di luar angkasa

    Secara akumulatif, Whitson menjadi wanita dengan total waktu terlama di luar angkasa. Dengan empat kali perjalanan luar angkasa, secara keseluruhan Whitson sudah menghabiskan 289 hari di luar angkasa. Hal ini membuat Whitson masih memegang rekor penerbangan luar angkasa terlama oleh seorang wanita seperti dilansir NASA.

    7. Wanita tertua yang terbang ke luar angkasa

    Saat melakukan perjalanan terakhir ke ISS, Whitson menginjak usia 57 tahun dan ia dinobatkan sebagai wanita tertua yang pergi ke luar angkasa.

Christina Koch

1. Ahli kosmologi dan astrofisika

Dikutip laman resmi NASA, sebelum resmi menjadi astronaut, ia sempat bekerja di Laboratorium Pusat Penerbangan Luar Angkasa NASA Goddard, yang mana ia ditugaskan untuk mempelajari ilmu kosmologi dan astrofisika.

Lalu mulai tahun 2004-2007, Koch menjadi periset di Program Antartika Amerika Serikat yang mengharuskannya tinggal selama setahun di Stasiun Kutub Selatan Admunsen-Scott dan Stasiun Palmer.

Christina Koch, lahir di Michigan AS pada 29 Januari 1979. Koch lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Pengetahuan dan Matematika di Durham, Carolina Utara tahun 1997. Lalu ia mendapat gelar Strata 1 dari North Carolina State University jurusan Teknik Listrik (2001) dan Master Keilmuan pada jurusan yang sama tahun 2002.

2. Rekor permpuan terlama di luar angkasa dalam 1 misi

Koch mendarat pada 09:12 GMT di padang rumput Kazakhstan setelah 328 hari di ruang angkasa bersama dengan Luca Parmitano dari Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Alexander Skvortsov dari Badan Antariksa Rusia (Roscosmos).

Ia meluncur ke ISS pada 14 Maret 2019 setelah terpilih sebagai salah satu dari delapan anggota kelas astronaut NASA ke-21 pada 2013.

Selama pelatihan, ia diberikan edukasi terkait teknis, spacewalk, robotika, dan pelatihan fisiologis selama tinggal di ISS.

3. Lama di luar angkasa, Koch jalani tes medis

Koch berhasil menghabiskan total 42 jam dan 15 menit di luar stasiun. Setelah berhasil mendarat, Koch akan menuju ke kantor pusat NASA di Houston, melalui kota Kazakh Karaganda. Setelah itu, dia juga akan menjalani tes medis di Cologne, Jerman.

Data medis Koch dinilai akan sangat berharga bagi para ilmuwan NASA karena badan tersebut sedang menyusun rencana untuk misi berawak jangka panjang ke Mars. Secara keseluruhan, Koch sudah menjadi bagian dari tiga ekspedisi, Ekspedisi 59, 60, dan 61.

Pemkot Yogyakarta Minta Kembalikan Jamkesda, Evaluasi BPJS

Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mengusulkan pemerintah pusat untuk mengembalikan skema pelayanan kesehatan masyarakat daerah melalui program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Sebab, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh BPJS Kesehatan dinilai tidak lebih baik dari Jamkesda.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengungkapkan Pemkot Yogykarta bersama Apeksi (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia), sudah menyampaikan rekomendasi ke pemerintah pusat untuk mempertimbangkan kembali Jamkesda.

Menurut dia, Jamkesda mempermudah penyelenggaraan pelayanan kesehatan warga dan membuat pemerintah daerah bertanggung jawab penuh terhadap pelayanan kesehatan warga di wilayahnya.

Sementara, berdasarkan hasil evaluasi Pemkot Yogyakarta dan Apeksi, kata Heroe, BPJS Kesehatan tidak lebih baik dari Jamkesda. Bahkan, menuai banyak kritik dari rumah sakit, dokter, hingga pasien. “Banyak pihak menyampaikan pelayanan yang diberikan (BPJS Kesehatan) justru tidak maksimal,” ujarnya seperti dilansir Antara, Minggu (16/2).

Tak hanya itu, ia melanjutkan kewajiban pemerintah kota untuk mengalokasikan anggaran iuran BPJS Kesehatan melalui APBD juga semakin besar. Ia menyebut, beberapa daerah bahkan mengalokasikan kenaikan anggaran 100-200 persen untuk membayar iuran peserta.

“Di Yogyakarta, alokasi anggaran untuk pembayaran BPJS Kesehatan mengalami kenaikan lebih dari 100 persen,” kata Heroe.

Alokasi anggaran untuk membayar iuran BPJS Kesehatan warga dalam APBD Kota Yogyakarta 2020 sekitar Rp52 miliar, hampir dua kali lipat dari anggaran dana yang sebelumnya dialokasikan untuk pembiayaan jamkesda yang sekitar Rp27 miliar.

Alokasi anggaran BPJS Kesehatan tersebut, sambung dia, harus dibayarkan secara rutin baik warga mengalami sakit atau tidak. “Sedangkan untuk Jamkesda hanya dibayarkan jika ada warga yang mengakses pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Peningkatan kebutuhan dana untuk membayar iuran BPJS Kesehatan tersebut semakin memberatkan beban anggaran dalam APBD.

“Kami juga sudah berkomunikasi dengan legislatif untuk mengkaji berbagai alternatif lain yang tidak merepotkan dari segi pelayanan medis dan penyerapan anggaran,” terang Heroe.

Ia menambahkan evaluasi pelaksanaan program jaminan kesehatan yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan tahun ini sangat penting untuk menentukan kebijakan jaminan kesehatan pada masa yang akan datang.

“Kami akan lihat bagaimana kemampuan masyarakat dalam mengikuti BPJS dan bagaimana pelayanannya. Apakah semakin baik atau tidak,” tandasnya.

1 2 3 4 992