Gempa 7,5 M di Papua Nugini Sempat Picu Peringatan Tsunami

Gempa bumi dengan magnitudo 7,5 mengguncang Papua Nugini pada Selasa (14/5) malam waktu setempat. Kejadian itu sempat memicu peringatan tsunami untuk negara itu dan negara tetangganya, Kepulauan Solomon, yang saat ini sudah dicabut.

Seperti dilansir Associated Press, menurut data Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat gempa berada di perairan sebelah timur laut wilayah Kokopo dengan jarak 45 kilometer, dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa dangkal dikhawatirkan bisa membuat dampak kerusakan di permukaan sangat besar. Namun, menurut perkiraan USGS hal itu tidak terjadi karena populasi yang minim dan jarak bangunan berjauhan.

Gempa dengan kekuatan sama mengguncang Papua Nugini pada Februari 2018 di wilayah tengah. Akibatnya 125 orang meninggal dan 35 ribu lainnya mengungsi.

Papua Nugini adalah negara yang bertetangga dengan Indonesia dan berada dalam kawasan Cincin Api Pasifik. Zona ini dikenal paling aktif di dunia dengan kegiatan seismik dan gunung api.

Korut Desak AS Kembalikan Kapal Kargonya yang Disita

 

Korea Utara menuntut Amerika Serikat mengembalikan kapal kargonya yang disita pada pekan lalu karena diduga dipakai untuk transaksi melanggar sanksi internasional.

“AS seharusnya menyadari konsekuensi dari tindakannya yang seperti gangster ini dan harus mengembalikan kapal kami tanpa penundaan,” demikian pernyataan Kemlu Korut seperti dikutip AFP.

Pyongyang mengecam penyitaan kapal Wise Honest oleh Washington itu dan menganggapnya sebagai “tindakan pencurian yang ilegal.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut menilai penyitaan itu adalah pelanggaran langsung terhadap semangat kesepakatan yang ditandatangani oleh Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un dan Presiden Donald Trump dalam pertemuan perdana mereka di Singapura tahun lalu.

“Amerika Serikat melakukan tindakan perampokan yang ilegal dengan menyita kapal kargo kami dan mengutip resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” kata jubir tersebut dalam laporan kantor berita resmi Korut, KCNA.

Pyongyang menyebut langkah itu merupakan “konsekuensi dari kalkulasi AS yang berusaha membuat Korut bertekuk lutut melalui tekanan maksimum.”

Penyitaan kapal Korut ini merupakan yang pertama kali dilakukan AS. Washington dilaporkan telah mengajukan surat perintah penyitaan kapal tersebut pada Juli 2018.

AS menyatakan Wise Honest pernah digunakan oleh perusahaan pengiriman Korea Songi Shipping Company.

Perusahaan itu dituduh melakukan transaksi ratusan ribu dolar dengan tiga bank AS. Ketiga bank AS itu disebut membantu memfasilitasi kebutuhan kapal tersebut tanpa disadari.

“Pembayaran dengan jumlah lebih dari US$750 ribu ditransmisikan melalui akun di lembaga keuangan AS sehubungan dengan pengiriman batu bara pada Maret 2018 di atas Wise Honest,” bunyi pernyataan Kementerian Kehakiman AS.

Selain itu, berdasarkan pemantau sanksi PBB, Wise Honest pernah mengangkut 25.500 ton batubara ketika disita oleh otoritas Indonesia. Laporan AS pada Maret 2018 memperkirakan nilai kargo batubara itu mencapai US$3 juta.

Pemantau mengatakan Indonesia melaporkan kapal itu terdaftar di bawah bendera Sierra Leone dan Korut.

Saat penyitaan, Indonesia juga menemukan “dokumen kargo dan izin-izin” yang menunjukkan bahwa kapal tersebut hendak melakukan transfer dari kapal ke kapal (STS) dengan sebuah kapal kargo Rusia di perairan Kalimantan Timur. Rusia telah berulang kali membantah hal tersebut.

Papua Nugini Terjunkan Tim Penyelamat ke Lokasi Gempa

Gempa dengan magnitudo 7.5 mengguncang wilayah perairan dekat Kokoro, Papua Nugini pada Selasa (14/5) malam waktu setempat. Setelah sempat memicu peringatan tsunami yang akhirnya dicabut, kini tim penyelamat sedang berusaha menaksir tingkat kerusakan dan korban.

Sejauh ini belum ada laporan terkait korban akibat insiden gempa, tetapi para petugas sedang mencari informasi mengenai penduduk yang tinggal di luar perkotaan, seperti dilansir Reuters, Rabu (15/5).

Petugas penanggulangan bencana akhirnya mengirimkan tim bantuan ke provinsi New Britain, Papua Nugini.

Pengiriman tim bantuan dimaksudkan untuk memantau kondisi penduduk di area terpencil yang menjadi korban atau mengalami kerusakan akibat gempa dahsyat yang mengguncang wilayah tersebut.

Menurut penuturan koordinator Kantor Penanggulangan Bencana Papua Nugini, Don Tokunai, sampai saat ini belum ada informasi terkait korban luka ataupun tewas.

“Kami sedang melakukan pemantauan mulai pagi ini,” ujar Tokunai kepada Reuters.

“Kami telah meminta semua tim respons distrik untuk kembali pukul 14.00,” tambahnya.

Pusat gempa ada di lepas pantai dengan jarak 50 kilometer dari timur Rabaul, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer dan terjadi sebelum pukul 23.00 waktu setempat.

Tokunai juga mengatakan tak lama setelah gempa, sejumlah penduduk yang tinggal di pulau serta di pantai barat Irlandia Baru melaporkan air laut sempat surut, tetapi tidak ada gelombang tsunami.

“Mereka mengatakan baru saja bangun tidur dan sempat merasakan guncangan, tapi mereka masih baik-baik saja di sana,” ujar Tokunai.

Sedangkan menurut penuturan Sersan Frank Kilaur, gempa yang terjadi sangatlah dahsyat dan berhasil mengguncang seluruh wilayah.

“Saat ini kami belum menerima laporan apapun terkait kerusakan. Kami baik-baik saja di sini,” tambahnya.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik sempat melaporkan peringatan gelombang tsunami yang bisa mencapai jarak hingga 1,000 kilometer dari pusat gempa di sepanjang pantai Papua Nugini dan Pulau Solomon. Namun, akhirnya peringatan itu dicabut.

Papua Nugini secara geologi memang terletak di sekitar zona Cincin Api Pasifik yang sangat aktif dalam fenomena seismik dan vulkanik. Negara tersebut saat ini masih dalam pemulihan setelah sempat dilanda gempa berkekuatan 7.5 SR pada Februari 2018 yang menewaskan setidaknya 100 orang.

1 2 3 4 882