Tersandung paten, Apple terancam larangan impor perangkat ke Korea Selatan

tersandung-paten-apple-terancam-larangan-impor-perangkat-ke-korea-selatanPT BESTPROFIT Apple terancam mendapat larangan impor ke Korea Selatan. Hal itu dipicu gara-gara perusahaan besutan Steve Jobs ini berseteru dengan perusahaan bernama Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). KAIST, seperti dilaporkan Phone Arena, Kamis, menyatakan bahwa paten mereka yang diberi nama FinFET telah dipakai Apple.

FinFET sendiri merupakan teknologi prosesor. Adapun, beberapa produk Apple yang terancam dilarang masuk Korea Selatan antara lain adalah iPhone 8, iPhone 8 Plus, iPhone X, dan beberapa model iPad. Jika paten tersebut benar merupakan milik KAIST, hal ini tidak hanya akan mempengaruhi Apple tetapi hampir industri smartphone. BEST PROFIT

Untuk itulah, Samsung yang merupakan kompetitorpun turut ada di sisi Apple. Samsung menyebut, litigasi atas paten yang diklaim KAIST tidaklah valid.Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan sangat memperhatikan yang terjadi di AS. Samsung pun disebut-sebut telah menyerahkan bukti kuat yang mendukung posisinya.

Kini, masalah paten ini tengah dalam investigasi lebih lanjut. Jika terbukti Apple telah melanggar paten milik KAIST, raksasa teknologi AS ini bakal menghadapi larangan impor perangkat ke Korea Selatan. Selain itu, jika terbukti ada pelanggaran paten, Apple bakal diwajibkan membayar ganti rugi pada KAIST agar bisa terus menjual perangkatnya di Korea Selatan. BESTPROFIT

Kami sedang menginvestigasi apakah Apple melanggar paten KIP, anak perusahaan dari KAIST,” kata komisi perdagangan Korea yang ada di bawah kementerian.Target (yang akan dilarang) adalah iPhone 8, iPhone 8 Plus, iPhone X, iPad 9,7, iPad 10,5, dan iPad 12,9 inci yang diimpor dari Tiongkok dan Hong Kong,” katanya.

Jack Ma tunjuk CEO Daniel Zhang sebagai penerus jabatannya di Alibaba

CEO Alibaba Group Jack Ma (tengah) menyemarakkan Upacara Penutupan Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, Minggu (2/9). ANTARA FOTO/INASGOC/Wahyudin/wsj/18.

PT BESTPROFIT Jack Ma, Co-Founder perusahaan e-commerce terbesar China, Alibaba Group Holding Ltd, akan resmi mundur dari jabatannya tepat satu tahun dari hari ini, yaitu 10 September 2019. Hal ini secara resmi diumumkan oleh perusahaan.

Selain itu, nama Daniel Zhang, Direktur Utama (CEO) Alibaba saat ini, disebut bakal mengisi posisi Jack Ma selaku Dewan Direksi. Jack Ma akan resmi menyelesaikan masa jabatannya pada rapat umum tahunan perusahaan tahun 2020 nanti.

Tahun 2013 lalu, Jack Ma melepaskan jabatannya sebagai Chief Executive Alibaba. Zhang yang berusia 46 tahun, mengambil alih jabatan tersebut pada tahun 2015 setelah menjalani peran sebagai CEO Alibaba. BEST PROFIT

Sebelum menjadi CEO, Zhang dikenal sebagai perancang kunci dari “Single Day” Alibaba, event tahunan 11 November yang menjadi acara belanja online terbesar di dunia. Adapun Ma, yang tepat hari ini berulang tahun ke-54, akan terus berperan sebagai mentor senior bagi manajemen perusahaan sebagai bagian dari dewan penasihat yang disebut “Alibaba Partnership”.

Saya akan bekerja sama dengan Daniel untuk memastikan transisi yang lancar dan sukses,” kata Ma dalam surat yang dirilis oleh perusahaan, seperti dilansir Reuters, Senin. BESTPROFIT

Ma, yang mendirikan Alibaba pada tahun 1999, adalah salah satu orang terkaya di China dengan kekayaan bersih sebesar US$ 36,6 miliar, menurut Forbes. Sementara, Alibaba menjadi perusahaan berkembang yang memiliki lebih dari 66.000 karyawan tetap dan nilai pasar sekitar US$ 420 miliar.

Emerging market tengah sakit, apakah Wall Street akan terjangkit?

A 100 Turkish lira banknote is seen on top of 50 Turkish lira banknotes in this picture illustration in Istanbul, Turkey August 14, 2018. REUTERS/Murad Sezer/Illustration

PT BESTPROFIT Indeks saham China terjungkal ke pasar bearish. Mata uang Turki kolaps. Perekonomian Afrika Selatan masuk ke jurang resesi. Bahkan, bailout IMF belum berhasil menghentikan pendarahan di Argentina. Badai kuat yang mengguncang emerging market tersebut bermuara dari Washington.

Sejumlah mata uang emerging keok seiring langkah The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan secara bertahap. Dan, kebijakan Presiden AS Donald Trump atas kerjasama perdagangan dengan sejumlah negara kian menambah bara api atas kondisi yang sudah ada.

Banyak pihak yang mencemaskan, masalah ini bisa menyebar dan menjangkiti emerging market lainnya, atau bahkan Wall Street. Itulah yang terjadi dua dekade lalu saat krisis finansial Asia merebak. Ada kecemasan hal ini akan meluas, sama dengan kejadian 1997-1998,” jelas Michael Arone, chief investment strategist State Street Global Advisors seperti yang dikutip MoneyCNNBEST PROFIT

Hal ini sudah mulai terjadi. Pada Rabu, pasar saham Indonesia ambles nyaris 4%. Rupe India baru-baru ini anjlok ke rekor terendahnya terhadap dollar AS. Demikian pula halnya dengan real Brazil yang sudah turun dalam. Meski demikian, ada sedikit sinyal -meski sangat jauh- bahwa Wall Street juga mulai sakit. Faktanya, Amerika Serikat merupakan oasis ketenangan di tengah badai global. Hal ini dipicu oleh perekonomian AS yang kuat.

Misalnya saja, indeks Dow Jones hanya turun 600 poin dari level rekor pertamanya pada akhir Januari lalu. Sementara, indeks S&P 500 hanya turun 1% dari posisi tertingginya di sepanjang sejarah. Di sisi lain, VIX volatility incex, indeks untuk mengukur turbulensi market, masih tetap berada di kisaran 14. VIX bahkan sempat tiga kali lebih tinggi pada Februari lalu. BESTPROFIT

1 2 3 4 5 814