Lonjakan Stok AS Tekan Harga Minyak Pekan Lalu

Harga minyak mentah dunia melemah sepanjang pekan lalu. Pelemahan dipicu oleh lonjakan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Namun demikian, pelemahan tertahan oleh kuatnya data perekonomian AS yang mendongkrak sentimen terhadap permintaan serta berkurangnya pasokan akibat pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Dilansir dari Reuters, Senin (6/5), harga minyak mentah berjangka Brent melemah 2,6 persen secara mingguan menjadi US$70,85 per barel. Pelemahan ini merupakan yang pertama sejak 6 pekan terakhir.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) juga melemah sekitar 3 persen menjadi US$61,94 per barel. Dengan demikian, harga WTI telah melemah selama 2 pekan berturut-turut.

Berdasarkan data pemerintah AS, persediaan minyak mentah AS jelang pekan terakhir bulan lalu menanjak 9,9 juta barel menjadi 470,6 juta barel, tertinggi sejak September 2017. Peningkatan tersebut terjadi seiring level produksi yang menembus level 12,3 juta barel per hari (bph).

Seiring peningkatan produksi, Badan Administrasi Informasi Energi AS mencatat ekspor minyak mentah AS mencapai 3 juta bph untuk pertama kalinya pada November 2018 lalu dan terus menanjak hingga 3,6 juta bph pada awal tahun ini.

Perusahaan pelayanan sektor energi Baker Hughes juga mencatat perusahaan minyak AS menambah juga rig pengeboran minyak untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir. Jumlah rig merupakan salah satu indikator produksi di masa mendatang.

Sementara pada Jumat (3/5) lalu, data menunjukkan lapangan pekerjaan AS tumbuh pada April 2019. Angka pengangguran juga merosot menjadi 3,6 persen, lebih rendah dari angka pengangguran selama 49 tahun terakhir. Hal itu memicu ekspektasi permintaan minyak mentah akan tetap kuat.

“Jika lebih banyak orang yang akan bekerja, mereka akan mengemudi atau naik moda transportasi untuk berangkat ke tempat kerjanya,” ujar Ahli Strategi Komoditas RJO Futures Phil Streible di Chicago pada pekan lalu.

Oleh karena itu, Streible menilai data pekerjaan AS menjadi indikasi yang baik untuk memperkirakan terjadinya peningkatan permintaan bensin yang akan mendorong permintaan minyak mentah pada musim panas.

Streible juga mencermati reli di pasar ekuitas dan pelemahan dolar AS menyusul dirilisnya data ketenagakerjaan AS tersebut. Hal itu juga mampu menopang harga minyak berjangka. Sebagai catatan, harga minyak berjangka cenderung mengikuti pergerakan pasar modal.

Kemudian, permintaan komoditas yang dijual dengan dolar AS juga cenderung menanjak saat dolar AS melemah.

Pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela serta pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya juga membantu memperketat pasar dan menopang harga.

Selama beberapa hari, produksi minyak Rusia dipangkas sekitar 10 persen akibat ekspor minyak mentahnya ke Eropa terkontaminasi. Sumber dari industri kepada Reuters menyatakan kontaminasi terjadi di salah satu pipa utama ke Eropa dan di terminal pelabuhan pengiriman utama.

Produksi Arab Saudi juga berpotensi menanjak pada Juni 2019 mendatang. Peningkatan tersebut dilakukan untuk memenuhi permintaan minyak domestik demi kepentingan pembangkit listrik. Kendati demikian, sumber Reuters menyatakan produksi Arab Saudi akan tetap memenuhi kuota pemangkasan yang disepakati dalam kesepakatan OPEC.

Sumber dari industri memperkirakan produksi minyak mentah dari Arab Saudi akan mencapai 10 juta bph pada Mei 2019. Produksi negara pengekspor minyak terbesar dunia tersebut akan sedikit lebih tinggi dari angka produksi April 2019 namun masih di bawah kuota 10,3 juta bph yang disepakati dalam kesepakatan OPEC.

Antam Cetak Penjualan Rp6,22 Triliun

PT Aneka Tambang Tbk membukukan penjualan Rp6,22 triliun pada triwulan pertama atau naik 9 persen dibandingkan Triwulan I/2018 sebesar Rp5,73 triliun.

Laba kotor perusahaan juga tumbuh sebesar 2 persen menjadi Rp1,03 triliun. Pada periode yang sama, perseroan mencatatkan Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (Ebitda) Rp701,47 miliar.

Perusahaan menegaskan capaian Ebitda yang positif didukung dengan capaian produksi dan penjualan komoditas utama yang positif.

Sepanjang triwulan pertama, Antam membukukan laba usaha sebesar Rp304,73 miliar dan mencatatkan laba tahun berjalan Rp171,67 miliar. Nilai penjualan bersih Antam sendiri tercatat sebesar Rp6,22 triliun dengan komoditas emas sebagai komponen terbesar pendapatan perusahaan. Penjualan komoditas itu menyumbang Rp3,94 triliun atau 63 persen dari total penjualan bersih.

Hingga triwulan pertama, perusahaan juga mencatatkan volume produksi feronikel sebesar 6.531 ton nikel dalam feronikel (TNi), naik 7 persen dibandingkan capaian produksi periode yang sama pada tahun lalu sebesar 6.087 TNi.

“Volume penjualan feronikel ANTAM tercatat sebesar 7.122 TNi atau naik sebesar 33 persen dibandingkan penjualan periode triwulan I/2018 yang mencapai 5.363 TNi,” demikian keterangan tertulis perseroan, Jumat (3/5).

Perseroan menyatakan peningkatan volume produksi dan penjualan feronikel sejalan dengan tercapainya stabilitas operasi produksi pabrik feronikel perusahaan di Pomalaa , Sulawesi Tenggara dengan kapasitas produksi terpasang hingga 27.000 TNi per tahun.

Direncanakan pada Semester II/2019, kapasitas total produksi terpasang feronikel PT Antam akan naik menjadi 40.500 TNi seiring dengan mulai berproduksinya pabrik feronikel di Halmahera Timur.

“Penjualan feronikel merupakan kontributor terbesar kedua dari total penjualan Antam, dengan kontribusi sebesar Rp1,23 triliun atau 20 persen dari total penjualan triwulan tahun ini,” demikian perseroan.

Proyek Berjalan

Terkait dengan hilirisasi mineral, PT Antam memfokuskan untuk menyelesaikan proyek pengembangan utama perusahaan, di antaranya adalah pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH). Saat ini, realisasi konstruksi sudah mencapai 95 persen.

Perseroan menyatakan pabrik Feronikel Haltim (Line 1) akan memiliki kapasitas produksi sebesar 13.500 TNi, akan memasuki fase produksi komersial pada Semester II/ 2019.

“Dengan selesainya proyek pembangunan pabrik feronikel Haltim (Line 1) akan meningkatkan kapasitas total terpasang feronikel Antam sebesar 50 persen dari kapasitas produksi feronikel terpasang saat ini sebesar 27.000 TNi menjadi 40.500 TNi per tahun,” demikian PT Antam.

Sedangkan terkait dengan komoditas bauksit, saat ini PT Antam terus memfokuskan pada pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina Refinery bekerjasama dengan PT Inalum (Persero) sebagai Holding Industri Pertambangan.

Direncanakan pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi sebesar 1 juta ton SGA per tahun (Tahap 1) akan mulai berproduksi pada 2022.

OJK Ancam Cabut Izin 2 Pelaku Pinjaman Online Terdaftar

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengancam mencabut izin usaha dua perusahaan fintech pinjaman online yang terdaftar dan diawasi oleh lembaganya. Dua perusahaan fintech itu merupakan anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).

Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi bilang kedua perusahaan fintech tersebut disinyalir melanggar kode etik keanggotaan. “Yaitu menawarkan bunga pinjaman online di atas ketentuan sesama anggota AFPI,” tuturnya di acara CNBC Indonesia VIP Forum, Jakarta, Kamis (9/5).

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Menurut dia, anggota AFPI menyepakati ketentuan seluruh biaya untuk pinjaman online sebesar 0,8 persen per hari atau sekitar 24 persen per bulan. Biaya tersebut termasuk bunga dan administrasi.

Persoalannya, dua perusahaan fintech tersebut di atas mematok lebih dari ketentuan yang telah disepakati. Karenanya, AFPI disebut memberi teguran tertulis keras untuk memperingati anggotanya.

“Dua (fintech) mendapatkan peringatan tertulis keras dari AFPI. Kalau terbukti melakukan kesalahan lagi akan dicabut keanggotaannya, dan kami (OJK) dengan sendirinya akan mencabut tanda daftarnya. Tetapi, saat ini, masih terjadi dispute. Masih sengketa. Kesalahannya melampaui tingkat bunga,” terang Hendrikus.

Wakil Ketua Umum AFPI Sunu Widyatmoko enggan berkomentar lebih jauh. Namun, ia membenarkan dua anggotanya diduga melakukan pelanggaran etik pelaku usaha. Pun demikian, persoalan tersebut sedang ditangani oleh asosiasi.

“Ya tidak bisa diumumkan dong, karena ini persoalan etik. Masih dalam penyelesaian. Kalau nanti terbukti, ada tindakan, baru lah kami bisa publikasikan. Sekarang kalau diungkap, asosiasi yang melanggar dong,” katanya.

Terkait batasan bunga maksimum 0,8 persen per hari, Sunu melanjutkan kesepakatan itu lahir di antara anggota yang terdiri dari bunga, biaya transfer antar bank, biaya verifikasi, termasuk biaya administrasi.

Penerapan aturan, ia menambahkan merupakan bentuk tanggung jawab penyelenggara terhadap konsumen, sekaligus menjadi pembeda praktik usaha antara fintech terdaftar dengan fintech ilegal.

1 2 3 4 5 880