Jadi Peserta JKN-KIS, Mimin Tak Khawatirkan Biaya Cuci Darah

Mimin, ibu rumah tangga yang berasal dari daerah Garawangi, Kecamatan Puspahiang Tasikmalaya merasa tertohok ketika diharuskan menjalani cuci darah. Ia tahu prosedur itu harus dilakukan secara rutin, dan menelan biaya besar.

Mimin divonis gagal ginjal oleh dokter di RS Jasa Kartini pada bulan April 2014. Waktu itu, satu-satunya yang terlintas di pikiran adalah menjual ladang. Tidak terpikir olehnya tentang program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), yang sudah ia ikuti sejak Januari 2014.

Tak terkira leganya Mimin setelah mengetahui bahwa biaya pengobatan untuk sakitnya itu ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan sebagai peserta JKN-KIS segmen PBPU. Menjalani beberapa kali cuci darah, akhirnya Mimin dapat beraktivitas seperti biasa.

“Dengan menjadi peserta JKN-KIS, saya merasa sangat terbantu karena tidak perlu khawatir akan biaya pelayanan kesehatan. Saya berharap masyarakat semakin percaya dan ikut serta mendukung demi keberlangsungan program ini dikarenakan sangat banyak masyarakat yang terbantu dengan adanya program JKN-KIS ini,”

Mimin mengingat, “Sebelumnya pertama kali tahu terkena gagal ginjal, dunia ini rasanya gelap, membayangkan besarnya biaya pengobatannya saja saya tidak berani. Namun tidak menyangka dengan kartu ini, semua biaya pengobatan saya ditanggung. Sangat bersyukur saya.”

Kini, Mimin berharap mereka yang juga mengalami sakit seperti dirinya dapat sembuh tanpa terkendala biaya.

“Semoga program mulia ini dapat terus berjalan dan menolong orang-orang seperti kami. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta JKN-KIS yang sehat dan rajin membayar iuran karena dengan iuran yang dibayarkan sangat membantu dirinya dalam menjalani pengobatan ini,” kata Mimin.

Harus Cuci Darah, Juliana Lega Jadi Peserta JKN-KIS

Sejak beroperasi pada 2014, data pemanfaatan pelayanan kesehatan BPJS Kesehatan terus meningkat. Salah satu peserta yang merasakan keuntungan jadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) saat itu adalah Juliana yang menderita gagal ginjal.

Juliana divonis untuk cuci darah ketika wanita 22 tahun itu duduk di semester enam, pada 2013. Tiga kali menjalani cuci darah, ia lalu memutuskan berhenti karena tersandung masalah biaya. Bahkan selama tiga bulan ia tidak melakukan prosedur tersebut, sampai tubuhnya benar-benar drop.

“Terpaksa kembali saya melakukan cuci darah. Selama setahun cuci darah, biaya yang sudah dikeluarkan keluarga saya mungkin sudah mencapai Rp250 juta. Rasanya ingin menangis setiap hari, tidak tega sama orang tua,” kata Juliana.

Kehadiran JKN-KIS menimbulkan harapan baru. Juliana segera mendaftarkan diri. Ia sendiri menyebut tak tahu sudah berapa kali memanfaatkan kartu KIS sekitar lima tahun terakhir.

“Entahlah, kalau tidak ada Program JKN-KIS ini harus berapa banyak lagi uang yang harus dikeluarkan untuk cuci darah. Apalagi setahun belakangan ini saya sudah disuruh untuk tiga kali seminggu cuci darah. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Program JKN-KIS ini,” ujarnya.

Menurut Juliana, ia tidak merasakan perbedaan pelayanan kala masih berstatus sebagai pasien umum, dan saat sudah menjadi peserta JKN-KIS. Ia mengatakan, tak perlu menunggu sakit untuk mendaftarkan diri dalam program kesehatan ini.

“Jika jatuh sakit, tidak perlu risau memikirkan biaya. Mungkin untuk berobat sekali dua kali dengan uang sendiri, masih mampu. Tapi kalau harus dilakukan seumur hidup seperti cuci darah yang saya alami, pasti ada titik di mana kita tidak mampu lagi menanggung biayanya. Oleh karena itu, sebaiknya kita mendaftar JKN-KIS mumpung masih sehat,” kata Juliana.

Ahli UGM: Minum dan Mandi Air Panas Tak Bisa Bunuh Corona

Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Sumardi menyatakan minum dan mandi air panas tidak bisa membunuh virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi Covid-19. Dia mengatakan virus mati dalam suhu yang sangat tinggi.

“Klaim itu tidak benar, minum maupun mandi air panas tidak bisa membunuh  Covid-19,” ujar Sumardi, melansir situs resmi UGM, Jumat (15/5).

Sumardi mengatakan hasil penelitian terhadap virus SARS yang berlangsung pada tahun 2003 menyatakan bahwa virus tersebut baru mati pada suhu lebih dari 58 derajat Celcius. Dia berkata suhu tersebut terlalu tinggi untuk air minum maupun mandi.

Lebih lanjut, Sumardi berkata suhu air panas dikonsumsi ataupun untuk mandi tidak akan bisa mencapai atau membunuh virus. Sebab, dia virus Covid-19 berada dalam sel tubuh. Selain itu,  tubuh secara otomatis akan mengatur suhunya saat mendapatkan serangan virus.

“Kalau ada virus yang masuk ke tubuh maka suhu tubuh akan naik dengan sendirinya untuk menetralkan virus. Jadi, tidak perlu minum atau mandi air panas karena justru akan mengacaukan sistem tubuh,” ujarnya.

Di sisi lain, Sumardi berkata mengkonsumsi air panas terlalu sering bisa memberi dampak buruk bagi kesehatan. Salah satunya, dia berkata bisa melemahkan lambung. Sedangkan sering mandi air panas juga akan merusak kulit dan membuat kulit kering.

Adapun cara terbaik untuk membunuh virus yang menempel di tubuh, kata dai adalah dengan mencuci dengan sabun atau memakai handsanitizer.

Selain itu, dia mengimbau masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan seperti menjalani physical distancing, menjauhi kerumunan, memakai masker, serta menjalani pola hidup bersih dan sehat.

1 2 3 4 5 1,039