Kepergian Pepsi dan Penurunan Penjualan Minuman Bersoda

Kabar kepergian Pepsi dari Indonesia pada 10 Oktober 2019 menjadi kejutan tersendiri bagi pelanggan setianya. Mereka yang sudah mencicipi dan berlangganan minuman asal Amerika Serikat (AS) sejak saat itu tak lagi bisa mengonsumsi minuman tersebut mulai bulan ini.

Padahal, Pepsi bukan barang baru di Indonesia. Minuman itu sudah diproduksi di dalam negeri sejak 1996 silam. Artinya, warga Indonesia sudah dimanjakan oleh minuman tersebut sejak 23 tahun lalu.

Mengulas sedikit mengenai keberadaan Pepsi di Indonesia, minuman itu hadir di bawah naungan PT Pepsi Indobeverages. Perusahaan tersebut merupakan hasil kerja sama PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan PepsiCo AS.

Indofood CBP Sukses Makmur mendirikan pabrik Pepsi di Purwakarta, Jawa Barat pada 1995 silam. Kemudian, produksi baru dimulai pada tahun selanjutnya, yakni pada 1996.  Di sini, pabrik itu tak hanya memproduksi satu jenis minuman, tapi beberapa jenis lain yang bisa menjadi pilihan masyarakat.

Sejumlah produk yang dimaksud, yaitu Pepsi Regular, Pepsi Blue, Pepsi Twist, Pepsi Cola, Mirinda Strawberry, Mirinda Root Berry, 7-UP Emerald, 7-UP Revive, A&W Root Bear, Tekita, dan Canada Dry.

Seiring berjalannya waktu, Indofood CBP Sukses Makmur mengakuisisi PT Pepsi-Cola Indobeverages (PCIB) pada 2013 lalu. Akuisisi itu dilakukan oleh anak usahanya bernama PT Indofood Asahi Sukses Baverage (IASB) dan PT Asahi Indofood Baverage Makmur (AIBM).

Setelah akuisisi, Pepsi-Cola Indobeverages resmi menjadi unit usaha di Grup Indofood yang berada di sektor minuman ringan. Kontrak kerja sama Pepsi dengan Grup Indofood dievaluasi setiap tahun, di mana kontraknya habis setiap 10 Oktober.

Tahun ini, Grup Indofood sepakat untuk mengakhiri kontrak kerja samanya. Artinya, perusahaan tak akan lagi memproduksi minuman Pepsi ke depannya.

Head of Sales and Marketing PepsiCo Indonesia Andina Mutya mengatakan Asahi Indofood Baverage Makmur tak akan lagi memproduksi, menjual, dan mendistribusikan minuman untuk PepsiCo per 10 Oktober 2019.

“AIBM dan PepsiCo Inc (PepsiCo) telah sepakat untuk mengakhiri kontrak pembotolan antara kedua perusahaan,” ucapnya kepada CNNIndonesia.com belum lama ini.

Pihak PepsiCo Indonesia sendiri tak menjelaskan secara gamblang alasan dibalik berhentinya kontrak kerja sama dengan Grup Indofood. Yang pasti, ini merupakan keputusan komersial di antara keduanya.

Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengakui penjualan minuman berkarbonasi atau bersoda turun di Indonesia setiap tahun. Dengan kata lain, pengusaha di sektor itu harus terus gigit jari karena pertumbuhan penjualannya negatif.

“Mungkin bisa jadi keputusan komersial tidak diperpanjang disebabkan minuman bersoda secara umumnya pertumbuhannya negatif,” kata Adhi.

Menurutnya, penjualan minuman berkarbonasi turun 1 sampai 2 persen per tahunnya. Ia belum melakukan kajian secara pasti penyebab penurunan penjualan minuman berkarbonasi di Indonesia.

Namun, ia berspekulasi penurunan permintaan minuman berkarbonasi karena semakin banyak pilihan minuman yang ditawarkan untuk masyarakat sekarang. Makanya, pemerintah dan pelaku usaha perlu mengkaji lebih detail minuman apa yang dicari oleh generasi milenial saat ini.

“Bisa jadi konsumen beralih, varian minuman banyak. Ada rasa buah, cokelat, kopi, dan lain-lain,” ucap Adhi.

Kendati penjualan minuman berkarbonasi berada dalam tren penurunan, tapi kinerja industri minuman secara umum diklaim Adhi masih meningkat. Begitu juga bila diakumulasi antara penjualan makanan dan minuman (mamin) hingga September 2019.

“Kalau nasional masih meningkat, mungkin 8 persen kuartal III 2019. Kurang lebih sama seperti tahun lalu,” jelas Adhi.

Sepanjang tahun ini, Adhi menargetkan industri mamin bisa meningkat 9 persen. Target itu terbilang moderat dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang sebesar 7,9 persen.

Minim Sentimen Positif, IHSG Diprediksi Masih Lesu Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih bergerak lesu pada perdagangan Selasa (8/10). Pasalnya, minim sentimen positif dari dalam negeri yang mampu menyokong gerak indeks.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan bilang secara teknikal rentang pelemahan IHSG makin terbatas.

“Pergerakan masih akan terbatas melihat minimnya sentimen terutama dari dalam negeri,” kata Dennies dalam risetnya dikutip Selasa (8/10).

Alih-alih menopang IHSG, ia bilang sentimen dalam negeri justru kurang baik yaitu susutnya cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir September. Bank Indonesia mencatat posisi cadev hanya sebesar US$124,3 miliar atau merosot hingga US$2,1 miliar dibanding posisi akhir Agustus 2019 yang mencapai US$126,4 miliar.

Akibatnya, sambung dia, IHSG anjlok cukup dalam hingga 1 persen atau 60,66 poin ke level 6.000 pada penutupan perdagangan Senin (7/10).

Ia memprediksi IHSG akan melaju di rentang support 5.930-5.965 dan resistance 6.060-6.120. Di tengah pelemahan ini, ia merekomendasikan beli saham PT Medco International Tbk (MEDC) dengan target harga Rp680-Rp700 per saham.

Senada, Analis Senior KGI Sekuritas Yuganur Wijanarko menuturkan IHSG akan kembali melanjutkan koreksi. Alasannya, IHSG gagal bergerak di atas level resistance 6.100 dan 6.150 akibat tekanan jual.
[Gambas:Video CNN]
“Koreksi lanjutan ini sebagai kesempatan buy on weakness (beli saat harga rendah),” tuturnya.

Ia memprediksi IHSG akan bergerak di rentang support 5.720-5.920 dan resistance 6.100-6.590.

Sementara itu, saham-saham utama Wall Street kompak melemah pada perdagangan Senin (7/10). Dow Jones turun 0,36 persen menjadi 26.478, S&P 500 melemah 0,45 persen menjadi 2.938 , dan Nasdaq Composite turun 0,33 persen menjadi 7.958.

Usai Bangkit, Harga Minyak Dunia Kembali Lesu Awal Pekan Ini

Harga minyak mentah dunia turun tipis pada perdagangan Senin (7/10). Kali ini, pergerakan harga dipengaruhi oleh sikap investor yang mencerna beragam informasi terkait langsung atau tidak langsung dengan jumlah pasokan dan tingkat permintaan minyak.

Mengutip Antara, harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,02 ke level US$58,35 per barel. Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) melemah US$0,06 menjadi US$52,75 per barel.

Penjualan enam kontrak berjangka minyak dan dan opsi lainnya yang terkait dengan pergerakan harga minyak terus menurun dalam empat bulan terakhir. Diketahui, transaksi lindung nilai (hedge fund) dan pengelola dana (fund manager) lainnya hanya menjual setara dengan 96 juta barel. Hal ini menunjukkan permintaan minyak global yang sedang melemah.

Sementara itu, survei S&P Global Platts memperlihatkan bahwa jumlah produksi minyak mentah oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) anjlok pada September 2019. Bahkan, penurunannya menjadi yang terburuk dalam 17 tahun terakhir.

Tercatat, produksi minyak OPEC per September 2019 turun 1,48 juta barel per hari (bph) menjadi 28,45 juta bph. Hal ini merupakan dampak dari serangan pesawat tanpa awak (drone) terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, serta sanksi yang diberikan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dan Venezuela.

Sebagai informasi, harga minyak mentah dunia akhir-akhir terpantau bergerak fluktuasi. Pada Jumat (4/10) kemarin, harga minyak sebenarnya sempat bangkit (rebound).

Harga minyak mentah berjangka Brent tercatat menguat US$0,66 ke level US$58,37 per barel. Kemudian, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,36 menjadi US$52,81 per barel.

Kenaikan ini dipengaruhi oleh data AS yang cukup positif, yakni menurunnya jumlah pengangguran menjadi 3,5 persen per September 2019. Realisasi itu merupakan tingkat pengangguran terendah dalam 50 tahun terakhir.

1 2 3 4 5 927