Istana Buka Suara Soal Dugaan Surat Terbuka OPM untuk Jokowi

Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

PT.Bestprofit  — Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan Presiden Joko Widodo sudah mengetahui surat terbuka yang diduga dikirimkan Organisasi Papua Merdeka (OPM) kepadanya. Namun pihak Istana enggan terlalu mengurusi surat terbuka tersebut karena penulisnya maupun pengirimnya bisa siapa saja.

“Sudah tahu, tapi kami tidak terlalu (fokus) ini, karena kami tidak tahu siapa orangnya dan sekarang ini bisa siapa saja yang menulis,” kata Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (12/12).

Sebelumnya, tersebar surat terbuka berkop Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang terdiri dari tiga halaman. Tak tertera alamat fisik kantor dan hanya mencantumkan email serta nomor ponselnya.

Surat yang ditandatangani Kepala Staf Umum TPNPB Mayor Jenderal Teryanus Satto ini menyatakan penolakan pembangunan infrastruktur yang pemerintah lakukan di Papua Barat.

“Rakyat Papua inginkan hak politik penentuan nasib sendiri (Self Determination) dan ingin pisah dari Indonesia untuk merdeka penuh dan berdaulat dari penjajah Indonesia,” bunyi surat itu.

TPNPB meminta pemerintah menghentikan pembangunan jalan Trans Papua dan mendesak agar pasukan militer ditarik dari Kabupaten Nduga. Mereka juga meminta pemerintah mengizinkan jurnalis asing, palang merah internasional, dan Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) masuk ke Nduga.

Mereka mengancam akan terus memerangi Indonesia jika pemerintah tidak mengabulkan permintaannya.

Sementara itu, Pramono menyatakan pemerintah membangun infrastruktur di sana karena sangat dibutuhkan masyarakat sekitar. Sikap OPM yang menolak pembangunan infrastruktur menunjukan tidak pro terhadap rakyat Papua.

“Katakanlah siapa pun yang mengatakan seperti itu, menyatakan tidak butuh rakyatnya disejahterakan, itu semakin menunjukkan mereka tidak ingin masyarakat Papua semakin sejahtera,” ucapnya.

situs Gunung Padang, Misteri Pengubah Sejarah Dunia

Ilustrasi. (Foto: Istockphoto/uskarp)

 

PT.Bestprofit  –  Situs Gunung Padang digadang-gadang sebagai salah situs tertua di dunia. Situs berusia 10 ribu tahun ini disebut semasa dengan situs Göbekli Tepe di Turki.

Situs ini diperkirakan pertama kali dibangun pada 8000 SM. Usianya bahkan lebih tua dari Piramida di Mesir yang dibangun sekitar 2500 SM, peninggalan kota tua Mahenjo Daro dan Harrapa di India yang berusia 3.000 tahun, dan budaya Mesopotamia yang berada di era yang sama.

“Ini penting untuk sejarah Indonesia. Karena di sejarah disebut peradaban kita mulai tahun 600 masehi di Kutai. Sebelumnya tidak ada peradaban besar, itu salah,” jelas Danny Hilman Natawijaya, peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Jumat (7/12).

Sebab dalam sejarah tertulis kalau di Indonesia masa 10 ribu tahun lalu masih dalam masa bercocok tanam dan belum memiliki peradaban tinggi.

“Kalau dibilang ada bangunan masif advance (di masa itu), itu berarti tidak cocok dengan sejarah yang kita kenal […] Jadi, kalau terungkap bisa mengubah sejarah dunia,” tuturnya lagi.

Danny menyebut situs megalitikum Gunung Padang tidak dibangun pada satu era. Tapi struktur tersebut dibangun berkelanjutan dalam tiga masa dari 8.000 SM hingga 1.000 SM.

Lapisan tertua yang berusia 10 ribu tahun tertimbun di bawah tanah. Sementara lapisan termuda berusia 3.000 tahun. Denny menyebut anehnya struktur bangunan candi ini seperti sengaja disamarkan.

“(Seperti) sengaja ditimbun pakai tanah dan didirikan megalith sederhana di atasnya. Ini masih jadi misteri, kenapa dibuat seperti itu. Kecenderungannya sih disamarkan biar tidak dijarah orang,” ujar Ketua Koordinator Penelitian Gunung Padang itu.

Danny juga mengungkap kalau mereka telah melakukan berbagai studi untuk membuktikan bahwa ada struktur dibawah situs megalitikum itu.

“Studi melibatkan berbagai ahli studi sudah lengkap. Kami juga sudah melakukan enam pengeboran sedalam 30 meter dan penggalian 11 meter.”

Namun, Denny menyayangkan sikap pemerintah yang seakan tidak peduli dengan situs yang digadang-gadang sebagai situs tertua di dunia. Sebab, sejak berakhirnya pemerintahan SBY, proyek pemugaran situs ini tak lagi berlanjut.

“Nasibnya agak terkatung-katung, kurang diperhatikan. Padahal merupakan warisan Indonesia yang besar. Bukan hanya untuk ilmu pengetahuan, tapi bisa jadi ikon pariwisata yang tidak kalah dengan piramida Iza,” tandasnya.

Keputusan untuk melakukan pemugaran sebelumnya telah dituangkan dalam Perpres nomor 148 tahun 2014 tentang Pengembangan, Pelindungan, Penelitian, Pemanfaatan, dan Pengelolaan Situs Gunung Padang. Permen Kemendikbud tentang pelestarian dan pengelolaan Gunung Padang, dan Pergub Jawa Barat tenteng penelitian Gunung Padang.

Facebook Klaim Eksekusi 1,5 Miliar Akun Bodong

PT.Bestprofit — Perang facebook dengan akun palsu di platformnya terus berlanjut. Pada kuartal kedua dan ketiga 2018, Facebook mengklaim telah menghapus 1,5 miliar akun palsu di seluruh dunia.

Facebook mengatakan mayoritas akun tersebut berhasil dihapus karena penerapan kecerdasan buatan (AI) untuk melacak dan mengidentifikasi akun-akun bodong.

“Sekitar 99,6 persen dari akun palsu tersebut dihapus secara proaktif bahkan sebelum ada yang melaporkan kepada kami. Jadi sistem kami cukup kuat dan kami terus belajar  dan kami terus berupaya menemukan cara baru untuk menghapus akun palsu,” kata Politics and Government Outreach Facebook APAC Roy Tan.

Tan mengatakan ciri-ciri akun bodong dilihat berdasarkan perilaku yang terbaca oleh AI. AI telah diberikan algoritme untuk mengawasi akun-akun palsu yang cenderung membagikan konten-konten berita dengan sangat cepat dan dengan judul berita yang sensasional.

Atau perilaku di kolom komentar yang tidak selayaknya perilaku manusia. Misalnya penggunaan kata yang terlalu kaku dan berulang-ulang.

“Jadi ada banyak perilaku  yang dideteksi oleh AI kami. Perilaku ini memperlihatkan ciri akun palsu dan jika terbukti akun palsu kami akan memblokirnya,” kata Tan.

Tan menjelaskan Facebook juga menyisir keberadaan akun-akun palsu dengan menggunakan tenaga manusia. Menurutnya saat ini Facebook memiliki 20 ribu tenaga kerja yang bertugas mengawasi akun-akun palsu.

“Kami menggunakan AI dan human reviewer. Kami AI yang mampu menjelajahi platform kami ratusan juta kali dalam satu detik. Dan ketika kita melihat akun palsu, kami akan menghapus itu,” ujar Tan.

Tan meyakini para akun-akun palsu tersebut juga sering menyebarkan berita atau konten hoaks. Oleh karena itu perang dengan akun palsu ini juga akan mengurangi penyebaran berita hoaks di Facebook.

1 2 3 4 5 6 829