4 Alasan Konsumen Tak Membeli

produk-israel1.Produk tidak sesuai standart

Konsumen memiliki standar terhadap produk yang akan dibeli, dan Anda tidak bisa ikut campur dalam menentukan standar tersebut. Biasanya, kriteria umum yang menentukan standar konsumen adalah harga, kualitas, serta bentuk.

2.Produk mudah di buat / ditiru

Konsumen biasanya tidak akan tertarik dengan produk yang menurut mereka mudah dibuat sendiri. Jika produk Anda masuk dalam kriteria ini, sebaiknya cari strategi lain untuk mempromosikannya.

3.Tidak ada penawaran spesial / Diskon

Anda pasti tahu jika ada konsumen yang berpredikat pemburu diskon. Konsumen tipe ini biasanya akan membeli produk apapun yang dilabeli “diskon”. Penawaran harga murah memang selalu memikat. Kenapa Anda tidak coba memberi diskon untuk produk Anda?

4.Produk tidak menarik dan tak terdapat nilai jual

Istilah “Don’t Judge a Book by Its Cover” benar adanya. Namun seringkali tidak berlaku dalam bisnis. Tak bisa dipungkiri bahwa cinta pada pandangan pertama konsumen terhadap produk dagang adalah dari kemasan yang ia lihat saat pertama kali. Jika produk Anda dikemas menarik dan calon konsumen tertarik menyentuh atau merasakannya, maka Anda tinggal selangkah lagi membuat konsumen itu mengeluarkan uangnya demi produk Anda

Tunggu Pilpres, Ciputra Tunda Pembangunan 10 Proyek Properti

indexJakarta -PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menunda pembangunan 10 proyek pada 2014 karena menunggu pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres). Proyek-proyek tersebut terdiri dari pembangunan perumahan, hotel, dan rumah sakit.

Direktur Ciputra Development Tulus Santoso mengatakan penundaan ini merupakan refleksi dari keinginan investor. Perseroan akan menunggu apakah pilpres berjalan aman, stabil, dan 1 atau 2 putaran.

Timing-nya memang setelah pemilu, praktis semester II. Itu jika berlangsung 1 putaran,” ungkap Tulus di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (7/5/2014).

Bila Pilpres tidak 1 putaran, lanjut Tulus, maka proyek-proyek tersebut akan ditunda kembali. Dampaknya akan membuat target penjualan sulit tercapai. Perseroan menargetkan penjualan sebesar Rp 10 triliun pada tahun ini.

“Agak problem kalau berlangsung dua putaran,” ujarnya.

Pilpres yang berlangsung aman, tambah Tulus, dapat membentuk iklim investasi yang kondusif. Namun jika ada kericuhan, maka proyek yang berjalan pada semester I akan terganggu dan mempengaruhi persepsi investor.

“Ya persepsi itu berpengaruh. Sekarang yang mendistorsi kan persepsi,” sebutnya

Tulus sendiri masih optimistis pilpres dapat berjalan lancar, aman, dan 1 putaran. Ini akan membuat proyek-proyek properti bisa dijalankan dan target penjualan perseroan tercapai.

“Dengan stabilitas politik dan ekonomi, kami luncurkan 10 proyek baru yang mendukung target penjualan kami,” tegasnya.

Tulus menyebutkan 10 proyek tersebut berlokasi di Kemayoran, Fatmawati, Maja, Malang, Pontianak, Serang, Samarinda, Bali, dan Ringraod Jakarta Barat. Nilainya beragam, untuk perumahan sekitar Rp 50-100 miliar, hotel Rp 1 triliun, dan rumah sakit Rp 250 miliar.

“Untuk hotel akan didanai secara gradual oleh bank. Kemudian kalau pengembangan perumahan itu dana sendiri saja,” tutur Tulus

SKK Migas Dukung Rencana Pertamina Impor Gas dari AS

imagesJakarta -Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menilai rencana PT Pertamina (Persero) akan mengimpor gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat (AS) suatu langkah tepat. Gas impor dari bisa dimanfaatkan untuk domestik hingga diekspor kembali.

“Pertamina impor LNG dari Amerika Sekitar pada 2018? itu langkah tepat sekali, itu langkah pintar, pintar berbisnis Pertamina-nya,” ungkap Deputi Pengendalian Komersial Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Widhyawan Prawiraatmadja, ditemui di City Plaza, Jakarta, Rabu (7/5/2014).

Widhyawan mengungkapkan, Indonesia memang banyak memiliki produksi gas bumi, bahkan masih menjadi salah satu negara eksportir gas terbesar di dunia. Namun karena kebutuhan gas bumi dalam negeri semakin meningkat, pemerintah mempunyai kebijakan untuk mengurangi ekspor gas. Artinya langkah impor gas sebagai bagian mengamankan pasar gas yang selama ini dipegang oleh Pertamina.

“Sementara Pertamina punya pasar, punya pembeli gas di luar negeri seperti Jepang, Korea Selatan dan lainnya, agar masih bisa pasok dan tidak kehilangan bisnisnya di negara tersebut karena gas dari dalam negeri dikurangi, dia ambil dari negara lain, itu pintar,” ucapnya.

Pada saat Pertamina merealisasikan impor gas pada 2018, harga gas di AS sedang berlimpah sehingga dijual murah. Dengan harga murah itu, Pertamina memungkinkan menjual kembali untuk ekspor ke pembeli-pembeli Pertamina.

“Gas-nya itu kan bisa dibawa ke dalam negeri atau bisa dia jual ke luar negeri,” tambahnya.

Seperti dikatakan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya, Pertamina sudah melakukan kontrak pembelian LNG dari Amerika Serikat sebanyak 800.000 meterik kubik per tahun. Impor LNG tersebut akan dimulai pada 2018 dan untuk kontrak tahap awal selama 10 tahun.

Untuk mendukung impor LNG, Pertamina membutuhkan kapal pengangkut LNG ukuran raksasa. Saat ini BUMN energi itu sedang mempersiapkan untuk memesan 2 kapal LNG.

“Kita akan melakukan pengadaan kapal pengangkut LNG, kapasitasnya memang belum ditentukan, kemungkinan 140.000-170.000 meter kubik, kapal kelas very large,” kata Hanung.

1 974 975 976 977 978 992