Pasar Saham Global Melempem, Harga Minyak Terjerembab

PT.Bestprofit – Harga minyak dunia terjerembab sekitar 5 persen pada perdagangan Kamis (20/12), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan kembali terjadi menyusul kekhawatiran terhadap pasokan yang membanjir, sementara permintaan energi merosot.

Selain itu, melempemnya kinerja pasar modal usai kenaikan suku bunga acuan AS juga ikut menyeret harga minyak.

Dilansir dari Reuters, Jumat (21/12), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$2,89 atau 5,05 persen menjadi US$54,35 per barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,29 atau 4,75 persen menjadi US$45,88 per barel.

Selama sesi perdagangan berlangsung, Brent sempat tertekan hingga ke level US$54,28 per barel, terendah sejak pertengahan September 2017. Sementara itu, harga WTI tergelincir hingga ke level US$45,67 per barel, terendah sejak akhir Agustus 2017.

Kedua harga acuan telah merosot lebih dari 35 persen sejak mencapai level tertinggi untuk beberapa tahun terakhir pada awal Oktober lalu.

Pasar saham global terjungkal usai Bank Sentral AS Federal Reserves (The Fed) mengerek suku bunga acuan 25 basis poin pada Rabu (19/12), waktu setempat. Dalam dua tahun ke depan, The Fed juga menjaga kebijakan terkait peningkatan suku bunga. Hal itu menimbulkan ekspektasi investor bahwa kebijakan The Fed tidak akan seagresif sebelumnya.

Pilihan redaksi
http://www.ptbestprofit.com
http://www.ptbestprofitfutures.com
http://www.pt-bestprofit.com

Pada Kamis lalu, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperkirakan harga minyak tidak akan naik tajam dalam waktu dekat, kecuali ada persoalan geopolitik.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, bulan ini telah menyepakati untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph). Hal itu dilakukan untuk mengurangi persediaan yang membanjir serta mendongkrak harga.

Kendati demikian, pemangkasan tidak akan terjadi hingga bulan depan. Sementara, produksi telah atau hampir mencetak rekor di AS, Rusia, dan Arab Saudi.

“Pasar tetap bersikap skeptis terhadap kemampuan OPEC dan Rusian untuk mengendalikan produksi yang berjalan,” ujar Partner Again Capital Management John Kilduff di New York.

Menurut Killduff, pasar saat ini ingin ditunjukkan bukti mengingat komitmen untuk memangkas tidak cukup.

OPEC berencana untuk merilis rincian kuota pemangkasan produksi sukarela yang dilakukan anggota dan sekutunya demi mengerek harga. Hal itu diungkap oleh Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo dalam selembar surat yang dibaca oleh Reuters.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih memperkirakan persediaan minyak global akan merosot pada akhir kuartal I 2019.

Namun, al-Falih menambahkan pasar tetap rentan terhadap faktor politik dan ekonomi, serta spekulasi.

Di AS, persediaan minyak di hub pengiriman minyak mentah Cushing, Oklahoma naik sebesar 1,85 juta barel hingga pekan yang berakhir pada 18 Desember lalu. Informasi itu didapat Reuters dari sejumlah pelaku pasar yang mengutip laporan Genscape.

Comments are closed.