Perbedaan SWF RI dan Negara Maju Versi Wamen BUMN

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkap beda Lembaga Pengelola Investasi (LPI) bertajuk Indonesia Investment Authority (INA) dengan dana abadi atau Sovereign Wealth Fund (SWF) negara-negara lainnya.

Perbedaan utamanya, yakni terletak pada tujuan dari INA. Menurut Tiko, panggilan akrabnya, SWF di negara maju menggunakan dana abadi untuk mengelola aset (reserve asset) dengan cara berinvestasi ke luar atau di luar negara mereka.

Sebaliknya, SWF di Indonesia bertujuan membawa investasi luar untuk masuk ke RI dan mengoptimalkan aset-aset negara yang sudah ada.

“Ini menarik karena kita punya aset banyak yang sebenarnya belum kita kerja samakan dan belum optimal,” imbuhnya pada acara Business Talk Kompas TV, Selasa (26/1) malam.

Padahal, aset-aset di dalam negeri cukup ‘seksi’ untuk membuat investor memarkirkan modal mereka. Belum lagi, potensi untung yang menjanjikan.

Pemerintah, kata Tiko, telah memilah-milah aset-aset potensial BUMN yang perlu dioptimalkan. Deretan aset ini yang akan menjadi ‘menu’ yang ditawarkan kepada investor.

Untuk investasi ekuitas seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara, return yang bisa didapatkan mencapai belasan hingga 20 persen. Imbal hasil ini dinilai menarik untuk investor asing yang memiliki dana lebih dan tengah mencari lahan investasi ekuitas.

Tiko mengatakan setidaknya sudah ada 5 negara yang minat bergabung dalam SWF, yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, Uni Emirat Arab, Kanada, dan Belanda.

Meski belum diumumkan siapa CEO dari LPI, Tiko memastikan LPI bisa beroperasi pada akhir Februari atau awal Maret mendatang. Sehingga, pada kuartal II para investor bisa mulai berinvestasi.

“Kami sedang melakukan pemilihan CEO langsung dengan Presiden dan pemilihan board of director,” tutupnya.

1Pingbacks & Trackbacks on Perbedaan SWF RI dan Negara Maju Versi Wamen BUMN