Produksi Turun, Target Lifting Migas Turun 4,5 Persen di 2020

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyepakati asumsi dasar target produksi siap jual (lifting) minyak dan gas (migas)  sebesar 1,893 juta barel setara minyak per hari (bph) untuk 2020. Target tersebut merosot 6,5 persen dari target lifting migas tahun ini yang dipatok 2,025 juta boepd.

Sebelumnya, asumsi dasar pagu indikatif yang disepakati Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR akan menjadi pertimbangan pemerintah dalam menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas Dwi Soetjipto merinci target lifting minyak tahun depan sebesar 734 ribu barel per hari (bph) atau merosot sekitar 3 persen dari proyeksi rata- rata tahun ini.

Untuk tahun ini, SKK memperkirakan lifting minyak tak akan mencapai target sebesar 775 ribu bph yang dipatok dalam APBN 2019. Mereka memperkirakan lifting tahun ini hanya mencapai 754,85 bph.

“Target lifting minyak turun karena blok-blok kita dalam posisi produksinya turun. Sebenarnya dengan turun 3 persen itu kami sudah berupaya serius untuk mengurangi laju perlambatan produksi tanpa upaya memadai turunnya bisa 10 persen,” ujar Dwi di sela Rapat Kerja dengan Komisi VII di Gedung DPR, Kamis (20/6) malam.

Dwi mengungkapkan penurunan produksi alami saat ini memang terjadi di blok-blok yang selama ini menjadi andalan Indonesia. Penurunan tersebut antara lain terjadi di Blok Cepu yang merupakan blok penghasil minyak terbesar.

SKK Migas memperkirakan produksi minyak blok tersebut akan turun 2,5 persen dari 221,72 ribu bph menjadi 216 ribu bph pada tahun depan.

“Target untuk Blok Cepu konservatif. Kami mengantisipasi munculnya kandungan air yang besar (di Blok Cepu) karena sudah dua, tiga tahun beroperasi,” ujarnya.

Selain Blok Cepu, penurunan juga diproyeksikan akan terjadi di Blok Rokan dan Blok Mahakam. Untuk Blok Rokan yang dioperatori oleh PT Chevron Pacific Indonesia, produksi diperkirakan merosot 8,7 persen dari prognosa tahun ini yang sebesar 186,96 ribu bph menjadi 170,76 ribu bph.

Sementara Blok Mahakam yang dioperatori oleh PT Pertamina Hulu Mahakam, produksi juga diramal turun dari 35,48 ribu bph menjadi 30,12 ribu bph.

Kendati demikian, sejumlah blok diperkirakan masih bisa meningkatkan produksi walau sedikit seperti blok-blok di bawah PT Pertamina EP, Blok Jabung, dan Blok OSES. “Kalau ada penemuan (cadangan) baru lagi untuk minyak mungkin baru bisa menggantikan lagi produksi,” ujarnya.

Sementara, lifting gas bumi ditargetkan naik 8,15 persen dari proyeksi rerata tahun ini 1.071,89 ribu boepd menjadi 1.159,29 ribu boepd. Kenaikan produksi itu dipicu oleh selesainya sejumlah proyek.

“Untuk gas, akan ada kenaikan di Blok Berau dan beberapa yang lain seperti Blok Jabung dan Kangen,” ujarnya.

Namun, sama halnya dengan minyak, realisasi lifting gas untuk tahun ini diperkirakan akan meleset dari target yang dipatok 1.250ribuboepd.

Comments are closed.