Produsen Didorong Buat Mobil Hibrida Harga Rp200 Jutaan

Mobil hybrid, plug-in hybrid dan listrik di Indonesia harganya masih relatif mahal. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong produsen otomotif membuat kendaraan hybrid dan listrik harga terjangkau untuk konsumen di Indonesia.

Pasar otomotif Indonesia didominasi mobil harga Rp200 juta sampai Rp250 juta. Rentang harga itu bisa menjadi acuan produsen dalam menciptakan mobil hybrid dan listrik.

“Di dalam konsep LCEV (Low Carbon Emmision Vehicle) kami membuka ruang kendaraan bisa harga segitu [Rp200 jutaan]. Jadi konsep mild hybrid,” kata Direktur Jenderal Industri, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (3/10).

Harga terjangkau mobil ramah hybrid diprediksi akan mendongkrak pasar mobil ramah lingkungan. Pemerintah terus mendorong industri kendaraan bermotor listrik, salah satu buktinya dengan mengumumkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai resmi diundangkan pada 12 Agustus 2019.

“Jadi cukup bisa menurunkan emisi atau efisiensi bahan bakar. Tapi terjangkau. Jadi step-by-step. Karena kalau di-push suruh (masyarakat) beli mobil listrik langsung mahal, tidak ‘nendang’ nanti,” katanya.

Seperti diketahui beberapa brand sudah mulai menjual kendaraan ramah lingkungan di Indonesia, namun harganya masih relatif mahal dan belum ada insentif dari pemerintah. Karena itu menurut Harjanto menghadirkan mobil ramah lingkungan dengan harga terjangkau penuh tantangan.

“Makanya kami melihat nanti mendorong size baterai mainkan di situ sehingga mereka bisa menggunakan listrik plug-in dan menurunkan emisi, tapi harga terjangkau. Beberapa pabrikan sudah berpikir ke sana,” kata dia.

Presiden Direktur Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) Naoya Nakamura mengaku sudah berdiskusi dengan pemerintah terkait pengembangan power train kendaraan listrik. Nakamura menyebut bahwa konsep hibrida harga terjangkau menarik untuk dikembangkan.

“Tentu mild hybrid perlu dipertimbangkan sebagai teknologi baru, tapi tidak hanya itu hybrid, plug-in, serta BEV (mobil murni listrik) juga potensi besar,” ucap Nakamura.

“Dan itu (mobil mesin bakar) tidak bisa dihapus begitu saja. Dan tentu realitas harus step-by-step menuju ke mobil listrik. Kami juga memikirkan generasi berikutnya power train yang akan diperkenalkan di Indonesia,” ucap Nakamura.

Comments are closed.