Bursa Asia merosot hampir 2% pagi ini

A woman walks past stock quotation board outside a brokerage in Tokyo, Japan, September 9, 2016. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

PT Bestprofit Futures | Bursa Asia merosot hampir 2% pagi ini

 

PT Bestprofit-Futures Pekanbaru – SIDNEY. Bursa Asia lesu pada perdagangan Senin pagi. Investor mengawasi kenaikan yield obligasi serta keseriusan bank sentral AS Federal Reserve yang mungkin menaikkan bunganya di awal pekan depan. Indeks MSCI Asia Pasifik kecuali Jepang turun 1,9%, menarik turun indeks dari posisi tertingginya dalam 13 bulan. Ini merupakan penurunan indeks Asia terbesar sejak akhir Juni lalu ketika Inggris meninggalkan Uni Eropa.

Indeks Shanghai merosot 1,5%, sedangkan bursa Australia turun 2%. Indeks Nikkei 225 di Jepang juga turun 1,5%, seiring dengan penguatan yen sebagai safe haven. Bursa Tokyo juga tertekan sementara obligasi 10 tahunnya menyentuh yield tertinggi sejak Maret. Yen tercatat diperdagangkan di 102,49 per dollar AS.

Pasar kini mengawasi tanda dari AS. Beberapa anggota The Fed dari kubu hawkish yakin ada peluang bunga naik pada pertemuan September, pekan depan. FOMC dijadwalkan digelar pada 20-21 September 2016.

Perdebatan tentang inflasi yang rendah, bunga rendah, versus upaya peningkatan ketenagakerjaan dan peningkatan nilai aset masih dibahas di AS,” tulis analis di ANZ. Namun, pilihan yang diambil The Fed September ini, dia harap bisa menenangkan volatilitas pasar.

Pasar saham di Asia tertekan setelah Wall Street berakhir mixed dan harga minyak dunia anjlok. Sekadar mengingatkan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,18% menjadi 18.034,77. Sedangkan indeks S&P 500 turun 0,06% menjadi 2.125,77 dan indeks Nasdaq naik 0,36% menjadi 5.173,77.

Sedangkan harga minyak turun menyusul data cadangan AS yang beragam. Data Energy Information Administration menunjukkan adanya kenaikan cadangan minyak yang sudah disuling sebesar 4,6 juta barel pada pekan yang berakhir 9 September. Sebaliknya, cadangan minyak mengalami penurunan sebesar 559.000 barel di saat market memprediksi adanya kenaikan cadangan sebesar 3,8 juta barel.

Selain itu, pasar juga mencemaskan mengenai ketidakpastian mengenai arah kebijakan bank sentral AS pada pertemuan yang akan dihelat pekan depan Pasar tengah mengalami tekanan. Volatilitas masih akan melingkupi pasar hingga akhir tahun menjelang pertemuan bank sentral global dan pelaksanaan pemilu presiden,” papar James Audiss, senior wealth manager Shaw and Partners Ltd yang berbasis di Sydney.

Comments are closed.