Napak tilas pasar modal Indonesia

Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PermataBank Global Markets, Jakarta, Selasa (29/3). Perdagangan IHSG pada Selasa (29/3) ditutup menguat sebesar 7,67 poin atau 0,16 persen menjadi 4.781,29 merespons pengumuman Paket Kebijakan Ekonomi jilid XI. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pd/16.

PT Bestprofit Futures | Napak tilas pasar modal Indonesia

PT Bestprofit Futures Pekanbaru – JAKARTA. Di usia yang ke-71 tahun, Indonesia sempat mengalami beberapa kali turbulensi ekonomi yang turut menggoyahkan pasar modal. Kini, pasar modal Indonesia menunjukkan daya tahan yang lebih kuat terhadap tekanan global. Suatu hal wajar, mengingat panjangnya sejarah pasar modal Indonesia. Kalau kita napak tilas, perusahaan pertama di dunia yang menerbitkan saham dan obligasi adalah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan Belanda di bidang perdagangan rempah-rempah asal Indonesia.

VOC berdiri tahun 1602 di Amsterdam, Belanda. Bersamaan lahirnya VOC, berdiri Bursa Efek Amsterdam, yang membuka kantor di Batavia tahun 1619. Sejarah pasar modal di Indonesia baru dimulai tahun 1912 dengan berdirinya Bursa Efek Batavia. Kala itu, beberapa jenis efek diperdagangkan di Batavia. Lalu berdiri bursa efek di Surabaya 11 Januari 1925 dan di Semarang pada 1 Agustus 1925.

Pasca kemerdekaan, pasar modal aktif pada 1 September 1951. Tapi tahun 1958 terhenti, karena kelesuan dan kemunduran perdagangan di bursa. Puncaknya, pengambilalihan semua perusahaan Belanda di Indonesia. Pasar modal Indonesia kembali aktif pada 10 Agustus 1977 dengan nama Bursa Efek Jakarta (BEJ). Emiten pertama yang melantai di bursa adalah PT Semen Cibinong (SMCB), kini PT Holcim Indonesia Tbk.

Satu dasawarsa berselang, hanya 24 emiten di bursa. Waktu itu kantor bursa terletak di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta. perdagangan berlangsung secara manual, menggunakan papan tulis, kapur dan kode tangan. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru meluncur pada 1983 dengan nilai indeks 100.

Tahun 1989, Bursa Efek Surabaya (BES) pun berdiri. Hingga tahun 1991, ada 115 emiten melantai di bursa. BEJ mulai beralih ke perdagangan elektronik Jakarta Automated Trading System (JATS) pada 3 Oktober 1995. Bersamaan dengan pindahnya gedung bursa ke Jalan Sudirman, Jakarta.

Pada 30 November 2007, BES bergabung ke BEJ menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Peleburan kedua bursa ini membuat pasar lebih efisien dan bisa bersaing di tingkat global. Namun, krisis ekonomi Amerika Serikat di tahun 2008 meruntuhkan IHSG. BEI berupaya memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan emiten. Kini di BEI nongkrong 531 emiten, dengan 10 emiten baru di tahun ini. Tito Sulistio, Direktur Utama BEI, yakin, sampai akhir tahun ini, ada 35 emiten baru meramaikan pasar modal.

 

Sumber : http://investasi.kontan.co.id/news/mencari-kemerdekaan-di-pasar-modal

Comments are closed.