Sektor energi, bikin Wall Street tak enak badan

PT Bestprofit Futures | Sektor energi bikin Wall Street tak enak badan

 

PT Bestprofit-Futures Pekanbaru – NEW YORK. Pada transaksi Rabu, mayoritas bursa AS ditutup di zona merah. Mengutip data yang dihimpun CNBC, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,18% menjadi 18.034,77. Saham American Express mengalami penurunan terbesar. Sedangkan saham Apple menghuni posisi top gainers.

Indeks S&P 500 turun 0,06% menjadi 2.125,77. Sektor energi mengalami tekanan paling besar di antara tujuh sektor lainnya. Sedangkan sektor teknologi informasi menjadi satu-satunya sektor yang naik. Adapun indeks Nasdaq berhasil naik 0,36% menjadi 5.173,77. Volume transaksi perdagangan tadi malam melibatkan 890,21 juta saham. Sedangkan volume transaksi indeks gabungan mencapai 3,562 miliar pada penutupan transaksi.

Bursa AS tertekan oleh penurunan sektor energi, setelah harga minyak dunia mencatatkan penurunan tajam di tengah bullishnya data cadangan minyak. Saya rasa saat ini market berupaya mempertanyakan sebuah pertanyaan besar. Bukan, ini bukan karena The Fed. Pertanyaan besarnya adalah: apakah perekonomian semakin membaik? Kita tidak tahu jawabannya,” jelas Kim Forrest, senior equity analyst Fort Pitt Capital.

Leslie Thompson, managing principal Spectrum Management Group menambahkan, pasar tidak menyukai ketidakpastian di level mana pun. “Saya memprediksi, market akan sulit bergerak naik dalam jangka pendek melawan tekanan yang ada saat ini,” paparnya.

Sekadar tambahan informasi, data Energy Information Administration menunjukkan, cadangan minyak AS turun 600.000 barel pada pekan lalu. Kondisi ini sempat mendorong harga minyak ke teritori positif. Namun, harga minyak kembali tertekan di mana harga minyak WTI ditutup dengan penurunan 2,94% menjadi US$ 43,58 per barel.

Kondisi berbeda terlihat pada pergerakan bursa emerging. Mengutip data Bloomberg, pada pukul 11.54 waktu Hong Kong, indeks MSCI Emerging Market turun 0,1% menjadi 884,04. Dalam lima hari terakhir, indeks saham negara berkembang ini sudah merosot 4,7%.

Menurut Rafael Palma Gil, portfolio manager Rizal Commercial Banking Corp di Manila, saat ini, mata investor masih tertuju pada pertemuan The Federal Reserve yang akan berlangsung pekan depan. “Itu sebabnya, mereka lebih hati-hati melangkah,” jelas Gil. Dengan mempertimbangkan bursa emerging sudah reli tajam dalam tiga bulan terakhir dan adanya ketidakpastian mengenai suku bunga AS, saat ini Kondisi serupa juga terjadi pada posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), Tekanan eksterna

Comments are closed.